Catatan Mas AAS

Pesona Sejati Terjadi di Momen Ini!

Reporter : -
Pesona Sejati Terjadi di Momen Ini!
Mas AAS

Malam perlahan mulai berjalan menuju waktu puncaknya. Di dalam kepala penulis masih banyak suara yang terus bersuara berisik.

Duduk di emperan rumah, usai menyelesaikan urusan domestik di ruang inspirasi. Sekadar menentukan jadwal harian yang harus dikerjakan esok hari, di tempat pengabdian. Diri pun merasa ada yang hilang sesaat jemari ini lari dari tugas rutin kesehariannya, menulis. Mengakibatkan suara berisik itu terus mengusik saling beradu suara satu dengan lainnya di dalam labirin otak yang mungil ini!

Baca Juga: Seorang Pemimpin Sejati bukanlah Pencari Konsesus: Ia Pembentuk Konsesus

Sedemikian hebatnya sebuah habit memantik perilaku selanjutnya dalam diri manusia. Sekadar melepaskan suara dalam pikiran digubah menjadi sebuah tulisan melalui gawai. Adalah rutinitas kecil yang sudah menjadi candu. Waktu pun merasa dijalani seakan tanpa sebuah kesia-siaan. Waktu kapan itu? Sekarang, detik, menit, dan jam ini juga! Ya ini menyederhanakan saja bagaimana penulis menikmati me time kesehariannya, setelah seharian tadi berkutat dengan rempongnya urusan duniawi yang tak akan pernah usai sebelum raga itu di usung ke kampung keabadian oleh orang lainnya, nanti!

Di emper rumah yang mulai sepi, tiada suara binantang apapun, dan dedaunan juga sudah diam tak bergerak sedikitpun, semua penghuni alam raya sepertinya tengah menjalankan peran hidup nya masing-masing. Diri yang papa ini pun menyadari masih banyak sekali yang mesti harus dikerjakan. Di tengah aral dan kerikil urusan hidup keseharian yang perlu untuk dikerjakan dan diselesaikan. Tak jarang bahan tulisan yang berasal dari obrolan di grup WhatsApp, di time line media sosial, di berita utama yang disampaikan mass media surat kabar, dan televisi. Membuat sebuah pertanyaan pribadi, bahwa masih banyak soal yang akan terus mengantarkan negeri ini menjadi sebuah bangsa yang berkemampuan, berkemajuan di kemudian hari. Dan terselip sebuah keyakinan dalam level mikro bahwa sebuah tempat di mana penulis mengabdi akan terus berjalan di track nya menuju kampus yang semakin maju, dan banyak peminatnya yaitu anak-anak bangsa di Bangil dan Pasuruan yang ingin menimba ilmu dan kuliah di kampus ITB YADIKA PASURUAN. Keyakinan yang demikian setidaknya harus terus dipupuk penulis setiap harinya, agar semangat dan spirit untuk bekerja mengabdi kepada kehidupan ini juga tetap terjaga!

Memang di waktu malam yang seperti sekarang lalu menyatu dengan irama kosmis yang sedang terjadi. Membuat pikiran itu bisa seketika hidup lalu memanggil artefak, juga manuskrip yang sudah menjadi tabungan pengetahuan dan informasi yang tersimpan di server pikiran. Siap dipanggil sewaktu-waktu untuk membantu penulis membuat sebuah pahatan huruf agar lancar, mengalir, dengan jernih, dan pesan itu mampu sampai di pikiran pembaca harapan nya demikian.

Pada malam yang hening dan rada temaram. Ingatan itu dengan begitu jelas memanggil akan orang, akan komunitas, akan institusi, bahkan akan sebuah ideologi. Bagaimana diri ini berpikir membalas *kebajikan*, agar mampu berterima kasih yang sudah dilakukan oleh orang, organisasi, institusi, bahkan pada level tertinggi, bagaimana diri ini harus terus berupaya membuat Sang Pemilik Semesta itu bisa *tersenyum*: tentang sesuatu yang kita pikirkan, tentang sesuatu yang kita kerjakan, meski hanya sebentuk debu tak berbekas, dan mudah sirna tentunya.

Memaksimalkan waktu yang masih mampu dipeluk untuk saat sekarang. Adalah kegusaran yang sedemikian hebat, untuk mempertanyakan hal-hal mendasar yang saling berkelindan yang ada di dalam benak dan pikiran ini. Sebuah alarm untuk terus melanjutkan kerja-kerja produktif di depan. Tentu saja tetap berpijak pada sebuah kompetensi yang ditekuni dan dikuasai selama ini. Seiring waktu yang terus merangkak dan raga pun berjalan menuju ke arah waktu ashar, bahkan mulai menuju magrib. Sebuah pekerjaan dan ketekunan yang ingin terus dijalani, tak jarang *menavigasi* diri memunculkan pertanyaan demi pertanyaan untuk dijawab dalam sebuah kegiatan karya nyata.

Semua tidak lain tidak bukan untuk dipersembahkan kepada orang, kepada komunitas, kepada institusi, dan kepada-Nya. Sebagai cara penulis mengucapkan terima kasih dan terus semangat membuat semesta ini menjadi kian semarak setiap harinya.

Kesalahan dan ke-alpha-an di masa lalu kalaupun toh itu ada dan terjadi, tak layak untuk terus mengasihani diri. Tentu itu menjadi Kredo bagi manusia yang terus berproses dan ingin menghidupkan sesuatu yang ada di dalam dirinya. Justeru menjadi semacam trigger dan bekal untuk mengukir lebih banyak karya kembali. Serta tidak perlu merisaukan masa depan yang masih misteri, serta belum tentu gambar hitam dan putihnya, faktanya yang dihadapi dalam momen sekarang, adalah kedua jempol ini masih menari di atas keypard hape memilih huruf yang akan dipakai menulis.

Baca Juga: Masjid yang Viral di Surabaya: Karena Melayani Kebutuhan Seluruh Umat

Berprofesi sebagai seorang teman dan sahabat mahasiswa di dalam dan di luar kelas. Setidaknya harus pintar-pintar diri ini mem-boaster dengan serangkaian alasan kenapa harus mau melakukan sesuatu yang *besar* demi mahasiswa dan institusi tempat mengabdi, agar tidak menjadi orang, karena penulis ingin menjadi *manusia* .

Karena tentu saja tidak bisa kita harapkan peran itu dilakukan oleh orang dan manusia lainnya. Karena tentu saja mereka juga telah memiliki urusannya sendiri yang menuntut untuk diselesaikan juga.

Permadani akan sebuah landscape hidup, memang harus di _sepuh_ setiap harinya, dengan akumulasi peristiwa yang terus mau diterima dan diselesaikan. Agar manusia itu terus belajar berproses mencapai versi terbaik dari dirinya sendiri. Dan yang paling menarik, memanglah cara semesta itu begitu unik dan penuh min haitsu la yahtasib, dalam mendampingi setiap manusia untuk bisa _beyond_ terhadap dirinya sendiri.

Dan disaat malam-malam yang semakin larut sepert ini, begitu terang dan jernih pikiran itu dalam mengurai sebuah arti dan makna dari sebuah fenomena. Setidaknya penulis begitu antusias untuk melakukan sebuah *sintesa* dari peran-peran semesta yang sudah sedemikian halus saat hadir dan menyapa dalam kehidupan diri penulis untuk waktu yang sudah berlalu hingga sampai detik malam sekarang.

Baca Juga: Hargai Semua yang Anda Miliki

Saat melakukan _meaning fullness_ diri sembari memahat aksara pada malam ini. Tak pelak sebuah munajat cinta itu secara auto disampaikan penulis ke langit tertinggi sembari melihat *atap langit* yang penuh bintang berkerlap-kerlip

Lalu kata-kata agung itu pun terlontar secara ritmis, melalui bibir ini Maturnuwun Gusti. Karena faktanya kehidupan itu masih mau menyapa penulis pada saat sekarang, di tengah penghuni semesta yang lain sudah tidur lelap memenuhi hak nya raga beristirahat.

Demikian saja sekelumit narasi kecil yang bisa ditenun penulis pada malam ini. Selamat malam teruntuk para pembaca yang budiman. Kiranya kesehatan, kekayaan, serta keberkahan hidup senantiasa Tuhan datangkan dalam kehidupan Anda semuanya, aamiin yra


AAS, 5 Juni 2024
Emper Omah Rungkut Surabaya

Editor : Nasirudin