Rembuk Stunting Desa Dadapan: Kolaborasi Pemerintah, Kader, dan Masyarakat untuk Cegah Stunting

Reporter : Deki Umamun Rois
Suasana Rembug Stunting di Desa Dadapan, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang.


Wajak, Malang, JatimUPdate.id – Pemerintah Desa Dadapan, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, sukses menggelar Rembuk Stunting Desa sebagai bagian dari program percepatan penurunan angka stunting yang menjadi prioritas nasional.

Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Dadapan ini dihadiri oleh berbagai pihak, di antaranya kader kesehatan desa, Ibu Bidan yaitu Eni, Pendamping Desa yaitu Zainul Abidin selaku sebagai Koordinator Kecamatan, Pendamping Desa, Dewi dan Ruris serta Pendamping Lokal Desa Wiji, Perwakilan dari Kecamatan Wajak yaitu Sekcam, Ir. Boedi Tyahyono.

Baca juga: Wabup Malang Apresiasi Peran Strategis GP Ansor

Acara ini juga melibatkan perangkat desa, kader posyandu, tokoh masyarakat, serta perwakilan warga dari tiap dusun di Desa Dadapan.

Pentingnya Rembuk Stunting di Desa Dadapan

Dalam sambutannya, Kepala Desa Dadapan menyampaikan bahwa rembuk stunting ini merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah desa untuk menekan angka stunting.

Menurut Kades, stunting bukan hanya permasalahan gizi, tetapi juga menyangkut masa depan generasi desa. Oleh karena itu, perlu adanya kerja sama lintas sektor antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat.

Kepala Desa juga menekankan bahwa kegiatan ini akan menjadi momentum penting untuk menilai sejauh mana upaya yang telah dilakukan selama ini, sekaligus merancang langkah-langkah strategis baru yang lebih efektif.

Arahan dari Sekcam Kecamatan Wajak: Program GERIMIS

Sebagai perwakilan dari Kecamatan Wajak, Boedi Tyahyono (Sekcam) memberikan arahan mengenai inovasi kecamatan dalam menanggulangi stunting, yaitu melalui program GERIMIS (Gerakan Mitigasi Stunting).

Program ini dirancang sebagai upaya terpadu yang melibatkan pemerintah desa, kader kesehatan, dan masyarakat dengan fokus pada pencegahan dini serta pendampingan keluarga berisiko stunting.

Boedi menjelaskan bahwa GERIMIS mencakup beberapa langkah strategis, antara lain:
1. Pendataan akurat balita berisiko stunting bekerja sama dengan posyandu dan puskesmas.
2. Pemberian pendampingan gizi untuk ibu hamil dan balita.
3. Sosialisasi dan edukasi kesehatan keluarga, terutama terkait pola asuh dan pemberian makanan bergizi.
4. Pemantauan rutin perkembangan balita oleh kader kesehatan.
5. Koordinasi lintas sektor dengan pemerintah kecamatan dan kabupaten untuk bantuan teknis dan intervensi cepat.

Lebih lanjut, Sekcam Wajak menegaskan bahwa Desa Dadapan termasuk salah satu desa prioritas dalam program GERIMIS. Oleh karena itu, rembuk stunting yang digelar di Desa Dadapan menjadi langkah awal yang penting untuk mendukung pelaksanaan GERIMIS di tingkat desa.

“Dengan adanya GERIMIS, kami berharap semua elemen di Desa Dadapan bisa bersinergi. Pemerintah kecamatan siap mendampingi agar Desa Dadapan dapat menjadi contoh desa bebas stunting di Kecamatan Wajak,” tegas Boedi.

Dengan adanya GERIMIS, kami berharap semua elemen di Desa Dadapan bisa bersinergi. Pemerintah kecamatan siap mendampingi agar Desa Dadapan dapat menjadi contoh desa bebas stunting di Kecamatan Wajak,” ujar Boedi.

Selain itu, sebagai perwakilan kecamatan, Boedi Tyahyono (Sekcam Kecamatan Wajak) juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Dadapan atas inisiatif dalam menggelar rembuk stunting.

Sekcam Wajak menegaskan bahwa pihak kecamatan akan memberikan dukungan penuh, baik dalam bentuk koordinasi dengan dinas terkait maupun pendampingan teknis.

“Rembuk stunting adalah langkah strategis yang harus dilakukan secara berkesinambungan. Kecamatan siap memfasilitasi segala kebutuhan, termasuk pelatihan kader dan penyediaan data yang akurat untuk memastikan program ini tepat sasaran,” tambahnya.

Dukungan dari Pendamping Desa

Sementara itu,  Zainul Abidin, selaku Pendamping Desa Kecamatan Wajak, memberikan arahan sekaligus dorongan kepada seluruh masyarakat Desa Dadapan untuk turut aktif dalam program pencegahan stunting.

Baca juga: Musorkablub KONI Malang 2026: Pemilihan Ketua Umum Berlangsung Panas, Protes Mewarnai Pemilihan Ketua

Zainul menekankan bahwa penanganan stunting tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah desa atau kader kesehatan semata, tetapi membutuhkan keterlibatan semua elemen masyarakat, mulai dari keluarga, tokoh masyarakat, hingga lembaga pendidikan di desa.
Dalam arahannya, Zainul menyampaikan pentingnya pembentukan Tim Monitoring Gizi Desa.

Tim ini akan terdiri dari perangkat desa, kader posyandu, kader PKK, dan perwakilan masyarakat di setiap RT.

Tim tersebut bertugas memantau kondisi balita secara rutin, melakukan pendataan gizi, memberikan edukasi kepada orang tua terkait pola asuh yang baik, serta melaporkan perkembangan anak secara berkala kepada pemerintah desa dan pihak kecamatan.

Menurut Zainul, kerja sama lintas sektor merupakan kunci keberhasilan program pencegahan stunting.

“Pemerintah desa tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan partisipasi aktif dari masyarakat agar penanganan stunting lebih efektif. Jika ada kasus anak yang berisiko stunting, kita bisa melakukan intervensi lebih cepat melalui koordinasi dengan puskesmas, kader kesehatan, dan pemerintah desa,” jelasnya.

Selain itu, beliau juga menekankan bahwa program pencegahan stunting harus didukung dengan edukasi berkelanjutan kepada masyarakat.

Pendamping desa siap memfasilitasi pelatihan bagi kader posyandu terkait cara deteksi dini stunting, teknik pengolahan makanan bergizi dengan bahan lokal, dan strategi komunikasi efektif kepada orang tua.

Zainul menambahkan bahwa selain upaya pemantauan, perlu dilakukan juga program intervensi langsung, seperti pemberian makanan tambahan (PMT) untuk balita, pembinaan ibu hamil dan menyusui, serta penyediaan data yang valid sebagai dasar kebijakan.

Ia menegaskan bahwa Desa Dadapan dapat menjadi contoh desa yang berhasil menurunkan angka stunting apabila semua pihak bekerja sama secara konsisten dan berkelanjutan.

Baca juga: Tingkatkan Kualitas Pelayanan Publik, Mahasiswa UNITRI Berdayakan Desa Jombok

“Stunting bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga menyangkut masa depan generasi. Dengan komitmen bersama, saya yakin Desa Dadapan bisa menjadi desa yang bebas dari stunting,” pungkas Zainul.

Pemaparan Bidan Desa Eni
Setelah penyampaian materi awal mengenai kondisi stunting di Desa Dadapan, Bidan Desa Eni melanjutkan pemaparannya dengan membahas beberapa program kesehatan desa yang berhubungan langsung dengan upaya pencegahan stunting.

Bidan Desa menjelaskan tentang peran Posyandu sebagai pusat layanan kesehatan dasar yang penting bagi masyarakat, terutama untuk ibu hamil, balita, dan remaja.

Menurut Bidan Eni, kegiatan posyandu tidak hanya fokus pada penimbangan balita, tetapi juga mencakup pemeriksaan kesehatan ibu hamil, pemberian imunisasi, konseling gizi, hingga penyuluhan kesehatan remaja.

Dalam penjelasannya, Bidan Eni menguraikan beberapa poin penting sebagai berikut:
1. Layanan untuk Ibu Hamil
2. Pemeriksaan kehamilan secara rutin untuk mendeteksi risiko dini.
3. Pemberian tablet tambah darah untuk mencegah anemia.
4. Edukasi tentang pola makan sehat dan bergizi selama kehamilan.
5. Persiapan persalinan yang aman di fasilitas kesehatan.
6. Posyandu Balita dan Indikasi Stunting
Pemantauan tumbuh kembang anak secara berkala melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan.
7. Edukasi kepada orang tua tentang pemberian ASI eksklusif dan makanan pendamping ASI (MPASI) yang sesuai usia.
8. Deteksi dini anak yang berisiko stunting untuk mendapatkan intervensi cepat.
9. Posyandu Remaja
Pembinaan remaja terkait kesehatan reproduksi.
10. Edukasi tentang pentingnya gizi bagi calon ibu di masa depan.
11. Pencegahan anemia pada remaja putri sebagai langkah awal mencegah stunting sejak dini.

Bidan Eni menegaskan bahwa kasus stunting tidak selalu disebabkan oleh kurangnya asupan gizi semata, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh faktor kesehatan lainnya, seperti penyakit yang menghambat pertumbuhan anak.

Oleh karena itu, lanjut Eni, diperlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader posyandu, dan peran aktif masyarakat.

Di akhir materinya, Bidan Eni mengajak seluruh warga untuk memanfaatkan layanan posyandu seoptimal mungkin.
“Posyandu adalah garda terdepan untuk memastikan anak-anak kita tumbuh sehat dan ibu hamil mendapatkan pendampingan yang tepat. Jika kita peduli sejak awal, maka kita bisa mencegah stunting bersama-sama,” tegasnya. 

Pewarta : Wiji, Pendamping Lokal Desa Kecamatan Wajak. (dek/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru