Catatan Mas AAS

Momentum Itu Diciptakan

Reporter : -
Momentum Itu Diciptakan
Mas AAS

Menyimak obrolan seorang Guru Besar dan praktisi dalam sebuah komunitas grup WhatsApp. Menarik juga. Ya, sebelum bobok istirahat malam, ijinkan sejenak mengulik judul tulisan di atas dalam sebuah perspektif tulisan yang sederhana saja, tak perlu ndaki-ndaki isinya.

Karena menulis yang saya tetapkan setiap hari minimal satu tulisan. Lalu dalam setiap pekannya entah satu dua kali nge-vlog wajib penulis lakukan. Untuk apa misinya? Ya, menciptakan sebuah peluang. Karena penulis percaya, dengan teratur nya menulis akan membuat jemari ini semakin terampil memahat huruf, dan dengan sering tampil nge-vlog setidaknya melatih kemampuan public speaking diri ini menjadi terlatih secara otomatis, tak perlu ikut traning yang berbiaya mahal. Faktanya setiap aksi kita apapun di media sosial, pada hari ini akan mendapatkan feedback baik secara langsung pun tak langsung.

Baca Juga: Seorang Pemimpin Sejati bukanlah Pencari Konsesus: Ia Pembentuk Konsesus

Dengan cara berpikir positif. Semua feedback itu kan menjadi jurus yang ampuh dalam memperbaiki setiap karya penulis: baik dalam menulis maupun selama kegiatan nge-vlog dilakukan!

Hari-hari ini setiap orang bisa menjadi leader sekaligus menjadi influencer bagi setiap komunitasnya. Atau setidaknya bagi yang bertemu, berteman di dunia Maya. Bukankah jaman sudah berubah, dan perubahan mesti kita ikuti, di dunia maya lah eksistensi seseorang dipertaruhkan dengan segala macam aktivitasnya yang konsisten dan Istiqomah!

Seorang Dekan di sebuah Fakultas, mem-branding audiens dan komunitasnya dengan berita dan informasi yang sedang ingin dilakukannya. Seorang Rektor sebelas dua belas juga tentunya, akan mempertahan kan bagaimana visi kepemimpinan nya yang murni untuk membawa sebuah institusi maju, memiliki sebuah pembeda dengan institusi pendidikan tinggi lainnya. Dalam konteks personal: seorang pendidik atau dosen akan terus berpikir; pagi, siang, dan malam untuk menjadikan dirinya terus bertumbuh dengan belajar, dan bisa berpikir terbuka berdiskusi atau belajar kepada yang lebih ahli dalam ilmu yang ingin dikuasainya.

Perubahan-perubahan yang akan dilakukan seorang Dekan, Rektor, bahkan seorang dosen. Tak sekalipun bisa berharap kepada orang lain, kepada kelompok, bahkan kepada institusi yang lebih tinggi semisal kebijakan negara. Menunggu momentum agar digerakkan dan diinisiasi oleh orang lain, sepertinya di era sekarang, akan membuat institusi dan diri ini semakin tertinggal. Dan tawaran peluang kerjasama juga susah mendekat, karena institusi dan diri kita sekadar puas menjadi entitas kelas dua bahkan kelas tiga!

Momentum bagaikan gelombang yang membawa kita maju. Dalam kehidupan kita seringkali dihadapkan pada momen-momen penting yang membuka peluang untuk meraih kemajuan. Namun momentum itu tidak datang dengan sendirinya. Kita perlu proaktif dalam menciptakan dan memanfaatkannya.

Baca Juga: Masjid yang Viral di Surabaya: Karena Melayani Kebutuhan Seluruh Umat

Obrolan dengan kawan lama pada suatu ketika di Taman Bungkul Surabaya. Karena ia seorang konsultan manajemen. Ia rada fasih berbicara: "Bagaimana cara menciptakan momentum?" Meski agak samar dan lamat-lamat setidaknya penulis masih ingat, karena saat menjadi pendengar akan sabdanya. Penulis mencatat dengan rapi dan dituliskan di dalam kepala. Setidaknya ada beberapa frasa yang diungkap dalam konteks bagaimana menciptakan sebuah momentum, di antaranya sebagai berukut: tetapkan tujuan yang jelas, buatlah rencana yang matang, ambil tindakan yang konsisten, manfaatkan peluang yang ada, bangun keterampilan dan pengetahuan, jalin hubungan yang baik, dan yang terakhir kalau tidak salah adalah pertahankan sikap positif.

Sebenarnya dalam ranah mikro, sabda seorang kawan yang juga seorang Profesor di sebuah kampus PTN tersebut. Setidaknya yang akan digunakan sebagai kelinci percobaan adalah penulis sendiri. Bagaimana kegiatan menulis serta nge-vlog ini akan terus dilakukan untuk berkontribusi bagi kehidupan anak muda di dalam negeri tercinta. Sembari melakukan perbaikan terus-menerus baik dari sisi kuantitas dan juga kualitas nya. Dalam konteks pekerjaan dan profesi penulis: menulis dan berbicara menjadi semacam hard skill yang mesti dikuasai sampai pada level mahir. Dan tentu saja pembaca sepakat dengan penulis, bahwa ngelakoni hal tersebut butuh endurance diri yang mesti terus dikelola.

Lantas tidak melupakan kemampuan lainnya yang mesti dipelajari: kemampuan membuat sebuah metode penelitian, dan mendesain sebuah penelitian barangkali. Hal ini juga menjadi hal penting yang terus menerus harus di pelajari. Hal-hal di atas setidaknya menjadi pokok bahasan rutin dengan kolega di dalam dan di luar kampus.

Nah, boleh jadi definisi momentum dalam kacamata penulis ya demikian. Bersegera action. Dari aksi inilah pelan-pelan sebuah peluang, sebuah kesempatan, dan sebuah pencapaian, akan tetap terus terjaga. Dalam hal yang remeh temeh dicontohkan oleh penulis adalah bermain gitar, ini contoh lain yang kecil bisa jadi. Lalu dengan keberanian yang tersisa kemudian berani show up melihatkan kemampuan itu di ruang publik di dunia Maya. Sekali lagi jangan dipikirkan takutnya penulis saat itu saat pertama kali main genjrengan gitar lalu di upload ke media sosial. Biar saja di bully toh tidak akan mati, pikir penulis. Dan ketakutan itu ternyata hanya bayang-bayang semu yang tak pernah terjadi, artinya terus mlaku terus aksi, titik.. Dan efeknya di ruang inspirasi jari jemari ini sampai kapalan semua karena terlalu keras berlatih bermain kuasai chord atau kunci gitar. Demi apa coba? Demi sebuah momentum, sekali lagi, kawan!

Baca Juga: Hargai Semua yang Anda Miliki

Penulis sangat percaya. Bahwa momentum bukanlah hal yang statis. Kita perlu terus menerus berusaha untuk menciptakannya dan memanfaatkannya.

Dengan dedikasi, kerja keras, dan sikap yang positif. Penulis lagi-lagi sangat percaya. Kita semua dapat mencapai apapun yang diimpikan...


AAS, 12 Juni 2024
Emper Omah Rungkut Surabaya

Editor : Nasirudin