Cerita Pendek

Mahkota Para Bayangan (Bagian III)

Reporter : Redaksi
Ilustrasi cerita pendek Mahkota Para Bayangan, Jatimupdate.id

JatimUPdate.id - Langit tampak mendung sejak pagi. Di gedung parlemen aktivitas berlangsung seperti biasa, wartawan hilir mudik mengejar narasumber. Tampak pula para staf membawa map tebal berisi rancangan undang-undang. 

Di lobi utama, para legislator saling melempar senyum, meski tak semuanya saling percaya. 

Baca juga: Warkop Ekspektasi Bagian 3: Secangkir Kopi di Ujung Kota

Adrian Kareem baru saja selesai mengikuti rapat komisi. Ia berjalan menuju ruang kerjanya ditemani sekretaris pribadinya, Rendra.

"Besok jadwal ke daerah pemilihan sudah siap?" tanya Adrian.

"Sudah, Pak, tapi ada satu tamu yang meminta waktu," jawabnya

"Siapa?" tanya Adrian penasaran, sambil membenahi kerah bajunya.

"Bu Elena," mendengar nama yang tidak asing Adrian berhenti melangkah, ia tersenyum tipis mengingat beberapa pertemuan dengan Elena akhir-akhir ini. 

Adrian menganggap Elena sosok yang cerdas, enak diajak ngobrol, tidak merepotkan dan selalu ada ruang untuk diajak diskusi meskipun via seluler.

Adrian menyuruhnya memasukkan pertemuan dengan Elena sore hari. Rendra mengangguk. Namun saat Adrian masuk ke ruangannya, Rendra justru memandang ke arah lorong gedung parlemen.

Entah mengapa, sejak beberapa hari terakhir ia merasa ada seseorang yang selalu memperhatikan atasannya. Perasaan itu semakin kuat. Sore harinya Elena datang membawa setumpuk dokumen.

"Ada hasil penelitian baru?" tanya Adrian.

"Bukan saya ingin memperlihatkan sesuatu." Elena lantas mengeluarkan beberapa lembar hasil survei. Mayoritas masyarakat masih menaruh kepercayaan tinggi kepada Adrian.

Namun ada satu grafik yang mulai berubah, kepercayaan publik mulai turun, meski sangat tipis. Adrian memperhatikannya cukup lama.

"Ini baru permulaan, seseorang sedang membangun opini tentang Anda." Adrian tersenyum, ia sepakat dengan Elena ada seseorang yang mencoba untuk menjatuhkannya. 

Namun Adrian tetap tenang, ia menganggap selama tindakannya benar, badai itu pasti akan dilaluinya. Bahkan tabir kebenaran terbuka dengan sendirinya.

Selain itu Adrian juga meyakini, setelah itu akan mendapatkan derajat yang lebih tinggi. 

"Kok bisa setenang itu?" Elena heran dengan ekspresi yang ditunjukkan Adrian.

"Karena dalam politik, fitnah lebih cepat datang daripada keberhasilan," beber Adrian. Elena memandang beberapa detik.

"Kalau begitu kenapa tidak melawan?" Elena tersenyum, padahal pertanyaan itu sebenarnya untuk memancing dirinya.

"Lawan yang belum kelihatan tidak bisa dipukul," tukas Adrian.

Jawaban itu membuat Elena kembali berpikir. Semakin lama mengenal Adrian, semakin sulit baginya menjalankan operasi.

Ia seperti sedang bermain catur dengan orang yang juga memahami setiap langkah lawannya.

                             ***

Di sisi lain kota, sebuah mobil SUV hitam berhenti di basement sebuah hotel. Damar turun sendirian, ia memasuki ruang VIP yang telah disewa atas nama orang lain.

Di dalam ruangan telah menunggu tiga pria, tak satu pun berasal dari partainya.

Mereka pemilik perusahaan konsultan media, lembaga survei, dan jaringan akun digital terbesar.

"Kita mulai, saya ingin nama Adrian turun sebelum akhir tahun," Damar membuka rapat.

Salah seorang pria membuka laptop, sambil mencari file penting pendukung rencana Damar untuk menjatuhkan Adrian.

"Bisa tapi perlu isu yang kuat," terang dia.

"Bukan isu, Narasi, kita bisa membentuk persepsi, mulai dari media sosial, portal berita, survei, dan televisi," urai Damar.

Semua mengangguk, mereka memahami pola itu, opini publik tidak dibentuk dalam sehari, dibangun sedikit demi sedikit seperti tetesan air yang perlahan melubangi batu.

                            ***

Malam itu Elena menerima sebuah amplop tanpa pengirim. Saat dibuka isinya hanya satu foto. Foto dirinya sedang berbicara dengan Damar di rumah tua beberapa malam lalu. Di balik foto itu terdapat tulisan tangan.

"Aku tahu siapa kamu."

Tidak ada nama, nomor telepon, sidik jari. Elena langsung berdiri. Nalurinya sebagai operator intelijen mengatakan satu hal, operasinya telah bocor.

Baca juga: Warkop Ekspektasi Bagian 2: Bara di Ruang Tamu (Seri II)

Ia meyakini seseorang bukan hanya mengawasi Adrian. Tetapi juga mengawasi dirinya, ia segera bergegas menuju apartemennya.

Semua barang diperiksa, mulai laptop, ponsel, jam tangan. Bahkan ventilasi pendingin ruangan, tidak ada alat sadap, kamera. 

Namun justru itulah yang membuat Elena semakin gelisah. Lawan yang tidak meninggalkan jejak biasanya jauh lebih berbahaya.

                            ***

Keesokan paginya Adrian menerima undangan menjadi pembicara dalam forum investasi nasional. Namun Rendra kembali mengingatkan.

"Pak, menurut saya akhir-akhir ini kita harus lebih hati-hati," kata Rendra ajak cemas. Namun Adrian tetap tenang, bahkan menanyakan apa yang perlu diwaspadai.

"Entahlah, saya merasa kita sedang diawasi." Adrian tersenyum tipis, ia menepuk pundaknya seolah menunjukkan tidak ada apa-apa dan tak perlu khawatir.

"Kalau seorang anggota legislatif tidak diawasi, berarti dia tidak penting," sergahnya.

"Bukan begitu, Pak. Saya serius." Rendra mengeluarkan sebuah foto dari map.

"Itu apa?" tanyanya penasaran.

"Seseorang mengirimkannya semalam." terang Rendra.

Adrian mengambil foto tersebut. Di sana terlihat Elena sedang keluar dari rumah tua, di belakangnya tampak siluet Damar.

Foto itu diambil dari jarak sangat jauh menggunakan lensa tele. Adrian mengernyit.

"Siapa yang mengirim?" tanya Adrian.

"Tidak ada identitas." Ruangan mendadak sunyi, Adrian kembali melihat foto itu, ia tidak mengenal rumah tersebut. Namun ia mengenal wajah Damar.

Dan ia tahu, Damar salah satu orang yang sejak lama menolak setiap usulan reformasi yang ia bawa ke parlemen. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah ada konspirasi. Melainkan mengapa Elena bertemu Damar?

                           ***

Sementara itu Elena juga sedang mencoba mencari siapa pengirim foto misterius. Ia menemui satu-satunya orang yang masih ia percaya, seorang mantan agen intelijen bernama Arman Pradipa.

Baca juga: Mahkota Para Bayangan (Bagian 2)

Usianya hampir enam puluh tahun, kendati begitu instingnya masih setajam dulu, Arman hanya melihat foto itu beberapa detik. Lalu meletakkannya kembali.

"Kamu sedang diburu," ucap Arman

"Oleh siapa?" tanya Elena penasaran, sementara Arman cuma menggeleng.

"Kalau hanya Damar, kamu pasti sudah tahu." tegas Araman tanpa basa-basi.

"Lalu?" Elena makin penasaran.

"Ada pemain lain," Elena menghela napas.

"Siapa?" Arman menatap Elena dalam-dalam.

"Orang yang tidak ingin Damar menang," tukasnya.

"Bukankah itu Adrian?" ucap mencoba menebak.

"Bukan."

"Lalu siapa?" Arman berdiri dan berjalan menuju jendela. Ia memandang kota yang mulai diguyur hujan.

"Kadang dalam politik orang yang paling berbahaya bukan lawan yang duduk di depanmu, tetapi orang yang membayar kedua belah pihak sekaligus," Elena membeku.

Kalimat itu menghantam pikirannya, kalau benar demikian..., berarti Damar pun mungkin hanya pion.

Dan operasi yang sedang dijalankannya jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.

Ia keluar dari rumah Arman dengan pikiran berkecamuk. Tanpa disadarinya, sebuah sepeda motor sejak tadi mengikuti mobilnya dari kejauhan.

Pengendaranya mengenakan helm hitam pekat, tidak pernah mencoba mendekat, tidak pula menjaga jarak terlalu jauh. 

Ia hanya memastikan satu hal, Elena tidak pernah benar-benar sendirian.

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru