Minnesota, Amerika Serikat, JatimUPdate.id - Ribuan hingga jutaan demonstran memadati berbagai kota di Amerika Serikat pada Sabtu (28/3/2026) dalam aksi bertajuk “No Kings” yang menyasar Presiden Donald Trump.
Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap gaya kepemimpinan yang dinilai otoriter, kebijakan imigrasi yang keras, serta keterlibatan Amerika dalam konflik dengan Iran.
Baca juga: Operation Epic Fury Akhirnya Berakhir
Dilaporkan Associated Press, yang dikutip Redaksi JatimUPdate.id pada Minggu malam (29/03/2026), menyebutkan gelombang demonstrasi tidak hanya terjadi di AS, tetapi juga meluas ke sejumlah negara di Eropa.
Para peserta aksi menyuarakan penolakan terhadap perang di Iran serta kebijakan luar negeri pemerintahan Trump.
Penyelenggara memperkirakan partisipasi massa dalam aksi ini terus meningkat. Dua gelombang sebelumnya pada Juni dan Oktober masing-masing diikuti lebih dari 5 juta dan 7 juta orang.
Untuk aksi terbaru, jumlah peserta diproyeksikan mencapai 9 juta orang, meski angka pastinya belum dapat dipastikan.
Di negara bagian Minnesota, aksi utama digelar di halaman Gedung Capitol, St. Paul.
Acara tersebut menghadirkan penampilan musisi Bruce Springsteen.
Sebelum penampilannya, panitia memutar video dari aktor senior Robert De Niro yang menyampaikan kritik keras terhadap Trump, bahkan mengaku merasa tertekan setiap hari akibat kepemimpinannya.
Baca juga: Jurus Mabuk Trump : Kekuasaan Yang Kehilangan Arah Dan Kepercayaan Global
Menurut Ezra Levin, salah satu direktur eksekutif organisasi Indivisible, aksi serupa juga berlangsung di lebih dari selusin negara.
Demonstrasi Merambah Eropa
Di Italia, ribuan orang turun ke jalan di Roma dengan membawa tuntutan kepada Perdana Menteri Giorgia Meloni, sekaligus memprotes serangan militer terhadap Iran.
Sementara itu, di London, demonstran mengusung slogan penolakan terhadap ekstremisme sayap kanan dan rasisme.
Baca juga: Iran: Pride Persia atau Misi Islam
Aksi juga berlangsung di Paris, di mana ratusan orang—sebagian besar warga Amerika yang tinggal di Prancis—berkumpul di kawasan Bastille bersama serikat pekerja dan organisasi hak asasi manusia.
Salah satu penyelenggara aksi, Ada Shen, menegaskan bahwa demonstrasi ini merupakan bentuk penolakan terhadap kebijakan perang yang dinilai ilegal dan tidak bermoral. “Saya memprotes semua perang ilegal, tidak bermoral, sembrono, dan tidak becus yang dilancarkan Trump,” ujarnya.
Gelombang aksi “No Kings” ini mencerminkan meningkatnya ketegangan politik dan kritik publik terhadap arah kebijakan pemerintahan Amerika Serikat, baik di dalam negeri maupun di panggung global. (AP/pm/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat