Cerita Pendek
Warkop Ekspektasi Bagian 2: Bara di Ruang Tamu (Seri II)
JatimUPdate.id - Bahar Khan memandang Ayu Chen beberapa saat. Ia baru mengerti mengapa sejak tadi perempuan itu bersikap dingin. Rupanya, pertemuan di Warkop Ekspektasi lebih dahulu dilihat olehnya.
Bahar Khan tidak menyangka sebuah pertemuan yang baginya biasa saja justru melahirkan kecurigaan sebesar itu.
Ia menarik napas pelan, berusaha menenangkan suasana yang mulai memanas.
"Duduklah dulu. Akan kujelaskan semuanya," ucap Bahar Khan dengan nada tenang.
Ajakan itu tidak dihiraukan. Ayu Chen tetap berdiri di hadapannya. Sorot matanya masih tajam seolah menunggu pengakuan yang sejak tadi diyakininya.
"Kamu jangan menganggap aku tidak tahu. Aku melihat sendiri kalian berkumpul di Warkop Ekspektasi." katanya. Bahar Khan menganggukkan kepala.
"Benar. Kami memang berkumpul." ucap Bahar Khan.
"Membahas apa?" sergah Ayu Chen
"Soal keadaan ekonomi." jawab Bahar Khan, mencoba meyakinkan.
Namun jawaban itu justru membuat Ayu Chen tersenyum sinis.
"Ekonomi? Apa aku percaya semudah itu?" bentak Ayu Chen. Bahar Khan memahami ke mana arah pembicaraan tersebut.
Ia pun menjelaskan pertemuan itu dihadiri beberapa sahabat lamanya yang pernah sama-sama menyuarakan kepentingan masyarakat kecil.
Kini jalan hidup mereka telah berubah. Sebagian mengabdikan diri kepada negara, adapula yang memilih membangun usaha, sementara yang lain tetap aktif mendampingi masyarakat.
Mereka berkumpul bukan untuk menyusun gerakan seperti yang dibayangkan Ayu Chen. Pembicaraan sore itu lebih banyak menyoroti kondisi masyarakat setelah pandemi.
Banyak pengusaha gulung tikar, lapangan pekerjaan menyusut, sementara rakyat kecil masih berjuang mengembalikan kehidupan mereka seperti sediakala.
Namun penjelasan itu tidak mampu mengubah keyakinan Ayu Chen. Di dalam benaknya, orang-orang yang pernah melawan penguasa tidak akan mudah meninggalkan watak lamanya. Sekalipun kini berada dalam lingkaran kekuasaan.
Ayu Chen meyakini mereka tetap menyimpan keinginan untuk kembali melakukan perlawanan jika kesempatan itu datang.
Bahar Khan hanya bisa menggeleng pelan. Ia mulai memahami rasa curiga telah lebih dulu memenuhi pikiran Ayu Chen.
Dalam keadaan seperti itu, penjelasan sebaik apa pun sering kali hanya dianggap sebagai pembenaran.
"Aku tidak percaya," tegas Ayu Chen.
Kalimat itu terdengar beberapa kata, namun seolah menunjukkan ketegasan, cukup membuat Bahar Khan terdiam. Sesungguhnya ia ingin menjelaskan lebih banyak lagi.
Namun ia mengurungkan niatnya. Ia mengenal betul sifat Ayu Chen. Ketika emosinya sedang menguasai pikiran, semua penjelasan hanya akan dianggap sebagai alasan.
Selang beberapa saat Ayu Chen kembali berbicara. Kali ini nada suaranya lebih tinggi. Ia mengatakan jika pertemuan itu mengarah pada upaya menggoyang kekuasaan, maka seluruh fasilitas yang selama ini dinikmati Bahar Khan dan kawan-kawannya harus dicabut.
Bahkan tambah Ayu Chen mereka pantas kembali mendekam di penjara seperti dahulu. Mendengar ucapan itu, Bahar Khan tidak segera menjawab.
Ia lebih banyak menundukkan kepala. Dalam hati ia bertanya mengapa perempuan yang begitu dicintainya lebih mudah mempercayai prasangka daripada mempercayai dirinya.
Bukan sekali ini saja mereka bertengkar karena persoalan serupa. Berkali-kali Bahar Khan memilih mengalah. Bukan karena merasa kalah, melainkan karena ia percaya kemarahan tidak akan pernah selesai jika dibalas dengan kemarahan.
Ia juga sadar, memaksa seseorang menerima penjelasan ketika emosinya sedang memuncak hanyalah pekerjaan yang sia-sia. Maka dari itu Bahar Khan memilih diam.
Diam baginya bukan tanda menyerah, melainkan cara agar persoalan tidak semakin melebar.
Beberapa saat kemudian ia mengambil jaket yang tergantung di balik pintu. Tatapannya kembali mengarah kepada Ayu Chen.
"Aku keluar sebentar." kata Bahar Khan.
Hanya itu yang diucapkannya. Tanpa menunggu jawaban ia melangkah meninggalkan rumah.
***
Suara mesin motor tuanya memecah kesunyian malam. Kendaraan itu perlahan menjauh meninggalkan halaman rumah, sementara Ayu Chen tetap berdiri di ruang tamu.
Perempuan itu masih memandangi pintu yang telah tertutup rapat. Entah mengapa, setelah Bahar Khan benar-benar pergi, kemarahannya tidak juga mereda.
Pun hatinya mulai dipenuhi kegelisahan yang sulit dijelaskan.
Di sisi lain, Bahar Khan terus melajukan motornya tanpa arah. Ia tidak berniat melarikan diri dari persoalan. Ia hanya ingin memberi waktu agar hati dan pikiran mereka sama-sama tenang.
Ia percaya, ada saatnya sebuah persoalan lebih baik diselesaikan setelah amarah reda.
Malam semakin larut lampu-lampu jalan menemani perjalanan Bahar Khan menyusuri sudut-sudut kota. Tanpa disadarinya, perjalanan malam itu akan membawanya bertemu seseorang yang kelak membuka lembaran baru dalam hidupnya.
Editor : Yuris. T. Hidayat