Catatan Mas AAS

Insight Morning! Diempet Ora Tahan, Didiamkan Batin Pun Berteriak

Reporter : -
Insight Morning! Diempet Ora Tahan, Didiamkan Batin Pun Berteriak
Mas AAS

Insight Morning!


Di empet ora tahan. Didiamkan batin pun berteriak.

Baca Juga: Momong Kahanan!

Semua anak bangsa di negeri ini bergeliat ingin berbakti lalu berkontribusi. Kadang berharap upeti sedikit untuk bisa berbakti. Kepada orang tua, saudara, kerabat yang telah mencintai!

Diawali dari situ, batin yang memberontak lalu di rupa kan dalam sebuah aksara, dalam sepenggal tulisan ini!

Sepertinya sedari semalam hingga pagi ini. Sontak semua warga di negeri ini. Mengalami, tanda tanya besar. Mereka seakan bertanya perihal debat Cawapres? Lalu ingin tumpah kan semua salah, semua beban, semua keburukan pada satu generasi saja.

Kadang penyakit megalomania selalu menghampiri setiap manusia. Saat menemukan momentum nya. Semisal sedang di atas angin untuk memukul, punya otoritas untuk menilai, menyalahkan. Meski prosentase nya tentu saja beragam, seturut DNA nya.

"Kenapa aku dimarahi, generasi ku di salah-salahkan, meskinya dirimu, generasi mu kan yang harus introspeksi. Tidak memberi teladan kepada kami. Kenapa bisa semua ini terjadi?" Celetukan yang disampaikan oleh anggota keluarga di rumah besar ini, Indonesia!

Siapa yang pas untuk disalahkan? Harus melihat wajah siapa. Rada susah dicari. Semua melipir tidak berani pasang badan, atau mau mengakui. Karena semua wajah dan semua generasi seakan sedang terkena oleh lumpur yang sama. Kebingungan mencari alat pembersih yang berkualitas. Teruji, terbukti, membersihkan setumpuk kotoran yang melekat pada tubuh bangsa ini!

Mereka lupa, bahwa sudah menahun penyakit akut menempel, berbiak, dalam seluruh sendi dalam tubuh di negeri ini.

Berharap kepada siapa, yang merasa benar, yang dianggap tidak benar. Semacam sudah ada kehampaan dis-trust yang sedemikian sangat.

Baca Juga: Merah Putih Negeri ku

Dan sejarah, menjelaskan dengan presisi. Bahwa sebuah state yang besar, makmur, dan mampu berkontribusi pada perbaikan di bumi ini, itu bukan kerja semalam, bukan kerja kerumunan, ia adalah hasil sebuah teladan yang berkelanjutan, sebuah kebulatan tekad. Dari sebuah visi bangsa.

Laku tirakat para pemimpin nya diuji dilaksanakan di sini.

Sing ono iku dudu. Tapi fakta sesuatu itu memang telah terjadi. Semua entitas dari negeri ini, seakan bergeming serentak. Jangankan kaum sudra level satria, juga brahmana. Sejak semalam hingga pagi ini, merasa tertonjok, tak ingin menunjuk jari ke muka pelaku.

Karena tidak ada yang menjamin, saat telunjuk jari dengan pongah menunjuk seseorang. Ke empat jari, tidak akan menunjuk mukanya sendiri.

Pagi yang sumringah dipaksa dan terpaksa terus memamah energi negatif. Yang akan membuka borok sakit di tubuh negeri ini semakin menganga!

Baca Juga: Jalani Saja, Klangenan Hidup Yang Disenangi

Aku harus seruput dahulu kopi pahit pada pagi ini, agar pikiran ini tetap wening!

Penulis masih sangat percaya. Bahwa negeri tercinta masih bisa terbang meraih visinya.

Memang para martir tak biasa duduk di depan dan mendapat sebongkah berlian, juga kemegahan, dan tepukan.

Namun, ia akan terus bergerak maju, menjaga Marwah negeri tetap bersinar!????????????????


AAS, 22 Januari 2024
Terminal Bungurasih Surabaya

Editor : Yuris P Hidayat