Catatan Mas AAS

Hidup Harus Tetap Berjalan Pagi Ini: Juga Negeri Pertiwi Bung!

Reporter : -
Hidup Harus Tetap Berjalan Pagi Ini: Juga Negeri Pertiwi Bung!
Mas AAS

Hari telah dibuka dengan pagi yang baru. Sinar kekuningan dari sisi timur bumi senantiasa menyertai Sang Surya menjalankan peran sucinya yang tak pernah lelah dan berhenti dalam menyinari Bawana.

Setengah jam waktu yang tersedia, masih cukup untuk sedikit bertutur tentang panorama pagi di kota metropolis Surabaya. Sebelum akhirnya nanti, penulis juga tenggelam dalam kesibukan aktivitas kerja keseharian. Penghuni kota pahlawan sudah semangat pada keluar rumah menjemput takdir hidupnya masing-masing: mlijo sudah membawa semua barang dagangan yang diusung dengan kuda terbangnya keliling rumah menemui pelanggan setianya para "Mak-mak rempong". Yang berburu isi dapur untuk memasak bagi keluarga kecilnya. Anak-anak kecil, remaja, dan sesekali terlihat mahasiswa sudah berjibaku ingin pergi ke Mandala tempat pendidikan yang akan mengajarinya sesuatu yang berarti untuk hidupnya di masa depan.

Baca Juga: Momentum Itu Diciptakan

Meski tetap saja kabar sumir itu ada di obrolan grup WhatsApp yaitu adanya ketidak percayaan bahwa negeri ini sedang diurus dengan baik-baik saja oleh para pemimpinnya. Entahlah, karena jalan kepemimpinan itu pada hakekatnya adalah margi dan ruang sunyi bagi setiap pemimpinnya. Meski matahari sudah terbit dan langit cerah serta panca indera berfungsi sempurna dalam melihat terangnya hari. Namun keteguhan sikap dalam mengambil keputusan yang terbaik untuk negeri dan rakyatnya diharapkan menjadi sebuah kesadaran yang tidak akan pernah lari dari sanubari, sesaat si pemimpin itu bekerja menjalankan amanah kepemimpinannya. Agar jalan sunyi nan sepi itu berujung menjadi jalan yang ramai dilewati oleh rakyatnya penuh suka cita di kemudian hari.

Biarlah itu urusan para pemimpin yang sudah diberi amanah. Penulis tetap bertugas melukis peristiwa yang terjadi di pagi ini di warung kopinya Cak Man, sembari menunggu istri berburu sesuatu di dalam pasar Soponyono Rungkut Surabaya.

Mencuri dengar obrolan di warung kopi. Semakin riuh saja pikiran kecil dan kerdil menyeruak dalam saur manuk obrolan bebas di parlemen rakyat tersebut. "Seandainya begitu, seandainya begini, jika tidak begitu, jika tidak begini. Tentu keadaan negeri ini tidak seperti ini." Siapa yang akan mendidik dan meng-edukasi rakyat, tentu semua elemen dan entitas yang sepakat bahwa negeri ini harus tetap hidup dan berjalan menuju tujuan mulianya untuk memperbesar semua penghuni rumah besar meraih kemakmuran lahir dan batinnya. Tentu doa setiap kaum Brahmana, kaum Satria di negeri tercinta akan menuju ke sana.

Baca Juga: Seorang Pemimpin Sejati bukanlah Pencari Konsesus: Ia Pembentuk Konsesus

Rumah besar sedang gusar, karena penghuninya terombang ambing oleh keadaan dan pemberitaan yang terus datang silih berganti. Memberitakan hal dan sesuatu yang negatif, lalu dikonsumsi oleh rakyatnya bak minum obat tiga kali dalam sehari. Tak terasa tubuh dan jiwa itu pun terasa lunglai perlahan-lahan, alih-alih semangat melakukan sesuatu. Telunjuk jari mulai begitu fasih menunjuk kesalahan di luar diri ke sana dan kemari, meletakkan kesalahan itu pada sosok dan entitas sedemikian rupa.

Dan sebentar lagi tak menunggu tahun, roda organisasi dalam level negara itu pun berganti. Kiranya warga di negeri ini nantinya tidak melulu terdidik dan dididik oleh sebuah kefakiran, kekurangan, dan one prestasi, yang banyak diteladankan oleh para pemilik tongkat komando kekuasaan di semua level organisasi. Meski saja galib nya memang benar bahwa *kekuasaan* itu senantiasa meninabobokan si penguasa, karena besarnya fasilitas, tepuk tangan, karpet merah, yang akan diterimanya. Hanya mempertahankan dan merawat ruang sunyi dalam jiwa yang terdalam itulah. Diharapkan menjadi alat bagi sang diri itu bisa menepis untuk sementara waktu untuk terus memuaskan *hasrat* semu yang terus bertarung dalam ruang nurani sang pemimpin!

Ya, meski ini hanya sebuah kerajinan pena. Akan tetapi memberi sedikit ruang optimis di *bilik* hati dirupakan dalam sebuah aksara. Adalah pilihan dan keputusan kecil yang masih bisa dilakukan penulis untuk turut membuat rumah besar ini senantiasa terjadi *harmoni*. Sesaat semua penghuni rumah besar ini sebenarnya juga ingin berkontribusi untuk Ibu Pertiwi dengan segala profesi dan pekerjaan nya masing-masing. Mempersembahkan sesuatu yang murni dan terbaik teruntuk rumah besar yang begitu dicintainya. Karena di tanah air ini, beta lahir, mencari rejeki, lalu saatnya nanti berpulang dengan penerimaan dan ketenangan, karena waktu bermain dan berkelana di alam _marcopdo_ sudah usai. "Ayuk mulih Lee, wis wayahe kondur!" Lalu kembali ke _sangkan paraning dumadi_. Duduk berdampingan, bercerita banyak hal tentang pengalaman yang sudah dialami kepada Sang Junjungan yang senantiasa lembut menyambut kehadiran kita di rumah keabadian dengan penuh Rohman dan Rahim, kelak!

Baca Juga: Masjid yang Viral di Surabaya: Karena Melayani Kebutuhan Seluruh Umat

Demikian dan selamat pagi...


AAS, 6 Juni 2024
Warkop Cak Man Rungkut Surabaya

Editor : Nasirudin