Catatan Mas AAS

Cerita Pengabdian Sesama Pejalan Di Semesta

Reporter : -
Cerita Pengabdian Sesama Pejalan Di Semesta
Mas AAS

Seharian kemarin di kampus perjuangan UB. Terlibat dengan beragam aktivitas: menghampiri acara UAD (ujian akhir disertasi), kegiatan sempro (seminar proposal disertasi) kolega dan tak lupa adalah silaturahmi dengan beberapa sahabat.

Sesama sebagai pejalan yaitu sebagai pendidik di institusi pendidikan!

Baca Juga: Hasrat Menulis Sesuatu

Dari aktivitas ini, perilaku lawas kita up kembali ke permukaan: silang-saling ide dalam kegiatan "silaturahmi intelektual" berupa diskusi memperkuat bangunan fondasi sebuah kontribusi diri ke depannya sebagai mahkluk-Nya di semesta ini.

Tak ayal tema-tema pengabdian terhadap: kemanusiaan dan ketuhanan. Menjadi konsen obrolan penulis dengan kawan seperjuangan si penggagas lahirnya Kampung Cempluk kawan Redy, sinambi guyon maton parikeno. Yang jelas sambil menikmati secangkir kopi beserta kudapan tahu juga pisang di UB Coffee.

Pelan-pelan dengan agile begitu lincah: kami berdua, penulis bersama kolega menggali dan memanggil ulang experience kerja-kerja riil yang sudah kita lakukan sebelumnya untuk sebuah komunitas.
Kawan Redy dengan Kampung Cempluk nya, dan penulis sedikit membicarakan tentang capture sebuah markas besar penulis di Surabaya, yaitu Taman Bungkul.

Portofolio diri kita ulik masing-masing. Sebagai sebuah media untuk kita rawat kegiatan dan kemajuannya di masa depan! Karena hidup yang kita amini bersama adalah sebongkah perjalanan diri yang tidak kebetulan. Ia hadir dan kita jalani seakan-akan sudah auto saja sifatnya.

Disaat mengulik beragam tanaman berupa aktivitas hidup masing-masing. Dan di tandur kepada semesta. Dari diskusi semacam inilah: muncul sebuah greget untuk terus membuat karya, mau belajar, dan semua berbasis dengan passion serta kompetensi diri.

Kami berdua, penulis bersama kolega dalam diskusi yang cukup panjang. Semacam berhipotesis: bahwa sebuah kontribusi dan karya diri tidak semestinya dibatasi oleh hijab diri sendiri berupa kemalasan, kemelekatan akan imbal balik, dan terlalu risau akan ekspektasi yang diharapkan agar diberikan oleh audiensnya.

Berbuat saja, berkarya saja, menulis saja, genjrang-genjreng saja, tak lupa sambil ditemani olah vokal diri sing a song mas bro. Dan tunggulah keajaiban hidup itu akan terjadi dan menghampiri.

"Awakmu kan wis entuk ajaib nya URIP iku kan Bro?" Opo arep mbok selak i, upps ujar penulis kepada kolega!

Baca Juga: Tinggal Bermanifest Saja

Dan kami berdua pun tertawa ngakak sembari menikmati angin semilir yang terasa mulai dingin menerpa tubuh penulis, sore kemarin!

Nah, pada sisi keajaiban hidup ini: kami berdua, penulis bersama kolega mengamini premis di atas.

Artinya baju kehidupan seorang pendidik, atau yang bertekun dalam dunia belajar dan mengajar adalah: "belajar, praktek, sharing" tak boleh kita tanggalkan meski sejenak.

Karena baju itu selain sebagai sebuah penanda berupa seragam dari sebuah profesi. Ia juga adalah ruh sebagai seorang pendidik.

Itulah sedikit sebuah perspektif, yang kemarin saat di UB penulis dapati. Dari kegiatan diskusi informal yang dilakukan.

Baca Juga: Belajar Manajemen Dari Semut Hitam

Kini penulis kembali ke barak guna menyusun serangkaian kegiatan yang mesti dilakukan. Agar kerja-kerja kemanusian dan ketuhanan silih berganti an dapat ditunaikan.

"Bukankah hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan!" Demikian kata-kata Sutan Sjahrir...


AAS, 5 Januari 2024
Kota Pahlawan Surabaya

Editor : Yuris P Hidayat