Catatan Mas AAS

Jadikan Setiap orang Guru, Jadikan Setiap Rumah Sekolah!

Reporter : -
Jadikan Setiap orang Guru, Jadikan Setiap Rumah Sekolah!
Mas AAS setelah diskusi

Terharu. Kata pertama perlu penulis pahat malam ini.

Kenapa demikian? Semuanya bermula dari sebuah tarikan, saat penulis membaca undangan diskusi yang diadakan oleh Pengurus MW KAHMI JATIM.

Baca Juga: Momong Kahanan!

Dengan tema "Tinjauan Kritis Perguruan Tinggi Dalam Membangun Generasi Emas Indonesia". Lalu seketika penulis membaca siapa pembicaranya. (1) Prof. Dr. Arif Satria, SP., M.Si (Rektor IPB University), (2) Prof. Dr. Phil. Al-Makin (Rektor UIN Sunan Kalijaga Jogja).

Temanya rada berat juga, pikiran awal penulis. Namun saat melihat pembahas dan pemantik diskusinya. Seketika agenda penulis, untuk tadi sore di kampus, langsung penulis re-schedule.

Menemui, berbincang, lalu menyimak bagaimana materi disampaikan, dikupas, lalu keduanya menjelaskan persepektif nya. Adalah spontan harus disampaikan oleh penulis. "Tidak rugi, untuk mengagendakan ulang acara dalam urusan privat sebelumnya!"

Peta tentang seputar dunia kampus dibukakan dengan begitu detil. Bagaimana posisi dosen di masa depan sudah harus memiliki banyak wajah. Tidak sekadar datang ke kampus: mengajar, meneliti, lalu mengabdi. Ia harus beyond juga kudu bisa menjadi inspirator, motivator, bahkan mentor, penunjuk arah bagi para anak didiknya, yaitu mahasiswa. Dosen dalam landscape di masa depan, ia menjadi semacam partner bagi anak didiknya untuk bisa terbang setinggi-tingginya. Kata siapa itu semua, adalah sepenggal pembukaan awal diskusi yang disampaikan oleh Rektor IPB, Prof Arif Satria. Itu poin utama yang disampaikan beliau selaras dengan tema materi. Namun demikian, obrolan pun meluas, tidak sekadar urusan kampus, juga menyoal urusan organisasi, karena beliau memang alumni HMI, kini menjadi seorang KAHMI. Juga tak kalah asyik diskusi pasti akan lari kepada fenomena terkini, urusan Pilpres dan arus besar yang mengemuka menjadi obrolan di ruang publik. Dan semua dibahas dengan pisau analisis sebuah pengetahuan dan sarat scientific.

Waktu yang diberikan oleh moderator yaitu Dr. Mufid, sepertinya tidak mencukupi dan terasa kurang saat diberikan kepada pemateri pertama. Namun moderator yang bertugas malam ini cukup pintar juga dalam meng-handling jalanya diskusi. Lalu pemateri kedua yaitu Prof Makin, Rektor UIN Jogja, mendapatkan panggungnya kemudian.

Dengan pemateri kedua yaitu Prof Makin, penulis auto langsung involved dan engage karena sempat menjemput beliau dari Grahadi Gubernur Jatim, dalam acara Forum Rektor Indonesia. Meski acara boleh dikatakan belum selesai, karena organisasi memanggil dan membutuhkan beliau. Tidak ada kata tidak, langsung seketika bersedia dan berangkat ke kantor Graha MW KAHMI JATIM. Silaturahmi, dan mengenang kembali bisa jadi darimana beliau dibesarkan sebelumnya. Itu sekilas prolog penulis perihal Prof Makin.

Baca Juga: Merah Putih Negeri ku

Nah, patut diacungi jempol dua. Rektor UIN Jogja, sangat pandai memecah ketabuan yang selama ini hadir dalam kepala manusia Indonesia pada umumnya, dan khususnya para pengurus KAHMI yang hadir menyimak acara diskusi tadi. "Program pertama saya, saat menjadi Rektor UIN Jogja adalah memberi gelar Doktor Honoris Causa seorang Paus, pemimpin Umat Katolik!" Tidak salah informasi yang penulis dapatkan selama ini, tentang Rektor nyentrik ini. Pemantik awal dalam diskusi sudah menegaskan cara berpikir beliau yang anti mainstream. Boleh juga dan pastinya menarik, pemateri kedua di acara diskusi tadi.

Celetukan-celetukan genit dari Prof Makin, tidak hanya satu, namun begitu banyak, sayang tidak penulis tulis, hanya di tulis di kepala saja. "Saya itu tak pernah berpikir menjadi Rektor saya hanya bekerja dan bersenang-senang dan menyenangi kegiatan saya selama ini saja," tegasnya. Ia pemahat ulung alias penulis faktanya. Ia banyak bepergian berkeliling Indonesia, memuaskan dahaga menulisnya lewat kegiatan penelitian dengan pendekatan kualitatif seturut passion beliau. Hingga tibalah pada suatu saat, saat ada loker lowongan kerja sebagai Rektor, disuruh lah oleh teman-temannya daftar, lalu mestakung terjadi. Jadilah beliau Rektor, sesederhana itu, iya sesederhana itu, dan teman-teman perlu ketahui, saya tak ada pikiran soal jabatan itu. Dari cara penyampaian materi dan gaya bicara beliau yang apa adanya serta otentik, batin penulis pun merasa atmosfer yang berbeda dari putra asli Bojonegoro ini.

Tentu saja persolan perguruan tinggi plus dosen sudah dibahas secara terperinci oleh Prof Arif Satria. Prof Makin, dengan tongkrongannya yang easy going orangnya, mampu memilih celah yang tak pernah peserta diskusi duga. "Bagaimana pun carut marut yang akan terjadi di negeri ini, HMI juga KAHMI meski bertanggung jawab, tidak colong playu, upps!"

Peserta diskusi sepertinya langsung terbuka kedua matanya," kenapa bisa begitu ya?"

Baca Juga: Jalani Saja, Klangenan Hidup Yang Disenangi

Dan prolog hanya dilakukan secara singkat oleh Prof Makin, kesempatan lebih banyak justeru akan diberikan pada momen diskusi. Dan sudah ada beberapa yang ngacung untuk bertanya, meski belum dimulai oleh moderator. Dan itu salah satu karakter anak-anak HMI, sepertinya hehehe. Dan semua pertanyaan dijawab dengan jelas, tuntas, dan memuaskan dahaga akan pengetahuan dan spirit oleh kedua alumni kebanggan HMI tersebut, baik Prof Arif Satria dan Prof Makin. Dan audiens lah yang malam tadi sepertinya tersulut untuk menjadi kader terbaik dari organisasi ini, bisa berdampak kepada banyak insan di dunia ini, begitu!

Sepertinya kedua mata penulis juga sudah tak bisa diajak kerjasama lagi buat menulis. Keluar dari kantor MW KAHMI tepat pukul 11 malam tadi, dan mampir ke warung kopi sejenak, untuk memahat huruf, atas tangkapan kepala juga pikiran, selama berlangsung diskusi tadi. Tak ditulis secepatnya, justeru penulis tidak akan bisa berangkat tidur istirahat malam.

Tulisan ini akan penulis tutup, dengan satu klu yang tadi disampaikan oleh Prof Arif Satria, Rektor IPB. "Mencapai posisi top leader adalah perihal kemampuan, namun mempertahankan posisi puncak dan akan terus dipakai adalah persoalan karakter, oleh karena itu, wajib untuk terus menjadi manusia pembelajar!"


AAS, 16 Januari 2024
Warkop Rungkut Surabaya

Editor : Nasirudin