Jembatan Sentong Ditutup, Omzet Usaha Anjlok 50%: Pemkab Bondowoso Kebut Jembatan Darurat 14 Hari

Reporter : M Aris Effendi
Pekerja membangun jembatan darurat berbahan kayu di kawasan Jembatan Sentong, Bondowoso. Fasilitas sementara ini ditargetkan rampung dalam 14 hari untuk menjaga akses penyeberangan warga setelah jembatan utama ditutup total.

 

Bondowoso, JatimUpdate.id – Penutupan total Jembatan Sentong di ruas Jalan Mastrip, Kabupaten Bondowoso, tak hanya memutus akses utama. Dampaknya langsung terasa ke kantong warga. Sejumlah pelaku usaha mengaku omzet mereka anjlok hingga 50 persen sejak jalur penghubung Bondowoso–Jember itu tidak lagi bisa dilalui.

Baca juga: Warga Terdampak Jembatan Sentong Minta Akses Darurat, Omzet Usaha Anjlok hingga 50 Persen

Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Bondowoso bergerak cepat dengan mengebut pembangunan jembatan darurat yang ditargetkan rampung dalam 14 hari.

Langkah ini diambil menyusul rencana pembongkaran total jembatan lama, sekaligus untuk menjaga mobilitas warga, terutama pejalan kaki yang selama ini masih nekat menyeberang.

“Biasanya ramai, sekarang sepi. Banyak pelanggan yang akhirnya tidak lewat sini,” ujar salah satu pedagang di sekitar lokasi.

Fenomena di lapangan menunjukkan tekanan ekonomi yang nyata. Selain omzet menurun, biaya distribusi meningkat karena warga harus memutar jauh melalui jalur alternatif.

Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso mulai membangun jembatan darurat berbahan kayu sebagai jalur penyeberangan sementara. Akses ini diprioritaskan bagi pejalan kaki selama proses pembangunan jembatan permanen berlangsung.

Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo, mengatakan pembangunan tersebut menggunakan anggaran sebesar Rp75 juta dari Dana Belanja Tidak Terduga (BTT).

“Memakai konstruksi kayu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, jembatan darurat secara peruntukan hanya untuk pejalan kaki. Namun, secara kekuatan memungkinkan dilalui kendaraan roda dua dengan syarat harus melalui uji kelayakan terlebih dahulu.

Baca juga: Bupati Bondowoso Dorong PKK Kawal Stunting, Pangan, dan Literasi Digital Keluarga

“Nanti sebelum dibuka atau digunakan, kami akan melakukan pengujian,” kata Kristianto saat dikonfirmasi, Minggu (19/4/2026).

Pembangunan dimulai sejak Minggu, 11 April 2026, dan ditargetkan selesai dalam waktu dua pekan.

Dengan demikian, saat pembongkaran total Jembatan Sentong dilakukan, warga tetap memiliki akses penyeberangan yang lebih aman.

“Kami sesuaikan dengan kekuatan kayunya. Maksimal bebannya berapa, tingginya harus berapa. Jalur masuk dan keluarnya juga kami sesuaikan,” jelasnya.

Meski telah ditutup, realitas di lapangan menunjukkan warga belum sepenuhnya berhenti beraktivitas. Sejumlah pejalan kaki masih nekat menyeberang, bahkan memanfaatkan celah yang ada.

Baca juga: Khodijatul Qodriyah Lantik 14 Ketua TP PKK Kecamatan, Dorong Penguatan Keluarga hingga Akar Rumput

Tak hanya itu, muncul pula jasa penitipan kendaraan atau parkir dadakan di sekitar lokasi. Warga memarkir kendaraan di satu sisi, lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melintasi area jembatan yang rusak.

Sementara itu, tanda dimulainya proyek penggantian jembatan permanen juga mulai terlihat. Dalam beberapa hari terakhir, dua alat berat berupa ekskavator dan mesin bore pile telah berada di lokasi.

Kehadiran alat berat tersebut menandai dimulainya tahapan pembangunan, sekaligus memastikan bahwa jembatan lama akan segera dibongkar total. Dengan kondisi tersebut, akses lama dipastikan tidak lagi dapat digunakan.

Pemkab Bondowoso berharap jembatan darurat ini menjadi solusi sementara. Namun bagi warga, waktu tetap menjadi persoalan.

Selama akses utama belum tergantikan, setiap hari tanpa jembatan berarti tambahan jarak, biaya, dan tekanan ekonomi yang terus bertambah.

Editor : Miftahul Rachman

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru