Catatan Mas AAS

Jalan Terjal Menjadi Pemimpin!

Reporter : -
Jalan Terjal Menjadi Pemimpin!
Kursi kereta Mas AAS

Malam ini masih di sekitaran kampus ITB YADIKA PASURUAN. Namanya saja sebuah lembaga pendidikan, praktis relasi yang dibangun oleh penulis tentu saja kepada kolega sesama sebagai pendidik di kampus tercinta.

Dan topik pembicaraan yang terjadi: selain urusan Tri Darma Perguruan Tinggi, tentu menyoal fenomena sosial yang terjadi di ruang publik, dalam konteks hari ini adalah Pilpres.

Baca Juga: Hasrat Menulis Sesuatu

Akan tetapi pembicaraan tersebut, tidak kita tarik kepersoalan dukung mendukung. Karena sadar hal itu tidak menarik, dan akan menjadi kontra produktif, kalau sudah pakai hati, apalagi menjadi die hard salah satu Paslon. Institusi kampus bisa tidak kondusif kegiatan belajar mengajarnya. Dan penulis sepakat soal tersebut.

Lalu dilarikan ke mana diskusinya? Dalam kasus yang barusan saja terjadi antara penulis dengan sohib sesama sebagai seorang pendidik di sini, kita malah konsen membicarakan pada level value. Apa dan bagaimana yang harus di siapkan oleh diri sendiri saat menjadi seorang pemimpin tersebut: baik dalam level lokal, regional, bahkan nasional!

Sebentar, tadi obrolan terjadi antara penulis bersama kolega, di warung kopi depan Stasiun Bangil Pasuruan. Namun saat tulisan ini dibuat terjadi di dalam kereta, jadi irama dan tekanan yang terjadi saat kereta berjalan di rel cukup membuat susah juga jemari ini menulis di hape, goyang terus soalnya, upps!

Kembali perihal mengenai value. Karena kami berdua sama-sama mengajar mata kuliah dalam prodi yang sama. Saya mengajar kepemimpinan dan kolega mengajar perilaku organisasi. Kedua Mata Kuliah ini menjadi pisau analisis untuk digunakan sebagai alat menganalisis fenomena yang kita unggah dalam diskusi tadi.

Jamak lumrah nya, setiap orang yang menjadi atau ingin menjadi pemimpin kudu paham karakter, perilaku orang-orang dalam sebuah organisasi. Ini poin utama yang menjadi awal obrolan perihal topik jalan terjal menjadi pemimpin sama dalam judul tulisan di atas. Lupakan knowledge dan Anda lulusan darimana: dalam atau luar negeri. Terus gelar akademik Anda apa: sarjana, magister, doktor, bahkan profesor sekalipun. Anggota organisasi akan menilai kepemimpinan Anda bukan dari aksesoris itu, namun dari kapasitas Anda mampu: meng orang kan manusia di dalam organisasi, kesediaan Anda untuk melayani bukan malah minta dilayani anggota organisasi, dalam level lebih jauh, Anda mampu mengambil peran keberhasilan organisasi itu adalah kredit anggota organisasi, bukan poin Anda! Nah tiga keyword tadi rada cukup menjadi obrolan panjang antara penulis dan kolega, saat berdiskusi di warung kopi sembari menunggu jam datang nya kereta, yang bawa penulis dari Pasuruan ke Surabaya.

Karena ketiga keyword di atas, acap kali tidak secara auto diperoleh karena pendidikan formal yang dilakukan. Itu justeru ia peroleh pada sekolah kehidupan orang atau calon pemimpin tersebut. Pendidikan formal cukup menjadi tools menjelaskan konsep serta artikulasi nya agar bisa dengan mudah dipahami oleh audiens, dalam hal ini anggota organisasi, atau kalau itu capres adalah rakyat di negeri tercinta ini.

Mari sejenak, kita mencoba fair play apakah frase perihal value kepemimpinan tadi, nyata adanya. Benar-benar yang dibutuhkan oleh anggota organisasi. Kalaulah benar, tak perlu pusing, kita menjual diri dengan beragam casing yang coba kita gunakan. Di lapangan, perilaku kepemimpinan yang bertopeng atau menggunakan casing akan tertolak, dalam bahasa sederhana, topeng atau casing ini: Anda sebagai pemimpin rada JAIM jaga image dan tidak otentik, ya mana bisa anggota organisasi atau rakyat pemilih akan menerima atau memilih Anda!

"Tak rasak-rasake kok awakmu pinter jek, bengi Iki, benar-benar dosen beneran ini," tegas penulis!

"Dosen darimana dahulu?"

Baca Juga: Tinggal Bermanifest Saja

"Emang dosen mana ente?"

"ITB YADIKA PASURUAN!"

Sepertinya Anda layak diundang menjadi panelis dalam debat presiden mendatang, gurau penulis kembali kepada kolega.

Boleh dikatakan diskusi serta didokumentasikan dalam bentuk tulisan. Pemikiran yang kami berdua tadi lakukan, adalah semata-mata kecintaan kami berdua terhadap negeri NUSANTARA ini. Kami menjadi kepikiran sangat, apa kontribusi yang bisa kami kerjakan untuk negeri yang tercinta, dengan peran kami sebagai pendidik.

Akhirnya penulis menjadi ingat akan sebuah quote: "Dahulu saat kami menjadi manusia pintar kami akan selesaikan urusan bangsa dan negeri kami, namun saat waktu itu berjalan dan mengajari kami sedikit memiliki kebijaksanaan, kami hanya akan fokus untuk memperbaiki diri ini secara terus menerus saban harinya, kiranya dengan kesadaran yang demikian membawa dampak pada profesi kami berdua sebagai pendidik!"

"Ketoke wis jam e jek, jam songo kurang seprapat, aku mlebu stasiun yo? Jam 9 sepur teko!"

Baca Juga: Belajar Manajemen Dari Semut Hitam

"Ok bro, aku yo kudu mulih Sidoarjo!"

"Selamat malam kawan Oemar Bakri tanpa tanda jasa, jangan lupa spirit menjadi pemimpin terus diasah ditancapkan dalam benak ya!"

Hanya gelak dan tawa mengakhiri obrolan kami berdua malam ini, dan selanjutnya dengan semangat kami berdua pulang ke istana masing-masing!

Dan sepertinya, jalan untuk menjadi pemimpin itu benar-benar terjal tidak langsam mulus-mulus saja! Apalagi menjadi pemimpin RI.


AAS, 16 Januari 2024
Gerbong kereta api SUPAS

Editor : Nasirudin