Surabaya,JatimUPdate.id - Pengamat politik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Ken Bimo Sultoni, buka suara terkait munculnya flyer Rini Indriyani - Fikser sebagai calon walikota dan cawawali Surabaya, akhir-akhir ini.
Bimo menganggap flayer tersebut cuma cek ombak politik karena Pilwali Surabaya masih panjang dan dinamis.
Baca juga: Surabaya Vaganza 2026, Pakar Unesa Singgung Disiplin Anggaran dan Perputaran Ekonomi Lokal
"Saya kira lebih tepat dibaca sebagai bagian dari strategi cek ombak politik," tutur Bimo, kepada Jatimupdate.id, Senin (25/5).
Sebab kata Bimo cek ombak berbeda dengan deklarasi politik yang sifatnya sudah final mengusung pasangan calon.
Bimo menambahkan dalam komunikasi politik modern, elite suka melempar simbol, narasi maupun visual kandidat ke ruang publik.
Langkah tersebut kata Bimo untuk mengukur respons masyarakat, elite partai, komunitas, hingga kekuatan ekonomi publik lokal.
Baca juga: Pakar Unesa Sebut Surabaya Vaganza Punya Nilai Positif, Tapi Ingatkan Prinsip Kehati-hatian Fiskal
"Jadi secara akademis kita melihat fenomena ini teori political marketing dan agenda setting," urai Bimo.
Bimo menegaskan, flayer itu bukan alat kampanye. Kendati begitu menjadi instrumen obrolan publik sejak dini.
Publik lanjut Bimo secara berlahan diajak membentuk persepsi awal terhadap kedua figur tersebut.
Baca juga: Pakar: Jakarta Punya Pengalaman, Surabaya Perlu Ambil Pelajaran Bukan Antipati Urbanisasi
"Ini bisa menjadi instrumen membangun percakapan publik sejak dini," papar Bimo.
Menurut Bimo, langkah tersebut kerap digunakan dalam dunia politik untuk meningkatkan elektoral maupun elektabilitas.
"Dan itu dibangun jauh sebelum tahapan resmi dari pemilih itu dimulai," beber Ken Bimo Sultoni. (Roy)
Editor : Yuris. T. Hidayat