Oleh: Ponirin Mika
Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota of Critical Social Research Probolinggo
Baca juga: Ramadan, Tanda Baca dalam Hidup Sosial
Probolinggo, JatimUPdate.id : Puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merupakan metode pelatihan dari Allah untuk mengajarkan kesabaran dan pengendalian diri.
Dalam satu bulan penuh, umat Islam ditempa untuk mampu mengendalikan hawa nafsu, baik dalam hal makan, minum, maupun perilaku sehari-hari.
Ramadan sejatinya adalah madrasah ruhani yang mengajarkan keteguhan dalam menghadapi godaan dan membentuk karakter yang lebih kuat.
Nurcholish Madjid (Cak Nur) pernah menyampaikan bahwa esensi puasa tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan intelektual. Bagi Cak Nur, puasa adalah sarana untuk mencapai kemerdekaan diri, membebaskan manusia dari belenggu hawa nafsu yang dapat menghambat perkembangan spiritual dan intelektual.
Dengan menahan diri, seseorang belajar bahwa kebebasan sejati bukanlah menuruti semua keinginan, tetapi kemampuan untuk mengendalikannya. Hal ini sejalan dengan tujuan utama puasa, yaitu mencapai ketakwaan yang sesungguhnya.
Salah satu hikmah terbesar dari puasa adalah melatih kesabaran. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia kerap dihadapkan pada berbagai ujian yang menuntut ketahanan mental dan emosional.
Dengan menahan diri dari hal-hal yang diperbolehkan pada waktu biasa, seperti makan dan minum, seseorang belajar bagaimana menahan diri dari hal-hal yang lebih besar, seperti kemarahan, keserakahan, dan keinginan duniawi yang tidak terkendali.
Gus Dur melihat puasa sebagai ajang pembelajaran bagi umat Islam untuk memperkuat solidaritas sosial. Menurutnya, puasa tidak hanya berfungsi sebagai ibadah individual, tetapi juga mengasah kepedulian sosial.
Dengan merasakan lapar dan haus, seseorang akan lebih memahami penderitaan orang-orang yang kurang beruntung. Hal ini menjadi dasar bagi terbentuknya masyarakat yang lebih adil dan berkeadilan.
Bagi Gus Dur, keberhasilan puasa tidak hanya diukur dari aspek ritual, tetapi juga dari sejauh mana seseorang mampu membawa nilai-nilai puasa dalam kehidupan sosialnya.
Kesabaran yang dibangun melalui puasa Ramadan bukan hanya dalam bentuk menahan lapar dan haus, tetapi juga dalam menjaga sikap dan tutur kata.
Seorang Muslim yang berpuasa tidak hanya dituntut untuk tidak makan dan minum, tetapi juga harus mampu menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang dapat merusak puasanya.
Dengan demikian, puasa mengajarkan bahwa kesabaran bukan hanya soal menunggu, tetapi juga soal bagaimana kita bersikap dalam menanti.
Selain itu, Ramadan juga menjadi momen untuk melatih pengendalian diri terhadap hawa nafsu. Dalam kehidupan modern yang serba instan, manusia cenderung sulit mengendalikan keinginan.
Puasa mengajarkan bahwa tidak semua keinginan harus segera dituruti. Ada kalanya seseorang harus menunda kesenangan demi mencapai sesuatu yang lebih besar, yaitu kedekatan dengan Allah dan peningkatan kualitas diri.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman bahwa puasa diwajibkan agar manusia bertakwa. Ketakwaan adalah puncak dari kesabaran dan pengendalian diri.
Seseorang yang mampu menahan diri dari hal-hal yang halal karena Allah, tentu akan lebih mampu menahan diri dari hal-hal yang diharamkan.
Dengan demikian, puasa adalah sarana untuk meningkatkan kualitas ketakwaan melalui latihan menahan diri secara sistematis.
Baca juga: Jelang Ramadan, Pemkab Bondowoso Sidak Pasar dan LPG 3 Kg, Harga Cabai Tembus Rp100 Ribu
Buya Syafii Maarif menekankan bahwa puasa harus menjadi momentum refleksi bagi setiap individu untuk menilai sejauh mana dirinya telah menjalankan ajaran Islam secara substansial.
Menurutnya, puasa bukan hanya menahan diri dari lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari sikap egois, rakus, dan ketidakpedulian terhadap sesama.
Ia mengingatkan bahwa Islam bukan hanya soal ritual, tetapi juga bagaimana seorang Muslim berperan dalam membangun peradaban yang lebih manusiawi.
Dalam kehidupan sosial, kesabaran yang didapat dari puasa juga berdampak pada hubungan antarindividu.
Orang yang berlatih sabar selama Ramadan cenderung lebih mudah memaafkan, lebih peka terhadap perasaan orang lain, dan lebih mampu menahan diri dari konflik yang tidak perlu. Hal ini menjadikan Ramadan sebagai ajang pembelajaran bagi setiap individu untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam bersosialisasi.
Puasa juga mengajarkan kesadaran akan keterbatasan manusia. Dengan menahan lapar dan haus, seseorang diingatkan bahwa dirinya bukanlah makhluk yang serba bisa, melainkan memiliki keterbatasan yang hanya bisa ditopang dengan izin Allah.
Kesadaran ini akan melahirkan sikap rendah hati, yang merupakan salah satu ciri utama dari orang yang sabar.
Selain aspek spiritual, puasa juga berdampak positif pada kesehatan mental.
Orang yang terbiasa menahan diri dari godaan cenderung memiliki kontrol emosi yang lebih baik. Mereka tidak mudah terpancing amarah, lebih mampu mengelola stres, dan memiliki ketahanan mental yang lebih kuat.
Dengan demikian, puasa bukan hanya melatih kesabaran secara spiritual, tetapi juga secara psikologis.
Baca juga: Sempro dan Megengan: Menjaga Nalar dan Batin di Tengah Formalisme Kampus
Dalam aspek ekonomi, puasa mengajarkan seseorang untuk hidup lebih sederhana dan tidak berlebihan. Sering kali manusia terjebak dalam pola konsumsi yang berlebihan, tetapi dengan berpuasa, seseorang belajar bahwa ia bisa bertahan dengan kebutuhan yang lebih sedikit.
Ini adalah bentuk pengendalian diri dalam hal materi yang sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih dari itu, Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk melatih keikhlasan. Seseorang yang berpuasa dengan kesadaran penuh bahwa Allah-lah satu-satunya yang mengetahui puasanya, akan lebih mudah menanamkan nilai-nilai keikhlasan dalam kehidupannya.
Keikhlasan ini merupakan salah satu bentuk pengendalian diri, di mana seseorang tidak lagi mencari pengakuan dari manusia, tetapi hanya berharap ridha Allah.
Puasa juga menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa empati terhadap sesama.
Dengan merasakan sendiri bagaimana rasanya menahan lapar dan haus, seseorang akan lebih memahami kondisi orang-orang yang kurang beruntung.
Ini akan membentuk kesabaran dalam menghadapi ujian sosial dan mendorong seseorang untuk lebih banyak berbagi dengan sesama.
Pada akhirnya, Ramadan adalah bulan di mana setiap Muslim menjalani proses pendidikan ruhani yang mengajarkan arti sabar dan pengendalian diri. Mereka yang berhasil menjalani Ramadan dengan penuh kesadaran akan merasakan perubahan besar dalam dirinya, baik dari segi spiritual, mental, maupun sosial.
Dengan demikian, puasa bukan hanya sekadar ritual tahunan, tetapi sebuah sistem pelatihan yang dirancang oleh Allah untuk membentuk pribadi yang lebih sabar, lebih kuat dalam mengendalikan diri, dan lebih bertakwa. Ramadan adalah sekolah kehidupan, di mana setiap Muslim berkesempatan untuk belajar dan berkembang menjadi versi terbaik dari dirinya. (pm/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat