Catatan Mas AAS

Refleksi Pagi

Reporter : -
Refleksi Pagi
Mas AAS

Para pendiri bangsa ini umumnya telah mewariskan tradisi intelektualisme dan moral altruistik. Dalam jantung ideologi nasionalisme kepada negeri ini!

Kumpulan tulisan mereka, pidato-pidato, surat-surat pribadi dan surat resmi. Telah banyak dibukukan. Merupakan khazanah bangsa yang tak ternilai harganya.

Baca Juga: Momong Kahanan!

Kehidupan sehari-hari pada sosok pendiri bangsa itu berhenti hanya menjadi sebuah legenda. Di tengah kehidupan generasi millenial sekarang, yang lekat dengan pola pikir hedonis dan materialistis.

Lalu pertanyaan besarnya? Generasi yang dibesarkan dalam budaya hedonis dan materialistis yang sedemikian akut nya ini. Akan bisa membuat legacy macam apa nantinya?

"Jamane wis bedo. Biyen-biyen. Saiki-saiki!"

Berat untuk berpikir kepada liyan disaat begitu fokus hanya berpikir untuk dirinya sendiri.

Nama-nama besar semacam: Hos Cokroaminoto, Haji Agus Salim, Supomo, Muhamad Yamin, Syahrir, bisa jadi sudah tidak tergapai dalam ingatkan para anak-anak muda di negeri ini. Ingatnya mungkin hanya kepada Sukarno, Hatta, dan itupun karena terpaksa mendengar dari guru sejarahnya. Saat sekolah di pendidikan menengah pertama, juga menengah atas!

Keduanya adalah Presiden dan Wakil Presiden pertama dari Republik ini!

Boleh jadi jaman yang telah melahirkan tokoh-tokoh besar macam di atas. Jaman penjajahan dan hasrat ingin memiliki sebuah negeri yang merdeka: berdiri di atas kaki sendiri, bukan di atas seruan dan keinginan penjajah. Apakah menjadi penyebab lahirnya sosok-sosok par excellent tersebut? Bisa jadi!

Mereka, para founding fathers tersebut menjadi manusia yang utuh: pemikir, penulis, dan pelaksana semua keyakinan yang dimilikinya.

Bisa jadi pemikiran penulis di atas, sekadar sebuah kekhawatiran yang belum tentu terjadi.

Baca Juga: Merah Putih Negeri ku

Karena setiap jaman selalu ada bulir-bulir padi yang berisi. Manusia otentik yang dididik oleh semesta. Dan generasi itu siap menjadi suluh penerang bagi kegelapan yang melanda negerinya.

Refleksi pagi ini terjadi pada diri penulis. Setelah membaca, mendengar, dan melihat pemikiran-pemikiran para founding fathers di negeri ini.

Bahwa negeri ini adalah sebuah kisah besar. Yang senantiasa dituturkan dalam cerita gepok tular bahkan narasi folklore tentang kisah-kisah hebat para pendahulunya.

Sayang seribu sayang. Kadang ada ketidak-beranian bahkan sikap melupakan kepada para leluhur bangsa. Karena begitu merasa kecil dan kerdil dengan leluhur dari manca. Yang menghampiri para generasi di abad modern sekarang.

Sepertinya ada pola dan perilaku yang sama. Di antara pera founding fathers tersebut, meski latar sosial dan ideologinya acap berbeda: mereka Ingin berkontribusi kepada negeri tanpa sedikitpun berpikir untuk melakukan abuse of power dari otoritas yang dimilikinya.

Baca Juga: Jalani Saja, Klangenan Hidup Yang Disenangi

Siapa yang akan membangun dan mengisi pernak-pernik kehidupan di negeri ini. Untuk bisa berkembang, melesat, menjadi negara yang maju kalau bukan generasi otentik dari negeri ini.

Masak suruh warga dari negeri tetangga sebelah. Untuk membangun negeri tercinta. Sepertinya tujuan itu mustahil menjadi kenyataan. Kalaulah terjadi demikian.

Hari ini waktunya bekerja bersama-sama. Bukan saling tunjuk jari, dirimu, dirinya, yang tidak becus kerja. Begitu!

Jangan buat yunior kita menjadi generasi trauma di masa depan kehidupannya nanti. Karena melihat kerapuhan, serta kelemahan generasi sebelumnya yang diumbar di ruang publik!


AAS, 29 Januari 2024
Taman Bungkul Surabaya

Editor : Nasirudin