Hari Lahir Pancasila dan Bung Karno : Merawat Semangat Kebangsaan dari Timur Indonesia

Reporter : Redaksi
Ishadi Ishak 

 

Oleh : Ishadi Ishak 

Baca juga: Ketika Keadilan Sosial Menjadi Ujian Pancasila

Peserta Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) XI Megawati Institute

 

 

Makasar, JatimUPdate.id - Bulan Juni memiliki arti yang sangat penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah rakyat Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila setiap tanggal 1 Juni, hari kelahiran Sukarno pada 6 Juni, dan hari wafatnya pada 21 Juni.

Rangkaian momentum tersebut dikenal sebagai Bulan Bung Karno, sebuah periode refleksi untuk mengenang sekaligus mengaktualisasikan pemikiran sang Proklamator dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Peringatan Hari Lahir Pancasila tidak dapat dipisahkan dari sosok Bung Karno. Dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno menyampaikan pidato monumental yang memperkenalkan konsep Pancasila sebagai dasar negara Indonesia merdeka. Gagasan tersebut lahir dari pergulatan panjang pemikiran, pengalaman perjuangan, dan pengamatan mendalam terhadap karakter masyarakat Indonesia yang majemuk.

Lebih dari sekadar dasar negara, Pancasila merupakan titik temu dari berbagai perbedaan yang ada di Indonesia. Bung Karno memahami bahwa bangsa yang terdiri atas ratusan suku, bahasa, dan budaya membutuhkan fondasi yang mampu mempersatukan seluruh elemen bangsa tanpa menghilangkan identitas masing-masing. Karena itu, Pancasila menjadi rumah bersama yang hingga kini menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam perjalanan sejarah, Bung Karno tidak hanya dikenal sebagai pemimpin politik, tetapi juga seorang pemikir yang memiliki visi besar tentang masa depan bangsa.

Ia meyakini bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir, melainkan jembatan emas menuju masyarakat yang adil, makmur, dan bermartabat. Karena itu, perjuangan setelah kemerdekaan harus diarahkan pada pembangunan manusia dan kesejahteraan rakyat.

Pemikiran Bung Karno tentang nasionalisme juga memiliki karakter yang khas. Nasionalisme yang ia perjuangkan bukanlah nasionalisme yang sempit dan eksklusif, melainkan nasionalisme yang menghormati kemanusiaan dan persaudaraan antarbangsa. Baginya, cinta tanah air harus berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal.

Dalam konteks kekinian, pesan tersebut tetap relevan. Indonesia menghadapi berbagai tantangan baru, mulai dari polarisasi sosial, ketimpangan ekonomi, hingga derasnya arus globalisasi yang dapat mengikis identitas kebangsaan. Di tengah tantangan tersebut, Pancasila tetap menjadi kompas moral yang menuntun arah pembangunan bangsa.

Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, Bulan Bung Karno memiliki makna tersendiri karena daerah ini menyimpan sejumlah jejak penting perjalanan sejarah sang Proklamator. Sulawesi Selatan menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus Bung Karno dalam upaya memperkuat persatuan nasional pasca kemerdekaan.

Pada masa Revolusi Kemerdekaan, Sulawesi Selatan menghadapi berbagai pergolakan yang mengancam integrasi bangsa. Salah satu peristiwa yang paling dikenang adalah tragedi pembantaian yang dilakukan pasukan kolonial Belanda di bawah pimpinan Raymond Westerling pada tahun 1946–1947.

Peristiwa tersebut menimbulkan penderitaan besar bagi rakyat Sulawesi Selatan dan menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Baca juga: Nation Character Building: Antara Visi Bung Karno dan Realitas yang Terlambat

Setelah pengakuan kedaulatan, Bung Karno beberapa kali melakukan kunjungan ke Sulawesi Selatan untuk memperkuat semangat persatuan nasional dan pembangunan daerah.

Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan bahwa Sulawesi Selatan merupakan bagian penting dari masa depan Indonesia sebagai negara kepulauan yang besar.

Kunjungan Bung Karno ke Makassar selalu mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Kehadirannya bukan hanya sebagai Presiden Republik Indonesia, tetapi juga sebagai simbol perjuangan dan harapan bagi rakyat yang baru saja melewati masa-masa sulit akibat penjajahan dan konflik politik.

