Oleh: Hadipras
JatimUPdate.id - Sejak dekade tujuh puluhan, kita telah dididik untuk menghafal sembilan bahan pokok (sembako) yang wajib ada di dapur demi menyambung hidup. Beras, gula, minyak goreng, hingga daging harus dipastikan aman pasokannya agar isi perut tidak bergejolak. Namun, di tengah peradaban modern sebuah negeri yang katanya menganut kedaulatan rakyat, formula itu rupanya sudah kedaluwarsa.
Ada satu komoditas non-fisik yang diam-diam menyusup, menduduki peringkat teratas, dan bertransformasi menjadi "Bahan Pokok Ke-10"—yaitu hipokritisme (kemunafikan).
Jika sembilan bahan pokok bertugas memberi nutrisi pada raga, maka bahan pokok ke-10 ini bertugas menjaga kelangsungan posisi, status sosial, dan gengsi. Tanpanya, roda kehidupan sosial dan profesional akan macet seketika.
Sifat ini bukan lagi sekedar penyimpangan perilaku, melainkan sudah menjadi asupan harian yang dikonsumsi oleh mayoritas masyarakat dari berbagai strata dan profesi.
Konsumsi massal atas bahan pokok ke-10 ini lahir dari kelihaian kita mengoplos dua zat yang sejatinya saling bertolak belakang: creed (prinsip/keyakinan) dan greed (keserakahan).
Di ruang publik, kita menyaksikan sebuah pasar malam di mana creed dipajang dengan sangat etis dan estetik. Jargon moralitas, khotbah kesucian, hingga janji-janji luhur diobral murah di setiap sudut. Namun, di balik etalase yang megah itu, mesin penggerak aslinya adalah greed yang tak pernah kenyang.
Di sinilah wilayah abu-abu itu bekerja dengan sangat rapi. Kita tidak benar-benar membuang creed, kita hanya menggunakannya sebagai bedak kosmetik untuk menutupi greed. Tengok saja bagaimana sebuah program mulia seperti pemenuhan gizi generasi masa depan diwacanakan dengan begitu sakral.
Di panggung formal, semua berbicara tentang mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi di ruang-ruang gelap, kalkulator keserakahan mulai menghitung jatah pengadaan susu dan pemotongan anggaran menu. Begitu pula saat berbicara tentang ketahanan pangan lewat modernisasi desa dan penyediaan komoditas penting.
Baca juga: Aliansi Madura Indonesia Gelontorkan 2.000 Paket Sembako di depan Gedung Negara Grahadi
Kemasan programnya selalu atas nama penyelamatan hajat hidup orang banyak, padahal esensinya sering kali hanyalah pembagian konsesi bagi para pemburu rente yang bersembunyi di balik regulasi.
Bahan pokok ke-10 ini begitu laris karena ia menawarkan solusi instan: kita bisa tetap terlihat suci di hadapan manusia tanpa harus kehilangan kesempatan untuk memuaskan syahwat duniawi.
Kelangkaan bahan pokok ke-10 ini adalah kemustahilan, sebab produsen utamanya bertindak sangat ekspansif dan efisien. Di puncak menara politik kekuasaan, industri kemunafikan ini dikelola dengan manajemen modern yang sangat canggih.
Sistem politik kita hari ini adalah sebuah laboratorium raksasa yang bertugas membiakkan pasokan bahan pokok ke-10 agar tetap melimpah di pasaran. Kekuasaan tidak membutuhkan aktor yang otentik; kekuasaan hanya membutuhkan para pembual yang mampu membaca teks penderitaan rakyat dengan air mata buatan yang meyakinkan. Tengok saja perhelatan akbar lima tahunan.
Di permukaan, ia disebut sebagai pesta demokrasi, namun di balik layar ia tak lebih dari sebuah operasi logistik raksasa yang sangat transaksional. Kardus-kardus suara dikirim ke pelosok negeri, bukan sekedar membawa kertas kosong, melainkan membawa muatan janji-janji manis yang sudah kedaluwarsa bahkan sebelum dihitung. Setiap menjelang pencoblosan, pabrik kekuasaan ini akan mendistribusikan "bumbu" kemunafikan secara gratis dan masif.
Para calon penguasa mendadak memakai atribut kaum papa, berjongkok di selokan demi jepretan kamera, dan merapalkan petuah-petuah luhur seolah-olah kursi jabatan adalah platform ibadah mereka
Para arsitek kekuasaan ini sangat paham bahwa memelihara pasokan bahan pokok ke-10 di tengah masyarakat adalah investasi terbaik untuk mengamankan takhta. Rakyat yang sudah terbiasa mengonsumsi kemunafikan tidak akan pernah protes ketika janji kampanye menguap begitu saja setelah pelantikan. Mereka akan maklum, karena mereka sendiri mempraktikkan hal yang sama dalam skala kecil di kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, politik kekuasaan kita telah berhasil menciptakan sebuah tatanan yang sangat harmonis sekaligus jenius.
Sebuah sirkus kenegaraan di mana para pemimpinnya berpura-pura melayani, rakyatnya berpura-pura sejahtera, dan semua pihak sepakat untuk saling mengunyah bahan pokok ke-10 ini dengan lahap sembari tersenyum penuh kepalsuan. Di negeri ini, kejujuran hanyalah sejenis barang antik yang mahal, tidak mengenyangkan, dan dilarang keras untuk dibawa ke dalam pasar malam kekuasaan. (*)
Editor : Redaksi