Catatan Mas AAS

Bekerja, Belajar, dan Bermain!

Reporter : -
Bekerja, Belajar, dan Bermain!
Mas AAS

Pekerjaan penulis sebagai seorang teman mahasiswa di dalam kelas. Belajarnya penulis adalah menyimak setiap menu kehidupan yang disuguhkan oleh semesta, baik berupa informasi di dalam text book yang mesti penulis baca, juga peristiwa hidup keseharian baik yang tersurat dan tersirat acapkali menggugah emosi ini untuk berbicara. Bermain yang dilakukan penulis dalam keseharian nya tak lepas dari merangkai aksara untuk menuangkan ide juga gagasan yang nyempil dipikiran, dan membuat gatal jari jemari ini untuk menulisnya. Lalu dikabarkan kepada semesta setiap hari, syukur menjadi sebuah pemantik inspirasi bagi pembaca, harapanya penulis demikian!

Faktanya, baju keseharian yang dikenakan penulis tak pernah lari jauh-jauh dari kegiatan di atas!

Baca Juga: Seorang Pemimpin Sejati bukanlah Pencari Konsesus: Ia Pembentuk Konsesus

Pagi ini setelah menjalani pekerjaan rutin sebagai seorang suami, antarkan istri ke kantornya. Lalu penulis pun seperti biasa parkir kuda terbang sejenak di warkop langganan, Karmen Surabaya. Untuk sekadar meletakkan pikiran yang melayang-layang selama dalam perjalanan ke kantor istri tadi, untuk dipindahkan ke dalam beberapa kata dan kalimat di gawai penulis.

Terbersit sebuah pikiran, bagaimana cara menulis dalam membantu membesarkan kampus tercinta di mana penulis mengabdi di kampus ITB Yadika Pasuruan. Besar secara kualitas di mana padepokan pendidikan ini memang layak menjadi tempat pasinaon bagi putra putri terbaik di Bangil khususnya dan di Pasuruan pada umumnya. Besar secara kuantitas tentu tak bisa dipungkiri bahwa hari-hari ini institusi pendidikan itu bak jamur di musim hujan, setiap kilo di sepanjang jalan sebuah wilayah ada lembaga pendidikan. Dan tentu saja setiap anak terbaik dari negeri ini memiliki kebebasan untuk memilih tempat terbaik untuk mengantarkan masa depan di dalam hidupnya kelak. Tak jarang sesaat menemani para mahasiswa terbaik di dalam kelas, ajakan penulis kepada para mahasiswa untuk mengajak alumnus di almamater nya untuk bersemangat dan menjadi mahasiswa di kampus tercinta.

Sudah menjadi watak dari penulis. Bahwa penulis memiliki kecenderungan sikap setia, dan selalu bersemangat untuk bisa berkontribusi secara maksimal dimanapun saja penulis mengabdi. Pemikiran ini kadang juga bertalian secara linier, begitu besarnya rasa cinta penulis kepada negeri tercinta, Indonesia. Lalu apa yang masih bisa dilakukan di ruang sunyi untuk juga berkontribusi hal positif kepada rumah besar ini. Secara penulis telah merasa menerima banyak karena diberi sesuatu oleh Ibu Pertiwi: lahir, hidup, dan mencari penghidupan di negeri rayuan pulau kelapa ini.

Menu yang disuguhkan oleh semesta pada pagi ini tadi, membentang luas, untuk mengajak penulis berpikir banyak hal. Sembari duduk di Warkop melihat lalu lalang manusia dengan kuda tunggangannya menuju ke tempat kerja nya masing-masing.

Baca Juga: Masjid yang Viral di Surabaya: Karena Melayani Kebutuhan Seluruh Umat

Boleh jadi konsekuensi sekolah yang selama ini senantiasa di udi penulis. Membuat penulis selalu berpikir setiap detik, menit, jam, dan harinya. "Setelah ini lalu apa lagi?" Tidak ada cara lain pikiran-pikiran kecil itu tentu saja terus bertolak dalam sebuah kapasitas dan passion diri yang selama ini dimiliki penulis! Dan tidak bisa menghindar, bahwa semuanya masih ada sangkut pautnya dengan kegiatan menata huruf, menulis aksara, untuk terus dikabarkan kepada semesta dalam laku hidup setiap harinya!

Bahwasanya kegiatan menemani mahasiswa di dalam kelas, lalu terus membaca, mengamati arus informasi yang senantiasa baru dan terus berkembang setiap hari, lalu mendokumentasikan menjadi sebuah lukisan aksara adalah serangkaian laku hidup yang sudah sedemikian lama dijalani penulis. Dan harapan nya perangai yang demikian menjadi sebuah cara penulis untuk membantu institusi dimana penulis mengabdi menjadi semakin besar, terkenal, dan menjadi jujugan setiap anak bangsa di kota dan kabupaten Pasuruan menimba ilmu. Kadang alasan kecil yang demikian selalu membuat penulis memiliki semangat untuk terus melanjutkan hidup sehari-hari di tengah persoalan hidup yang acap kali akan mencoba menghalangi penulis melanjutkan misi hidupnya.

Tentu saja karena ini bukanlah tugas kecil dan harus tetap merawat endurance diri. Tak ayal senantiasa bergandengan mesra dengan semesta adalah cara yang penulis pilih, agar spirit dan lilin hidup itu tak pernah mati, meski kecil sinarnya diharapkan masih bisa menerangi. Hingga pada titik akhir, raga ini akan di usung manusia lainnya ke peristirahatan terakhir di kampung keabadian.

Baca Juga: Hargai Semua yang Anda Miliki

Mohon ampun serta Maturnuwun Gusti 


AAS, 03 Juni 2024
Warkop Karmen Surabaya

Editor : Redaksi