Jejak Bung Karno di Sulawesi Selatan tidak hanya tercatat dalam kunjungan kenegaraan, tetapi juga melalui hubungan eratnya dengan sejumlah tokoh pejuang dan pemimpin daerah. Salah satunya adalah Andi Djemma, Raja Luwu yang dikenal sebagai pendukung setia Republik Indonesia pada masa-masa awal kemerdekaan.

Di tengah berbagai upaya pembentukan negara federal oleh Belanda, Andi Djemma memilih berdiri teguh bersama Republik dan menjalin komunikasi dengan pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Bung Karno demi mempertahankan keutuhan Indonesia.

Selain itu, terdapat pula Andi Mappanyukki yang menjadi simbol perlawanan rakyat Sulawesi Selatan terhadap kolonialisme. Sebagai tokoh yang dihormati masyarakat Bugis, Andi Mappanyukki memberikan dukungan moral dan politik terhadap perjuangan kemerdekaan yang dipimpin Bung Karno. Semangat kebangsaan yang diperjuangkannya sejalan dengan cita-cita Indonesia merdeka yang berlandaskan persatuan dan keadilan sosial.

Nama lain yang memiliki kedekatan dengan perjalanan Republik adalah Andi Pangerang Petta Rani. Tokoh ini dikenal aktif mendukung integrasi Sulawesi Selatan ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia serta menjadi salah satu figur penting yang menjembatani kepentingan daerah dengan pemerintah pusat. Hubungan yang terjalin antara tokoh-tokoh Sulawesi Selatan dan Bung Karno menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan Indonesia tidak hanya dilakukan dari Jakarta, tetapi juga tumbuh kuat dari daerah-daerah yang memiliki komitmen besar terhadap persatuan bangsa.

Kisah-kisah tersebut memperlihatkan bahwa semangat Pancasila sesungguhnya telah hidup dalam tindakan para pemimpin bangsa dan daerah sejak awal kemerdekaan. Bung Karno dan para tokoh Sulawesi Selatan memahami bahwa keberagaman Indonesia hanya dapat dirawat melalui persatuan, gotong royong, dan kesediaan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok. Nilai-nilai inilah yang tetap relevan untuk diwariskan kepada generasi masa kini sebagai fondasi dalam menghadapi berbagai tantangan kebangsaan.

Baca juga: Margono Djojohadikusumo, Koperasi dan Ekonomi Kerakyatan

Bung Karno juga memberikan perhatian besar terhadap pembangunan kawasan Indonesia Timur. Ia meyakini bahwa kemajuan Indonesia tidak boleh hanya terpusat di Pulau Jawa. Daerah-daerah seperti Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua harus memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi terhadap kemajuan nasional.

Di Sulawesi Selatan, warisan pemikiran Bung Karno masih dapat dirasakan hingga saat ini melalui semangat persatuan, gotong royong, dan kebanggaan terhadap identitas kebangsaan. Nilai-nilai tersebut menjadi modal sosial yang penting dalam menghadapi tantangan pembangunan modern.

Peringatan Hari Lahir Pancasila juga menjadi momentum untuk mengingat kembali pesan Bung Karno mengenai pentingnya karakter bangsa. Menurutnya, kemajuan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam atau kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kualitas manusia yang memiliki integritas, semangat kebangsaan, dan kepedulian terhadap sesama.

Karena itu, generasi muda Indonesia perlu menjadikan Pancasila bukan sekadar hafalan, melainkan pedoman hidup. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial harus diwujudkan dalam tindakan nyata di lingkungan keluarga, sekolah, kampus, tempat kerja, maupun ruang publik.

Pada akhirnya, Hari Lahir Pancasila dan Bulan Bung Karno adalah momentum untuk meneguhkan kembali komitmen kebangsaan. Mengenang Bung Karno bukan berarti terjebak dalam romantisme masa lalu, melainkan mengambil inspirasi dari keberanian berpikir, keteguhan dalam memperjuangkan persatuan, dan keyakinannya bahwa Indonesia dapat menjadi bangsa besar. Dari Jakarta hingga Makassar, dari Sabang hingga Merauke, api perjuangan yang dinyalakan Bung Karno harus terus hidup untuk menerangi perjalanan Indonesia menuju masa depan yang lebih maju, adil, dan bermartabat.

 

 

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru