Catatan Mas AAS

Rahasia Kecil Dalam Menulis

Reporter : -
Rahasia Kecil Dalam Menulis
Mas AAS

Segala hal terjadi untuk sebuah alasan!

Kemarin sedang hadir di UB. Bertemu kolega. Lalu kami berdua berbincang.

Baca Juga: Hasrat Menulis Sesuatu

Perihal "rahasia kecil menulis artikel". Karena kami berdua sudah pada level kecanduan dalam: membuat, menata, dan bagaimana kami berdua bertutur dengan begitu senangnya saat menulis!

Kolega ini sudah pada level ahli, ketika memahat sebuah huruf dengan tulisan yang dibuatnya dan begitu mudahnya diterima pada jurnal berkualitas top tier yang terindeks di Scopus.

Sedang pada penulis masih berputar di sekitaran berbagi tulisan di WhatsApp grup dan portal media lokal.

Ternyata dalam obrolan kami berdua yang cukup lama. Ada sebuah perilaku yang mirip, yang sama-sama kami berdua kerjakan dengan konten tulisan yang dibuat, dan bagaimana cara membuat tulisannya.

Pertama perihal membaca. Kedua tentang apa yang harus dilakukan dengan bacaan yang kita temukan tersebut.

Kolega sudah rutin dan terbangun sebuah sikap yang begitu kokoh: setiap hari ia membaca minimal satu artikel yang berasal dari manuskrip katagori kuartil satu di jurnal-jurnal top rangking, macam: Francis Taylor jurnal, Science Direct, Emerald, dan artikel jurnal sejenis.

Sedang kan penulis masih senang membaca dan mengamati fenomena keseharian yang tengah terjadi lengkap dengan perilakunya: baik di dunia maya juga di realitas kehidupan sehari-hari.

Dari perilaku yang hampir sama tersebut kami berdua lalu memahat huruf, menulis. Tentu menulis dengan hati juga dengan data yang bisa kita temukan, sambil kami berdua membuat sebuah sintesa tentang yang telah kami baca, dibuat menjadi tulisan kembali ala kami berdua.

Kedua, kami berdua masih bersepakat bahwa cara konvensional di awal-awal menulis menjadi cara yang jitu untuk membangun sebuah keahlian menulis.

Apa itu? Membuat sebuah parafrase. Karena kemampuan menulis ulang ini sebagai sebuah implementasi tentang sebuah cara yaitu: practice makes perfect yang sama-sama kami berdua akui keampuhannya.

Tinggalkan sejenak mesin pembantu macam AI (artificial intelligence), karena AI kayaknya mesin kalkulator pasti sangat berguna, namun di awal belajar hitungan di matematika harus kita kerjakan secara manual.

Pada akhirnya kita akan butuh mesin cerdas itu yang bisa memudahkan kita dalam bekerja.

Bekerja secara manual dalam menulis dalam hal ini berlatih membuat parafrase. Dimaksudkan agar imun dalam menulis tulisan yang berkualitas benar-benar kami dapatkan saat menulis di keyboard pada laptop dan di keypad HP kalau untuk penulis.

Dengan menggunakan cara lawas yaitu membuat parafrase yang terlatih. Menulis ulang dengan pikiran sendiri hasil dari me-review manuskrip di jurnal terindeks Scopus atau dalam kasus penulis mendokumentasikan ulang peristiwa sehari-hari dalam sebuah tulisan yang baru.

Adalah cara efektif membuat keterampilan menulis terus terjaga kualitasnya. Dan yang penting, ungkapan quote lawas: "tresno jalaran soko kulino" benar-benar bertuah. Kulino moco manuskrip berkualitas, tulisan yang kita buat pun semakin berkualitas.

Baca Juga: Tinggal Bermanifest Saja

Memunculkan rasa sayang lalu jatuh cinta sepenuh hati itu, kuncinya di parafrase. Rahasia itu yang sama-sama kami amini, keampuhannya. Dan jujur baru aku dapat dari kolega yang H-indeks nya sebagai penulis bikin aku melongo tersebut, hehehe!

Kolega sudah level ahli, sedangkan penulis lagi berjalan menuju ke level tersebut!

Sepertinya handicap yang penulis alami berkenaan memunculkan kegemaran menulis artikel dengan kualitas untuk diterima di jurnal-jurnal yang berkualitas bisa terobati.

Sepertinya harus segera dieksekusi: mempraktekkan kesimpulan dari ilmu yang di sampaikan oleh kawan penulis di UB kemarin.

Suka tidak suka. Mau tidak mau. Pekerjaan kami berdua sekarang core utamanya adalah menulis di profesi yang tengah kami jalani. Keterampilan menulis adalah sebagai salah satu cara untuk membuat dapur rumah tetap ngebul setiap harinya. Tanpa melakukan itu, mending cari kerja lainnya saja, GLODHAK!

Ya boleh jadi karena kolega ini pernah kuliah di luar negeri. Jadi sudah terbangun mindset yang kokoh karena biasa bergumul berkawan dengan para mahasiswa dunia dengan kualitas excellent.

Dan memang anaknya begitu tekun dalam belajar dan mengerjakan sesuatu. Tidak berlebihan bila kolega ini sudah taraf ahli dalam menulis paper dan manuskrip yang mampu diterima di jurnal yang bereputasi internasional.

Ada kabar menggembirakan, karena kolega yang tipikalnya introvert, sedikit bicara banyak kerja ini. Kemarin di tengah-tengah berbincang sambil canda tawa dan ngudud juga ngopi. Spontan berbicara kepada penulis, saat mampir di ruang kerjanya yang megah: "Mas Broto juga bisa kok, mendapatkan pengalaman seperti yang aku alami. Asal mau dan memulai saja!"

Dan GPL (gak pakai lama). Aku pun menjawabnya aamiin dengan akhiran N yang panjang sambil menunggu malaikat lewat agar mengamini doaku kemarin, upps!

Baca Juga: Belajar Manajemen Dari Semut Hitam

Seperti biasa, tulisan ini saya pahat. Khusus saya dedikasikan untuk kolega dari UB tersebut. Semoga dia membaca. Dan aku berdoa untuknya, agar di negeri tercinta ini, semakin banyak anak-anak muda dengan kualitas serta attitude diri macam kolega saya di atas.

Mau bekerja, mau belajar, dan mau berjuang dalam meraih cita-cita nya. Dan mestakung itu nyata, apabila kita mau, semuanya mampu kita hasilkan dan dapatkan.

Karena semesta ini bakalan melayani manusia yang bersungguh-sungguh dalam meraih apa yang ia mau dan harapkan bakalan terjadi. Asal mau membayar maharnya!

Tinggal mau tidak, dan just do it, sekali lagi itu kata kolega saya kemarin.

Sepertinya tidak ada yang kebetulan kalaulah kemarin. Tarikan dari semesta sedemikian kuatnya untuk penulis hadir di UB dan menemui kolega ini.

Ternyata wasilah bertemu dengan sahabat lama ini, penyakitku sembuh, handicap ku hilang, dalam memahat sebuah tulisan yang aku inginkan!

Alhamdulillah.


AAS, 7 February 2024
Warkop Karmen Surabaya

Editor : Redaksi