Puasa: Jalan Menuju Insan Paripurna

Reporter : Ponirin Mika
Ponirin Mika, Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo

 

Oleh: Ponirin Mika
Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo

Baca juga: Ramadan, Tanda Baca dalam Hidup Sosial

Probolinggo, JatimUPdate.id : Puasa bukan sekadar ibadah ritual yang bersifat formalitas, melainkan proses pembentukan karakter yang mendalam.

Dalam menjalankan puasa, seseorang tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan hawa nafsu dari berbagai hal yang dapat merusak kesucian jiwa.

Puasa mendidik manusia agar mampu mengendalikan diri dari godaan duniawi dan membentuk pribadi yang lebih baik.

Salah satu esensi utama puasa adalah melatih pengendalian diri. Nafsu manusia memiliki kecenderungan untuk mencari kesenangan tanpa batas, bahkan dalam hal-hal yang dilarang agama.

Melalui puasa, seseorang belajar untuk menata diri, mengontrol emosi, dan mengarahkan keinginan pada hal-hal yang lebih bermakna.

Disiplin dalam menjalankan ibadah ini akan menciptakan kebiasaan baik yang terbawa dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, puasa juga menjadi sarana untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah.

Dalam keadaan lapar dan haus, seseorang menyadari bahwa ia hanyalah hamba yang bergantung sepenuhnya kepada Allah.

Kesadaran ini menumbuhkan sifat tawakal dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan. Puasa menjadi bukti nyata ketaatan seorang hamba terhadap perintah-Nya, sehingga menjadikannya insan yang lebih dekat dengan Sang Pencipta.

Tidak hanya dalam aspek spiritual, puasa juga mengajarkan nilai-nilai sosial yang tinggi. Dengan menahan lapar, seseorang dapat merasakan penderitaan mereka yang hidup dalam kemiskinan dan kelaparan.

Hal ini menumbuhkan empati dan kepedulian terhadap sesama, mendorong seseorang untuk lebih peka terhadap kondisi sosial di sekitarnya. Dari sinilah lahir semangat berbagi dan menolong mereka yang membutuhkan.

Sayangnya, dalam kehidupan modern yang serba individualistis, kepedulian sosial semakin terkikis. Banyak orang yang lebih mementingkan dirinya sendiri dan tidak peduli terhadap penderitaan orang lain.

Padahal, salah satu tanda keimanan yang sejati adalah memiliki kepekaan terhadap sesama. Puasa menjadi momentum untuk membangkitkan kembali nilai-nilai kemanusiaan yang mulai luntur.

Dalam konteks ini, puasa juga dapat menjadi alat introspeksi diri. Saat berpuasa, seseorang dapat mengevaluasi sejauh mana dirinya mampu mengendalikan hawa nafsu, sejauh mana kepeduliannya terhadap orang lain, dan sejauh mana ketaatannya kepada Allah.

Baca juga: Jelang Ramadan, Pemkab Bondowoso Sidak Pasar dan LPG 3 Kg, Harga Cabai Tembus Rp100 Ribu

Proses refleksi ini penting agar seseorang dapat terus memperbaiki diri dan semakin mendekati hakikat insan paripurna.

Seorang insan paripurna bukanlah mereka yang sempurna tanpa kesalahan, tetapi mereka yang selalu berusaha memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas hidupnya sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Mereka yang tetap istiqamah dalam kebaikan, menahan diri dari perilaku menyimpang, serta menjaga hubungan baik dengan Allah dan manusia, itulah yang dapat dikatakan sebagai insan paripurna.

Puasa juga menjadi ajang untuk membangun disiplin dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan membiasakan diri untuk taat pada aturan waktu berbuka dan sahur, seseorang belajar menghargai waktu dan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin.

Disiplin ini tidak hanya bermanfaat dalam aspek ibadah, tetapi juga dalam pekerjaan, pendidikan, dan berbagai aspek kehidupan lainnya.

Selain itu, puasa mengajarkan pentingnya kejujuran dan integritas. Saat berpuasa, seseorang bisa saja makan dan minum tanpa diketahui orang lain, tetapi keimanan yang kuat mencegahnya melakukan itu.

Ini membuktikan bahwa puasa membentuk karakter yang jujur, bahkan ketika tidak ada yang mengawasi. Sifat ini sangat penting dalam kehidupan sosial, terutama dalam membangun masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai kejujuran dan amanah.

Baca juga: Sempro dan Megengan: Menjaga Nalar dan Batin di Tengah Formalisme Kampus

Di sisi lain, puasa juga memiliki manfaat kesehatan yang luar biasa. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa berpuasa dapat membantu detoksifikasi tubuh, meningkatkan sistem kekebalan, serta menyeimbangkan metabolisme.

Namun, lebih dari sekadar manfaat fisik, kesehatan mental dan spiritual juga ikut terjaga. Seseorang yang berpuasa dengan kesadaran penuh akan merasakan ketenangan batin dan kebahagiaan yang lebih mendalam.

Lebih dari itu, puasa mengajarkan kesabaran dalam menghadapi cobaan hidup. Tidak jarang seseorang menghadapi berbagai tantangan yang menguji kesabaran dan ketahanannya.

Dengan terbiasa menahan diri selama berpuasa, seseorang akan lebih mudah menghadapi berbagai ujian hidup dengan penuh ketenangan dan kebijaksanaan.

Akhirnya, tujuan utama dari puasa adalah membentuk manusia yang lebih baik dalam segala aspek kehidupan. Baik dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia, maupun dengan dirinya sendiri.

Insan paripurna adalah mereka yang mampu menjalani hidup dengan penuh kesadaran, kebaikan, dan kedekatan kepada Allah.

Oleh karena itu, marilah kita menjadikan puasa sebagai momentum untuk terus memperbaiki diri, meningkatkan ketakwaan, dan membangun kepedulian sosial.

Dengan begitu, kita tidak hanya menjadi pribadi yang lebih baik, tetapi juga memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Semoga puasa yang kita jalani benar-benar membawa perubahan positif dalam hidup kita. (pm/yh) 

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru