Oleh: Hadipras & Imam Baehaqie
JatimUPdate.id - Solo sering kali digambarkan bukan sekedar sebagai titik koordinat geografis, melainkan sebuah ruang batin yang dalam. Disinilah aliran sungai Bengawan Solo bertemu dengan aliran pemikiran para pujangga. Di kota ini, udara pagi seolah membawa bisikan pupuh Pangkur dari Weda Tama, mengingatkan manusia untuk senantiasa ngasorake awak (merendahkan hati) dan mencari beningnya embun spiritualitas.
Baca juga: Pengurus PWI Pusat Periode 2025-2030 Resmi Dikukuhkan di Monumen Pers Solo
Solo adalah tempat di mana budi pekerti tidak diajarkan lewat perintah, melainkan lewat sasmita—isyarat-isyarat halus tentang kebaikan.
Namun, layaknya sebuah koin yang memiliki dua sisi, kehidupan selalu menyimpan spektrum yang kontras.
Tradisi Jawa sangat memahami konsep Rwa Bhineda—bahwa ada siang ada malam, ada putih ada hitam.
Di sela-sela kemegahan pendopo dan sakralitas laku batin, sejarah mencatat adanya sudut-sudut "remang" yang menjadi simbol kerapuhan manusia. Sebagaimana benda padat yang pasti memiliki bayang-bayang, kota pun memilikinya.
Jika Solo punya Silir, maka Surabaya punya Dolly, Yogyakarta punya Pasar Kembang, Bandung punya Saritem, dan Jakarta punya Kramat Tunggak. Keberadaan ruang-ruang ini adalah bayang gelap perkotaan, sebab mungkin hanya hantu yang tidak memiliki bayang-bayang.
Jika Wulang Reh adalah puncak pencapaian etika, maka eksistensi kawasan Silir di masa lalu—yang kepopulerannya setara dengan Gang Dolly—adalah potret dari sisi profan: sebuah ruang dimana nilai-nilai dikomodifikasi demi pemuasan sesaat.
Sayangnya, kini muncul sebuah istilah ditengah riuh rendahnya dinamika kekuasaan yaitu "Geng Solo", sebagai suatu label atau merek yang makin populer.
Baca juga: Mahasiswa Solo Raya Tekankan Pentingnya Literasi Politik Pilkada 2024
Label ini terasa menyesakkan dada karena seolah menodai kehormatan Solo sebagai pusat budaya adiluhung. Maka, sebagai sebuah pasemon bagi oknum-oknum yang—meski membawa nama pusat budaya—justru memilih mentalitas transaksional, mungkin istilah tersebut lebih tepat diganti labelnya menjadi "Geng Silir".
Meski Silir sebagai lokalisasi fisik telah lama ditutup, memori tentangnya tetap relevan sebagai cermin gelap bagi kita yang sedang mempelajari nasihat agung Wulang Reh dan Weda Tama.
Geng politik kekuasaan yang berideologi rakus memiliki kemiripan moral dengan "hukum pasar" di Silir masa lalu. Dalam ranah ini, loyalitas diperjualbelikan; tak ada janji yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan yang bisa dibayar.
Disana pula terjadi kehilangan welas asih, dimana politik bukan lagi sarana Memayu Hayuning Bawono (memperindah dunia), melainkan sekedar ajang pemuasan syahwat kekuasaan yang rakus dan eksploitatif.
Namun, kekuasaan itu sendiri, sebagaimana pemikiran Raden Ngabehi Ranggawarsita, adalah zat kudus yang bersifat tetap dan hanya berpindah. Dalam risalahnya mengenai zaman edan, sang pujangga besar Solo ini meramalkan perjalanan kekuasaan melalui tujuh tipologi Satria. Mulai dari Satria Kinunjara Murwa Kuncara yang lahir dari pahitnya penjara, hingga Satria Pinandita Sinisihan Wahyu, sang pemimpin religius yang dinanti untuk membawa kemakmuran sejati.
Pemikiran Ranggawarsita ini berakar kuat pada Serat Wirid Hidayat Jati tentang konsep Manunggaling Kawula-Gusti, yang seharusnya menjadi sumber legitimasi moral kekuasaan, bukan sekedar alat mobilisasi.
Baca juga: Dekranasda Jatim Meriahkan Parade Mobil Hias Di Solo
Dalam kearifan Jawa, cara terbaik untuk melawan keburukan bukanlah dengan teriakan yang memecah harmoni, melainkan dengan memperkuat kembali "Cahaya Budi". Mengoreksi fenomena "Geng Solo" menjadi "Geng Silir" adalah cara kita mengajak para pemegang kuasa untuk pulang ke rumah batin mereka—kembali ke ajaran Mangkunegara IV, Pakubuwono IV, dan kearifan Ranggawarsita.
Nama Solo akan tetap harum dan agung. Tugas kita adalah memastikan bahwa yang memancar ke panggung nasional adalah cahaya Weda Tama, bukan sisa-sisa aroma transaksional dari masa lalu Silir yang seharusnya sudah ditutup rapat dalam lembaran sejarah.
"Geng Silir" adalah peringatan keras bahwa tanpa laku prihatin, siapapun bisa tergelincir dari puncak spiritualitas menuju lembah transaksi yang rendah. Karena pada akhirnya, politik tanpa budi pekerti hanyalah sebuah "lokalisasi kepentingan" yang tak akan pernah melahirkan kemuliaan bagi bangsa. (*)
Editor : Redaksi