FGD Ketahanan Pangan HUT Kedua JatimUPdate.id

Presiden Republik Durian: Tantangan Meningkatkan Produksi Pertanian di Jawa Timur Semakin Berat

Reporter : -
Presiden Republik Durian: Tantangan Meningkatkan Produksi Pertanian di Jawa Timur Semakin Berat
Anna Luthfie, CEO Republik Durian, dalam wawancara saat HUT Kedua JatimUPdate.id

Surabaya, JatimUPdate.id : Upaya meningkatkan luas lahan pertanian dan produksi di Jawa Timur semakin menghadapi tantangan besar.

Salah satu masalah itu bisa dilihat dengan adanya penurunan jumlah mata air di sungai-sungai besar di Jawa Timur sehingga berdampak pada kuantitas debit air sungai yang ada.

Hal ini diungkapkan oleh Anna Luthfie, CEO Republik Durian, dalam wawancara saat HUT Kedua JatimUPdate.id dalam diskusi Ketahanan Pangan Sektor Hulu dan Hilir di Wisma Dewi Sri Perum Bulog Wilayah Jawa Timur, Jumat, (16/08) lalu.

Dalam Fokus Grup Disscusion yang dikemas dalam tayangan Podcast Spektrum TV yang baru saja dirilis itu juga menampilkan pemateri Pimpinan Wilayah Jatim Perum Bulog, Awaluddin Iqbal, CEO Republik Durian yang juga pemerhati Lingkungan, Anna Lutfie, Dirut Puspa Agro, Dyah Agusmuslim, Pimred JTV, Abdul Rokim serta pembicara pemantik CEO JatimUPdate.id Yuristiarso Hidayat.

Acara Podcast yang berdurasi sekitar 1 jam itu dimoderatori jurnalis JatimUPdate.id yang juga founder Spektrum Channel9, Ahmad Junaidi itu.

Lebih jauh Anna Lutfie menyatakan tentang harapan untuk memperluas area pertanian dan meningkatkan hasil produksi kini semakin sulit diwujudkan, terutama di tengah perubahan penggunaan lahan yang terus berlangsung.

"Harapan kita untuk menambah luas lahan dan meningkatkan produksi saat ini lebih seperti angan-angan," kata Anna Lutfie.

Alumnus S2 Universitas Airlangga yang kini menekuni kawasan food estate di Srengat Kabupaten Blitar itu menjelaskan bahwa alih fungsi lahan pertanian menjadi area infrastruktur merupakan salah satu tantangan utama yang menghambat perkembangan sektor pertanian di Jawa Timur.

Anna Lutfie yang kini menjadi Dewan Pakar Sygma Researc and Counsulting itu menambahkan bahwa persoalan ini bukanlah hal baru, melainkan tantangan lama yang hingga kini belum menemukan solusi yang efektif.

"Situasi di Jawa Timur semakin sulit. Lahan pertanian terus berkurang, namun harapan untuk memperluas lahan tetap sulit tercapai," jelas alumnus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel itu.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan petani dan pemerintah daerah. Dengan tekanan urbanisasi dan pembangunan yang terus meningkat, lahan pertanian semakin terdesak, sehingga usaha untuk mempertahankan dan meningkatkan produktivitas menjadi semakin berat.

Anna menekankan pentingnya kebijakan yang strategis dan inovatif untuk mengatasi tantangan ini. Salah satu solusi yang disarankannya adalah meningkatkan efisiensi dan produktivitas lahan yang ada melalui penerapan teknologi pertanian yang lebih canggih, serta memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap lahan pertanian agar tidak dialihfungsikan.

Meskipun tantangan yang dihadapi cukup besar, Anna optimistis bahwa dengan kerja sama yang erat antara pemerintah, petani, dan sektor swasta, Jawa Timur masih memiliki peluang besar untuk mempertahankan kontribusinya dalam sektor pertanian yang menjadi pilar ekonomi provinsi ini.
"Sinergi multi sektor mesti dikedepankan dalam kontek perkuatan sektor ketahanan pangan, dan itu mesti dikerjakan dari hulu hingga hilir. Industrialisasi pertanian mesti semakin didorong. Pemanfaatan lahan-lahan kosong di sejumlah pulau-pulau bisa dilakukan baik untuk pertanian, perkebunan termasuk peternakan. Pokoknya mesti bareng fokus ketahanan pangan," tegasnya.

Tantangan dalam meningkatkan produksi dan memperluas lahan pertanian di Jawa Timur membutuhkan perhatian serius.

Upaya kolaboratif dari berbagai pihak sangat diperlukan untuk mengatasi masalah ini, demi kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan sektor pertanian di masa depan.

*Urgensitas Restorasi dan Konservasi SDA*

 

Secara khusus Anna Lutfie menyoroti peran negara untuk terlibat aktif dalam upaya konservasi termasuk restorasi sumber daya alam khususnya adalah sektor mata air.

"Restorasi sumber mata air termasuk upaya konservasi sumber daya alam semakin urgen untuk dilakukan oleh semua pihak. Negara harus hadir dan menempatkan soal restorasi ini menjadi perhatian utama. Masak soal mata air yang nenurun jumlahnya ini sudah diteliti USAID 20 tahun lalu, hasilnya sudah diserahkan tapi belum progresif penanganannya," kata Anna Lutfie.

Seperti diketahui data yang dihimpun JatimUPdate.id, USAID, lembaga donor milik pemerintah AS pada 2002-2008 telah melakukan penelitian dan tindakan intervensi melalui project Enviroment Services Program (ESP) yang merilis terjadinya penurunan jumlah mata air sungai brantas dan debit airnya secara drastis.

Saat itu USAID-ESP juga mulai memperkenalkan skema Public Private Partnership (PPP) dalam proses konservasi sumber daya air di hulu sungai Brantas yang melibatkan sejumlah stakeholder BUMN (rio/aris/ridwan/yh)

Editor : Redaksi