Catatan Mas AAS

Memoar Sore!

Reporter : -
Memoar Sore!
Mas AAS

"Waktu adalah modal utama. Maka berbahagialah bagi siapapun yang pandai mengatur dan memanfaatkan waktu!"

Rancangan agung senantiasa menyertai manusia. Siap pun dirinya. Begitu kontrak hidup purba yang diterima oleh seseorang dariNya.

Baca Juga: Momong Kahanan!

Tak jarang, kegemilangan itu bisa diraih. Tatkala seseorang lulus menjalani serangkaian aral dan ujian di hidupnya.

Ibarat anak kuliah yang tiap semester menjalani UTS lalu selanjutnya UAS. Dan di akhir periode kuliahnya. Ia harus jalani ujian kembali, pertahankan skripsi, tesis, dan disertasi di hadapan sidang penguji yang mulia. Lalu layang menyandang sebuah gelar: Sarjana, Magister, juga Doktor.

Pada saat yang demikian, manusia itu akan tengadah kan tangan ke atas. Memohon kepadaNya agar si pundak yang kadang terasa lemah itu dikuatkan. Untuk merampungkan semua etape ujian dalam kehidupan tersebut. Tanpa terkecuali setiap insan yang masih bernafas di dunia ini setidaknya akan terus alami siklus hidup yang demikian.

Sore ini, di dalam bus yang membawa penulis ke kampus di ITB Yadika Pasuruan. Melihat dari jendela bus, pepohonan nan hijau di sekeliling kanan dan kiri perjalanan, dan atap langit yang sedikit mendung, so sweet sekali view nya.

Baca Juga: Merah Putih Negeri ku

Sepertinya cuaca seharian ini di Surabaya benar-benar menular hingga ke kota yang lain, Pasuruan. Benar-benar sedang meninabobokan para penghuninya. Memang terasa nyaman bila menjadi kaum rebahan di rumah saja. Namun pakaryan telah menanti di depan untuk ditunaikan: rapat pimpinan di kampus persiapan wisuda mahasiswa.

Tidak saja si mahasiswa ITB yang segera ingin di wisuda lalu melanjutkan kehidupan nya kembali di dunia yang nyata. Penulis pun sambil bekerja juga sedang menantikan datangnya momen di wisuda tersebut, wisuda doktoral di Pascasarjana FEB UB MALANG. Sebagai tanda telah mengenyam mangan bangku sekolahan yang keras sekali, upps!

Sembari disisakan sebuah pertanyaan besar dari dalam batin ini. "Andi, lalu gelar Dr. mau digunakan untuk apa?" Sepertinya dahulu niatan sekolah yang tinggi itu untuk membahagiakan kedua orang tua, namun saat keduanya telah kondur kepadaNya, sore ini penulis jadi teringat kembali wajah keduanya. Alfatihah. "Mau digunakan sebagai bekal untuk berbuat sesuatu kepada semesta, "itu jawaban lirih dalam diri ini!"

Baca Juga: Jalani Saja, Klangenan Hidup Yang Disenangi

Ya, kadang menulis itu memanglah tak butuh banyak syarat. Selagi pikiran ada percikan sebuah ide, akibat melihat cuaca yang begitu so sweet di tengah perjalanan. Maka jemari itu hanya menjalankan perintah sang otak saja, menulis saja. Ia sekadar menulis saja, tak harap lainnya.

Selamat sore teruntuk Anda semuanya...


AAS, 03 Januari 2024
Dalam Bus Otw Sby-Pasuruan

Editor : Yuris P Hidayat