Catatan Mas AAS

Hargai Semua yang Anda Miliki

Reporter : -
Hargai Semua yang Anda Miliki
catatan Mas AAS

Pekerjaan wartawan identik dengan kerja kaki tangan dan pikiran, begitu kata Romo Sindhunata. Pekerjaan Mister AAS adalah mengamati, berpikir, lalu mengambil hape, menulis sesuatu!

Wartawan sudah terbiasa menulis dengan konsep 5W1H. Mister AAS menulis secara bebas, lepas, seturut apa yang dilihat saja, apalagi menyulut emosi, dimana tempat jadilah sebuah tulisan. Tidak perlu panjang, satu, dua, bahkan tiga paragraf cukuplah. Kalau lebih ya bukan kesengajaan akan tetapi kedua jempol jemari masih senang saja menari di atas keypard hape, begitu!

Baca Juga: Seorang Pemimpin Sejati bukanlah Pencari Konsesus: Ia Pembentuk Konsesus

Pagi-pagi benar, kota metropolitan Surabaya. Sudah riuh dengan aktivitas penghuninya. Ada yang berangkat ke pabrik, pergi ke pasar, anak-anak kecil bergerombol berjalan di pinggir jalan menuju sekolahnya. Entah masuk sekolah nya jam berapa? Manusia dalam hidupnya hanya mengumpulkan sebuah ingatan akan peristiwa yang sudah dilakukan. Lalu pada suatu ketika ingatannya memanggil kembali saat menjumpai peristiwa yang sama: anak-anak sekolah dasar pagi ini, benar-benar senang sekali berangkat menuju ke sekolahnya, sepertinya ingin kembali ke masa itu. Namun, tak dinyana usia sudah merangkak pelan-pelan menuju ke senja. Yang baca tulisan ini boleh jadi sebelas duabelas juga sama, dengan penulis, sudah tua ternyata ya?

Usia kata orang hanya sekadar angka. Jiwanya saja dibuat muda selamanya, agar aktivitas hidup yang produktif tetap terjaga, memahat karya, meninggalkan legacy yang berharga.

"Lee, esuk men arep nang di," kata penulis. Karena penulis cukup familiar dengan salah satu anak yang sedang menuju ke sekolahn bersama temannya. Penulis memanggilnya si gembul.

"Iyo, pak Lik. Kate sekolah," ujar si gembul bocah yang masih imut menggemaskan menjawab.

Baca Juga: Masjid yang Viral di Surabaya: Karena Melayani Kebutuhan Seluruh Umat

Tiga bocah kecil sudah riang berceloteh pagi, sembari berjalan pelan menuju sekolahnya. Dan penulis hanya sanggup menggodanya. Dan si gembul hanya sanggup mengucap tanya selanjutnya, kepada penulis: "Pak Lik, Soko ngendi?"

"Soko Pasar, Mbul!" Dan si Gembul tidak menengok hanya melengos, takut penulis goda lagi, apalagi ia akan tahu, pasti pak Lik, akan mencowel kedua pipinya yang caby. Dan cuz ia segera bergegas dengan temannya melanjutkan sebuah perjalanan mulia, menuju sekolahnya. "Sekolah sing pinter Mbul," dan si Gembul tak mendengar atau pura-pura tak mendengar seruanku, bikin gemas saja anak itu!

Di perumahan tempat tinggal penulis di Rungkut Asri Barat Surabaya. Ada kampung di belakang perumahan, lalu ada SMA, SMP, juga ada SD, yang saling berdekatan. Menyimak kehidupan kaum perantauan, tak jarang mampu menyuguhkan menu kehidupan pagi yang siap untuk dilahap bagi makanan jiwa yang menyehatkan. Memahatnya menjadi sebuah tulisan, cukup mengasyikkan. Bahwa apa yang sempat dan mampu diamati setiap pagi dapat secara auto membuat bibir ini mengucap syukur akan sesuatu kepada Sang Illahi Rabbi. Juga saat bertemu si Gembul dan teman-temannya pagi ini.

Baca Juga: Menjadi Pendidik adalah Perbuatan Baik Tanpa Syarat

Di pagi yang lain, kadang berjumpa bapak dan Ibu nya si Gembul. Bapaknya membersihkan kandang burung piaraannya, si Ibunya sibuk memandikan si Gembul. Sesekali ibu nya si Gembul ngedmumel kepada mantan pacarnya dahulu: "Esuk-esuk orang ndang budal kerjo ngojek, malahan ngopeni manuk ae!" Hahaha.


AAS, 10 Juni 2024
Fasum Perumahan Rungkut Asri Barat Surabaya

Editor : Nasirudin