Terima kasih untuk Kepala SD Muhammadiyah 1 Trenggalek yang Mengkritik MBG

Reporter : Redaksi
Instagram Hariqo Satria Wibowo

 

 

Baca juga: Banggar DPR: Anggaran Program Makan Bergizi Gratis 2027 Diproyeksi Turun Jadi Rp174 Triliun

Oleh: Hariqo Wibawa Satria

Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah RI

 

Jakarta, JatimUPdate.id - Guru kita Kepala SD Muhammadiyah 1 Trenggalek, Bapak Ikhsan Nur Wahyudi mengatakan:

SD Muhammadiyah 1 Trenggalek memutuskan tidak lagi ikut program Makan Bergizi Gratis atau MBG.

Beliau menyampaikan tiga penyebabnya:

Pertama, MBG itu menyita waktu pelajaran minimal setengah jam, atau mengurangi durasi pembelajaran.

Kedua, SD Muhammadiyah 1 Trenggalek merasa ada sekolah yang lebih membutuhkan.

Ketiga, masalah sisa makanan yang mubazir.

Beliau melanjutkan seperti yang ditulis beberapa media, keputusan tersebut bukan karena sekolah menolak pentingnya pemenuhan gizi bagi anak-anak.

Karena itu, sekolah memilih kembali mengoptimalkan program makan siang mandiri yang telah dijalankan sejak awal berdiri.

Terima kasih kami haturkan kepada yang kami hormati Kepala SD Muhammadiyah 1 Trenggalek, Bapak Ikhsan Nur Wahyudi.

Kami sangat menghormati. Pernyataan Bapak Ikhsan Nur Wahyudi di poin kedua dan ketiga itu benar, di bagian bawah kami apresiasi dan jelaskan.

Baik, yang pertama soal jam pelajaran. Dengan hormat perlu kami sampaikan bahwa MBG itu sendiri adalah pelajaran.

Sebelum, saat atau sesudah makan adalah saat yang tepat untuk menyampaikan tentang:

1) Penghormatan terhadap perjuangan dari Ibu Bapak kita para petani, peternak, nelayan, pekebun, dan pengusaha lokal yang menyediakan bahan pangan kita.

2) Penumbuhan rasa hormat atas perjuangan para guru, tenaga kesehatan dalam mengedukasi soal gizi, dan perjuangan kedua orang tua siswa di rumah yang berjuang menafkahi keluarga.

3) Pendidikan gizi terapan untuk membangun pola makan seimbang dan mencegah masalah kesehatan, seperti anemia, cuci darah sejak usia dini.

4) Penerapan tata krama makan serta penumbuhan kesadaran untuk tidak menyisakan makanan, menceritakan cara mengolah limbah makanan.

5) Pengenalan dasar konsep kemandirian dan swasembada pangan nasional.

6) Edukasi mengenai kekayaan dan keberagaman komoditas pangan lokal Nusantara. Menjelaskan Bhinneka Tunggal Ika dari makanan.

7) Pemberian ruang ekspresi bagi siswa untuk secara bergantian menceritakan tradisi atau budaya makan di keluarga masing-masing.

8) Pendidikan karakter praktis melalui budaya antre, gotong royong saat menyajikan makanan, hingga tanggung jawab merapikan peralatan makan sendiri.

9) Wawasan global mengenai proses perjalanan program "MBG" di berbagai negara yang telah berjalan selama 50 tahun bahkan di atas 70 tahun.

10) Penanaman nilai-nilai integritas, transparansi, dan kejujuran sebagai dasar pencegahan korupsi sejak usia dini.

Tentu saja, pendidikan ini bisa kita sisipkan secara alami dan bertahap, bukan diubah menjadi mata pelajaran formal baru yang membebani Ibu dan Bapak kita para guru.

Hal ini sepenuhnya menyesuaikan dengan kebijaksanaan dan kenyamanan sekolah, dan memang ada penelitian yang menyebutkan bahwa makan bersama itu sehat.

Di Jepang, makan siang di sekolah dikenal dengan istilah Kyushoku dianggap sebagai bagian dari pendidikan moral dan karakter.

Siswa diajarkan tentang kesetaraan, rasa hormat dan tanggung jawab soal kebersihan karena tidak ada staf kebersihan, menumbuhkan rasa syukur dan kebanggaan pada pangan lokal.

Baca juga: Kejagung Tetapkan Pejabat Badan Gizi Nasional Tersangka Korupsi Program Makan Bergizi Gratis

Intinya makan di sekolah adalah media praktis untuk mengajarkan kerja sama tim, empati, dan tanggung jawab sosial.

MBG di Indonesia itu mirip di Jepang dengan sistem dapur umum atau SPPG.

Nanti di daerah 3T akan berkolaborasi dengan sekolah, beserta penyesuaian lainnya.

Kritik dan saran dari siapa pun sangat-sangat berharga.

Kedua, kami setuju dengan Kepala SD Muhammadiyah 1 Trenggalek, Bapak Ikhsan Nur Wahyudi. Kita memahami bahwa setiap sekolah memiliki situasi yang berbeda.

Jika sebuah sekolah telah memiliki fasilitas atau program internal yang memadai untuk memenuhi standar gizi siswanya, serta didukung kemampuan partisipasi para orang tua dan kemandirian gizi dari pihak keluarga, maka sekolah tersebut memiliki hak untuk tidak ikut serta dalam program MBG.

Kebijakan ini sudah merupakan bagian dari arahan Pimpinan Badan Gizi Nasional.

Ketiga, kami setuju dengan kritik dari Kepala SD Muhammadiyah 1 Trenggalek, Bapak Ikhsan Nur Wahyudi tentang sisa makanan, limbah MBG dan lain-lain.

Pimpinan Badan Gizi Nasional sudah meminta Dapur MBG untuk menyesuaikan standar porsi untuk anak-anak kita siswa SD.

Selain itu, ada banyak Dapur MBG dan  SPPG yang telah berhasil mengolah limbah MBG menjadi biogas, sumber energi bersih dan lain-lain.

Limbah MBG juga diolah menjadi sumber protein tinggi untuk ayam, ikan, lele dll.

Ini bisa menciptakan sirkulasi ekonomi baru bagi masyarakat sekitar atau pihak sekolah.

Sisa makanan memerlukan evaluasi mendalam, apakah karena perlunya penyesuaian cita rasa menu dengan selera lokal, atau karena anak-anak kita sedang dalam proses adaptasi untuk beralih ke menu sehat bergizi seimbang.

Mungkin juga karena lidah dari anak-anak kita yang sudah terbiasa dengan jajanan yang gula, garam dan lemaknya berlebihan atau karena sebab-sebab lainnya.

Setiap sekolah punya pengalaman yang berbeda, dan ini sangat terbuka untuk sama-sama kita perbaiki.

Ada kisah nyata dari SMA 1 Medan. Seperti dituliskan oleh akun IG delocomotief45:

Baca juga: Kader PDIP Dilarang Kelola Dapur MBG, Ini Respons Saleh Ismail Mukadar

Tujuh siswa di SMA 1 Medan melihat tumpukan sampah organik itu bukan sebagai masalah, tapi sebagai peluang.

Mereka mengubahnya jadi bata dan genteng ramah lingkungan lewat inovasi bernama GREEN.

Dua bulan penuh percobaan gagal, formula hancur saat dibakar, sampai akhirnya mereka menemukan komposisi yang tepat.

Hasilnya? Mengalahkan ratusan tim dari Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Kanada, Polandia, sampai Uni Emirat Arab. Gold Medal di Osaka, Jepang.

Karya sudah didaftarkan HAKI.

Program yang katanya cuma soal makan, ternyata melahirkan solusi lingkungan yang diakui dunia.

Ini bukti bahwa kebijakan besar selalu punya efek berantai yang bermanfaat bagi banyak saudara-saudara kita.

"MBG" di Maroko sudah 60 tahun, USA 80 tahun, Jepang 72 tahun, Brasil 71 tahun, Korea Selatan 15 tahun, India 70 tahun.

Seluruh negara berlomba-lomba memperjuangkan masa depan ibu hamil, ibu menyusui, balita dan pelajarnya.

MBG di Indonesia baru 19 bulan, maka kita wajib terus menerus melakukan perbaikan.

Siapa pun yang mengkritik program MBG adalah pahlawan gizi Indonesia. Kita semua satu tim.

Keberhasilan program ini adalah keberhasilan seluruh masyarakat Indonesia.

Terima kasih kami haturkan. Hormat kami.

Sumber Instagram Hariqo Wibawa Satria,  https:https://www.instagram.com/p/Dau14WZE5o1/?igsh=MXFjODkwd2Qxd2tocw==

 

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru