Oleh: Dr. Agus Andi Subroto
Baca juga: Mematahkan Mitos, Meneguhkan Peran Mahasiswa dalam Pergerakan
Dosen Manajemen Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan sekaligus Ketua DPD AFEBSI Jawa Timur
Surabaya, JatimUPdate.id - Tahun 2026 bukan sekadar angka di kalender akademik, melainkan sebuah penanda zaman bagi pendidikan tinggi di Indonesia.
Di tengah gempuran disrupsi teknologi, ketidakpastian ekonomi global, dan tuntutan standarisasi mutu yang kian ketat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) swasta berdiri di persimpangan jalan.
Apakah kita akan menjadi menara gading yang sibuk dengan administrasi sendiri, atau menjadi mata air yang menghidupkan nalar publik dan ekonomi bangsa?
Pertanyaan inilah yang seyogianya menjadi landasan berpikir kita menjelang Kongres Nasional Aliansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Swasta Indonesia (AFEBSI) di Makassar akhir tahun nanti.
Perjalanan menuju Makassar tidak boleh dimaknai sekadar perpindahan fisik para dekan dan dosen dari satu kota ke kota lain. Ini adalah sebuah "ziarah gagasan".
Tantangan Kolektif
Harus diakui, tantangan yang dihadapi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) hari ini tidaklah ringan. Kesenjangan sumber daya dengan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) masih menganga, sementara standar akreditasi (seperti LAMEMBA) menuntut kualitas yang setara tanpa kompromi. Belum lagi tantangan relevansi lulusan di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang memaksa kita menyesuaikan kurikulum secara radikal.
Dalam konteks inilah, AFEBSI menemukan relevansinya yang paling vital. Kongres Nasional bukan sekadar ritual organisasi untuk menggugurkan kewajiban AD/ART.
Ia adalah ruang konsolidasi kekuatan sipil akademik. Makassar, dengan sejarah panjangnya sebagai titik temu peradaban maritim, menjadi simbol yang tepat. Seperti pelaut Bugis-Makassar yang berani mengarungi samudra dengan peta bintang yang jelas, FEB swasta harus berani mengarungi ketidakpastian zaman dengan peta jalan kolaborasi yang tegas.
Baca juga: Sempro dan Megengan: Menjaga Nalar dan Batin di Tengah Formalisme Kampus
Dari Kompetisi ke Kolaborasi
Era "saling sikut" antar-kampus untuk berebut mahasiswa harus diakhiri. Paradigma lama itu harus digeser menjadi era "berjamaah" dalam mutu. Melalui jejaring AFEBSI, kampus besar bisa menjadi mentor bagi kampus berkembang.
Riset tidak lagi dikerjakan sendirian di ruang sunyi, melainkan dikolaborasikan lintas provinsi untuk menghasilkan dampak nasional.
Keuntungan bergabung dalam aliansi ini bukan sekadar pragmatisme administratif—seperti kemudahan MoU atau pemenuhan beban kerja dosen semata.
Lebih dari itu, ini adalah soal daya tahan (resiliensi). Institusi yang terisolasi akan rapuh oleh gelombang perubahan, namun institusi yang berjejaring akan memiliki sistem pendukung (support system) yang saling menguatkan.
Harapan dan Keberkahan
Baca juga: Gandeng Perguruan Tinggi Dispendik Minta Usulan Bantuan Guru Direalisasikan Tahun Ini
Maka, langkah kaki menuju Makassar nanti harus disertai niat yang melampaui kepentingan pribadi. Kita berharap kongres ini tidak hanya menghasilkan ketua baru atau program kerja di atas kertas. Kita berharap lahirnya "sejarah kecil": sebuah kesepakatan kolektif untuk meningkatkan marwah pendidikan ekonomi di Indonesia.
Setiap diskusi di ruang sidang nanti haruslah tajam membedah masalah, namun tetap sejuk dalam persaudaraan. Kita ingin kepulangan dari Makassar nanti tidak hanya membawa oleh-oleh fisik, tetapi membawa "api" pembaruan yang bisa dinyalakan di kampus masing-masing.
Pada akhirnya, segala upaya manajemen, strategi, dan politik pendidikan ini hanyalah sebuah ikhtiar kemanusiaan. Sebagaimana falsafah Jawa, Urip iku Urup (hidup itu menyala/memberi manfaat).
AFEBSI adalah wadah agar nyala api para dosen dan pengelola kampus swasta tidak meredup ditiup angin zaman, melainkan menyatu menjadi obor yang menerangi jalan bagi generasi masa depan.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa, Gusti Allah SWT, memberikan kelancaran, kesehatan, dan—yang terpenting—kebijaksanaan bagi seluruh panitia dan peserta. Karena perjalanan yang diniatkan untuk kemaslahatan, niscaya tidak akan pernah sia-sia. (red)
Editor : Redaksi