Catatan Mas AAS

Anda Hanya Kalah Ketika Anda Menyerah!

Reporter : -
Anda Hanya Kalah Ketika Anda Menyerah!
Mas AAS

Sepertinya judul tulisan: sudah pakem. Tidak perlu di otak atik lagi. Lantas yang menjadi masalah penulis adalah terus di isi tulisan apa lagi, untuk menjadi sebuah tulisan yang utuh. Namun penulis pada pagi ini, memang ingin membuat judul tulisan seperti termaktub di atas. Semua itu ada pemicunya, ada peletupnya. Apa itu? Mari bersama-sama, penulis temani untuk membaca lebih lanjut!

Ini semua tadi sebuah fakta bukan fiksi yang dialami penulis. Sesaat tengah duduk di kuda terbang. Sembari membawa istri mengantar ke kantornya di RSUD Dr Soetomo. Di tengah perjalanan yang macet di jalan raya, seorang bapak tua begitu lincahnya mengendarai motor roda duanya. Sudah jelas ia berposisi awal di belakang, begitu jauh dari lampu merah pemberhentian yang ada ratusan meter di depan. Dan posisi lalu lintas sedemikian macetnya di jalan rada susah untuk ditembus meski pakai motor. Dan penulis sejak awal sudah melirik polahnya si bapak ini dalam mengatasi peristiwa yang terjadi. Sepertinya tak ingin menyerah dengan keadaan yang terjadi. Dan akhirnya motor tua Supra nya sudah nangkring di posisi terdepan tepat di bawah tiang lampu merah. Lampu traffic light pun berubah menjadi warna hijau lalu ia terus kan perjalanannya! Entah mau kemana penulis tidak tahu! Tetapi cara beliau berjuang sehingga kuda terbang nya menuju garis depan, patut di acungi jempol dua, hehehe!

Baca Juga: Seorang Pemimpin Sejati bukanlah Pencari Konsesus: Ia Pembentuk Konsesus

Penulis hanya mampu geleng-geleng kepala. Boleh jadi praktek langsung dari maksud judul tulisan di atas adalah: apa yang telah dilakukan oleh si bapak tua itu. Ia tak memberi ruang sedikitpun di pikirannya untuk menyerah terhadap keadaan yang menghampirinya: jalan macet. Bagaimana ia jaga pikirannya tetap percaya, dan dari situ bisa membuat motor roda duanya terus saja berjalan mencari jalan keluar dari kemacetan akut yang tengah berlangsung. Hingga sampai di garis finish, lampu merah!

Wajah si bapak tua masih segar di ingatan penulis. Sembari mengingat-ingat wajahnya, ia seakan membenarkan judul tulisan di atas: "Anda hanya kalah ketika Anda menyerah!"

Sepertinya penulis ingin membaca judul tulisan tersebut berulang kali. Setelah secara langsung diingatkan oleh kejadian yang barusan saja terjadi. Boleh di jadikan mantra judul tulisan di atas sebagai sebuah sugesti saat beraktivitas bekerja mengabdi kepada kehidupan melalui profesi yang di sandang saat ini. Untuk bisa menjaga performa diri, sepertinya mantra itu menjadi mujarab dan ampuh bagi penulis. Entah kalau di mata pembaca! Tentu pengalaman hidupnya bisa jadi berbeda.

Jika Anda tidak menyerah. Anda akan menang dari posisi yang luar biasa yang mungkin sedang dialami. Tidak jarang ada kerikil, batu, bahkan karang yang diijinkan hadir dalam kehidupan seseorang. Untuk menguji seberapa jauh ia menginginkan sesuatu barangkali. Sehingga acap kali terjadi sebuah noise. Dan kabar gembira nya, ini bukan pertarungan secara fisik dengan orang lain, lebih ke pertarungan pikiran dengan diri sendiri. Setiap manusia pada setiap penggal di perjalanan hidupnya kadang dihampiri hal yang demikian.

Baca Juga: Masjid yang Viral di Surabaya: Karena Melayani Kebutuhan Seluruh Umat

Ada sebuah kebenaran kecil yang boleh jadi sudah sedemikian kuat diyakini oleh penulis sejauh ini. Dari akumulasi pengalaman empiris yang sudah dilewati.
Selama pikiran ini menolak menerima kekalahan lalu menyerah. Setiap kemunduran yang boleh jadi bila diartikan demikian, akan memberi kita kesempatan untuk menganalisis diri sendiri. Lalu cepat bangkit, berdiri, bertarung kembali. Kalahkan rasa insecure yang menghampiri. "Masak kalah sama keberanian dan kemampuan si bapak tua dalam menguasai pikirannya tadi! Ia berhasil kalahkan kemacetan di jalan raya yang tengah terjadi!"

Ya, sebuah narasi kecil yang dipicu juga oleh peristiwa kecil pada pagi ini tadi. Namun, memberi konfirmasi tentang peristiwa besar dan kejadian lainnya di seputar kehidupan kita semua. Entah sebagai individu, mahkluk organisasi, bahkan sebagai seorang warga dari sebuah negeri. Kadang harapan itu harus tetap kita rawat: bahwa kita mampu melakukan sesuatu. Setidaknya di level pribadi, di diri penulis, mental dan keyakinan tidak menyerah senantiasa terus di rawat. Menjadi matra kehidupan sehari-hari! Karena yang paling realistis adalah merawat dan memelihara mental diri sendiri. Di tengah-tengah pikiran-pikiran kerdil dan picik yang kadangkala hadir dari manusia-manusia kerdil yang berada di seputaran circle kehidupan kita, hehehe!

Sepertinya di negeri tercinta ini, masih banyak diperlukan anak-anak muda yang memiliki mental baja laksana mentalnya si bapak tua tadi!

Baca Juga: Hargai Semua yang Anda Miliki

Demikian...


AAS, 15 Mei 2024
Warkop Karmen Surabaya

Editor : Nasirudin