Catatan Mas AAS

Wis Sudah, Babak Baru Kehidupan Dimulai

Reporter : -
Wis Sudah, Babak Baru Kehidupan Dimulai
Mas AAS

Hari ini, Minggu 25/02/04. Adalah bukan hari yang biasa.

Setidaknya ingin melukis semarak pada pagi ini dengan menulis sesuatu tidak di warung kopi. Menganyam hurufnya di ruangan lebih keren. Saat sedang mengikuti proses wisuda di Gedung Samantha Krida UB Malang.

Baca Juga: Kampung Halaman

Berkumpul dalam atmosfer yang begitu spektakuler. Suara musik yang menghentak di lokasi. Merayakan sebuah pencapaian yang telah diukir oleh banyak anak bangsa di negeri ini.

Tidak sekadar puluhan, ratusan, bahkan hingga ribuan wisudawan bersama para orang-orang terkasih berduyun-duyun memadati gedung Sakri.

Benar-benar indah pada akhirnya itu nyata. Setidaknya pada momen wisuda pada pagi ini. Senang saja melihat wajah-wajah anak manusia yang tengah mengalami kemenangan di dalam salah satu perjalanan hidupnya. Lulus kuliah.

Hari ini begitu unik bagiku karena aku wisuda S3 di UB Malang. Waktu 4,0 tahun dibutuhkan untuk selesaikan kuliah doktor ini.

Pada masa lalu hanya sekadar sebuah mimpi yang aku tancapkan kuat-kuat di dalam benak, kini terwujud cita-cita tersebut, mission completed.

Banyak mimpi yang tidak pernah terwujud karena tidak banyak yang dilakukan oleh orang yang memiliki mimpi tersebut.

Ini adalah hari untuk merenungkan perjalanan hidupku dengan rasa syukur.

Hidup selalu memiliki pola. Yang mau belajar dan bekerjalah yang akan merasakan hasilnya.

Tentu yang menanam yang berhak memanen. Itu sudah menjadi hukum universal di dalam hidup.

Kenapa masih ada tanya, ada ragu, dan ada tidak kepercayaan diri.

"Sopo sing temen bakal tinemu. Sopo sing tekun bakal tekan!" Ternyata pepacuh adiluhung ini, menemukan tuahnya di sini. Di gedung Samantha Krida UB Malang, tempat acara wisuda.

Ada banyak anak bangsa dari Sabang sampai Merauke. Berhak bahagia, sekadar melakukan celeberation untuk perjuangan yang telah usai mereka kerjakan. Mau sekolah, kuliah, dan akhirnya wisuda wis sudah.

Wisuda ini. Sebagai media bagaimana cara membersihkan pola pikir, sikap, dan perilaku. Menjadi semakin bersih mendekat tabiat diri mereka yang suci, cenderung ingin berbuat kebajikan dalam hidup.

Dari bangku kuliah ini, para mahasiswa itu membangun mindset mereka. Meski saja selama berkuliah, tentu saja: ada perih, ada rasa lelah, dan kadang rintihan dalam diri terlontar dalam benak. "Kapan kuliah ini selesai dan lulus?"

Tak jarang ada yang tidak kuat, demotivasi lalu berhenti berjalan meneruskan langkah meraih mimpinya.

Tapi semesta memang tidak tinggal diam, ia akan selalu menemani bagi yang mau terus berjalan, dan akhirnya lulus, pagi ini bisa wisuda.

Keberhasilan mereka lalu bisa diwisuda. Membuat cara berpikir mereka tentu akan menjadi sederhana dan penuh daya: "URIP IKU URUP".

Siapa saja mahasiswa yang mau menghidupkan pikiran disertai oleh spirit mulia dari dalam jiwanya yang murni, maka hidupnya akan menyala, seterang mentari pagi. Dan gedung Samantha Krida UB menjadi saksi abadi, keyakinan tersebut.

Wisuda ini hanya sebentar. Kemeriahan yang hadir pun, tidak berbilang hari akan pudar.

Realita kehidupan akan mampir lagi. Dan sebagai manusia yang ingin terus berkarya dalam hidup. Mari kita buat mimpi-mimpi hidup selanjutnya.

Lalu waktu yang akan antarkan kepada kita. Berupa puzzle-puzzle legacy hidup yang mampu kita ukir selama nafas masih di kandung badan ini.

Baca Juga: Buku Baru Warisan Baru

Karena kualitas seorang manusia ditera oleh karyanya. Bukan yang lainnya.

Tentu saja pencapaian gelar doktor ini. Untuk menggenapkan laku hidup. Membuat wajah dunia yang sudah indah agar semakin indah tentunya!

Akhirnya terbayarkan semua. Semua lelah yang selama ini dialami selama menjalani proses kuliah sebagai mahasiswa doktoral. Hanya sebuah senyuman yang tak pernah lupa mewarnai dalam aktivitas di ruangan nan megah pagi ini. Setidaknya semua cerita selama empat tahun persis selama kuliah. Sudah menjadi prememori. Cukup dikenang untuk selanjutnya, upps!

Serta bersiap melanjutkan hidup. Membangun sebuah prasasti.

Bukankah hidup yang demikian layak kita perjuangkan? Menjadi manusia yang menang dalam kesempatan hidup yang sudah diberikan.

Dear diriku terima kasih. Tak lupa terima kasih untuk segala doa dari orang tua, keluarga tercinta, kerabat, dan semua sahabat. Dan di atas semuanya itu, adalah ridho-Nya. Karena semuanya ini diijinkan terjadi. Bisa kuliah S3 kemudian lulus lalu ikut wisuda hari ini.

Babak Baru Kehidupan dimulai!

Tidak bisa menghindar kembali. Usai wisuda lalu harus kembali ke barak.
Menekuni profesi!

Nah, perihal profesi bertekun dalam dunia akademik. Boleh jadi hal yang baru, juga hal yang sebenarnya sudah dilewati berbilang tahun.

Namun, begitu. Bahwa dalam dunia akademik harus memiliki kesadaran yang muncul dari dalam diri sendiri: untuk terus belajar dan mau open minded tentang beragam aplikasi. Lalu digunakan untuk menunjang kinerja sebagai seorang akademisi adalah sebuah kemauan yang musti segera dieksekusi.

Setelah barusan saja wisuda. Lalu tubuh fisik itu juga barusan saja di rumah tercinta, Rungkut, Surabaya.

Beberapa persoalan dalam perbincangan dengan beberapa kolega di Griya UB tadi. Sudah mampu memicu diri segera buat air panas buat mandi, dan segera mengajak jari jemari memahat huruf sore ini, menjelang adzan Maghrib berkumandang.

Baca Juga: Hidup adalah Mengenai Menerima dan Memberi!

Kita hanya bisa berbicara banyak serta panjang lebar. Berpijak dengan sebuah keilmuan yang ditekuni. Bermula dari situ, tahapan selanjutnya setelah menuntaskan studi doktoral dimulai.

Baca, review, lalu tulis. Kemudian baca lagi, review kembali, tulis lagi. Maukah menseriusi bekerja dalam bidang akademis, bila alpha melakukan itu, mending mundur saja dari jalur profesi sebagai seorang akademisi. Glodhak, tak ada mendung, tak ada hujan, seorang profesor muda itu langsung mengasih ospek tanpa ba-bi-bu.

Sepertinya bulan madu saat tadi diwisuda. Meski segera bergeser, bahwa janji wisudawan yang bersama-sama tadi dikumandangkan di gedung Samantha Krida UB. Bukan sekadar paduan suara. Ia adalah sebuah manifesto yang dengan sadar harus dijalani, titik!

Sepertinya yang musti dirawat tidak sekadar: tubuh yang sehat. Lebih daripada itu, kebiasaan menggunakan hanya kedua jempol saja untuk menulis di hape, harus mau kembali ke barak menggunakan kesepuluh jari untuk menulis di papan keyboard laptop.

Habit baru harus segera dimulai. Bersamaaan niat awal yang sudah dikabulkan oleh semesta. Bisa kuliah S3 dan bisa lulus lalu wisuda.

Masak hanya cukup mengucap Alhamdulillah. Yang lulus S1 pun juga melakukan hal yang sama. Terus apa yang membedakan Anda lulusan S3 dengan mereka, mewujudkan rasa syukur kepada semesta ini, pungkas sang profesor muda yang super mbethik tersebut.

Mau ditolak, yang ia omongkan juga semua benar.

Sebagai seorang lelaki yang bertanggungjawab dan seorang lulusan baru S3. Tidak boleh banyak alasan, kerjakan saja.

Babak baru kehidupan dicanangkan kembali untuk dijalani mulai sore ini!

Duh Gusti, mugio panjenengan tansah jangkung lan jampangi. langkah kawulo, aamiin yra...


AAS, 25 Februari 2024
Emper Rumah Rungkut Surabaya

Editor : Redaksi