Puasa: Jalan Menuju Insan Kamil dalam Perspektif Ramadhan al-Buthi

Reporter : Ponirin Mika
Ponirin Mika Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo

Oleh: Ponirin Mika

Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo

Baca juga: Ramadan, Tanda Baca dalam Hidup Sosial

Probolinggo, JatimUPdate.id : Allah memerintahkan kewajiban puasa bagi umat Islam bukan sekadar ibadah lahiriah, tetapi sebagai sarana pendidikan spiritual yang bertujuan membentuk insan kamil (manusia paripurna).

Konsep ini sejalan dengan pemikiran Syekh Ramadhan al-Buthi, yang menegaskan bahwa puasa mendidik manusia secara jasmani dan rohani untuk mencapai kesempurnaan dalam menjalani kehidupan dunia dan akhirat.

Dalam kajian-kajiannya, Ramadhan al-Buthi menyoroti bahwa puasa memiliki hikmah mendalam dalam membentuk karakter dan kesehatan fisik manusia. Dengan menahan lapar dan haus, tubuh mendapatkan kesempatan untuk beristirahat dari aktivitas pencernaan yang terus-menerus, sehingga terjadi detoksifikasi alami.

Ini berdampak positif pada kesehatan dan daya tahan tubuh, menjadikan manusia lebih bugar dan kuat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Selain manfaat fisik, puasa juga melatih kedisiplinan dalam pola makan dan gaya hidup.

Al-Buthi menegaskan bahwa tubuh yang sehat merupakan bagian dari amanah Allah yang harus dijaga.

Kesehatan jasmani sangat berpengaruh dalam menjalankan tugas sebagai khalifah di muka bumi.

Manusia yang memiliki fisik yang kuat akan lebih optimal dalam beribadah, bekerja, dan berkontribusi bagi masyarakat.

Baca juga: Jelang Ramadan, Pemkab Bondowoso Sidak Pasar dan LPG 3 Kg, Harga Cabai Tembus Rp100 Ribu

Lebih dari sekadar latihan fisik, Ramadhan al-Buthi juga menekankan bahwa puasa adalah sarana penyucian jiwa (tazkiyatun nafs).

Dalam keadaan lapar dan haus, manusia lebih mudah merenungi kelemahan dirinya, menyadari keterbatasannya, serta merasakan ketergantungannya kepada Allah.

Puasa juga menanamkan kesabaran, mengasah empati, serta membentuk karakter yang lebih bertakwa.

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 183, bahwa tujuan utama puasa adalah untuk membentuk insan yang bertakwa. Al-Buthi menjelaskan bahwa ketakwaan bukan hanya sekadar menjalankan perintah dan menjauhi larangan, tetapi juga membentuk kesadaran diri untuk selalu dekat kepada Allah, menjaga akhlak, serta peduli terhadap sesama.

Ramadhan al-Buthi melihat puasa sebagai metode pembentukan manusia paripurna (insan kamil), yaitu individu yang tidak hanya memiliki ketahanan fisik, tetapi juga jiwa yang bersih dan akal yang cerdas.

Baca juga: Sempro dan Megengan: Menjaga Nalar dan Batin di Tengah Formalisme Kampus

Dengan keseimbangan antara jasmani dan rohani, manusia mampu menjalankan perannya sebagai khalifah di bumi dengan baik.

Dalam berbagai kajiannya, al-Buthi sering menegaskan bahwa manusia ideal adalah mereka yang mampu mengendalikan dirinya, menjadikan hawa nafsu sebagai pelayan, bukan sebagai majikan.

Puasa mengajarkan manusia untuk mengontrol diri, membangun ketahanan, serta mendekatkan diri kepada Allah. Inilah inti dari pendidikan puasa: menjadikan manusia lebih baik secara fisik, mental, dan spiritual, sehingga ia mampu mencapai kesempurnaan hidup yang dicita-citakan dalam Islam.

Dengan demikian, puasa bukan sekadar ritual tahunan, melainkan perjalanan spiritual yang mendidik manusia agar lebih kuat, sabar, dan berakhlak mulia.

Dalam perspektif Ramadhan al-Buthi, puasa adalah salah satu jalan utama menuju kesempurnaan manusia, yang pada akhirnya akan membimbingnya menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. (pm/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru