Warkop Ekspektasi Bagian 3: Secangkir Kopi di Ujung Kota

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi cerita pendek Warkop Ekspetasi, jatimupdate.id
Ilustrasi cerita pendek Warkop Ekspetasi, jatimupdate.id

JatimUPdate.id - Malam semakin pekat. Bahar Khan membiarkan motor tuanya melaju mengikuti arah jalan tanpa tujuan yang pasti. Angin yang menerpa wajahnya tidak mampu mengusir sesak yang sejak tadi memenuhi dadanya. 

Bukan karena ia takut terhadap ancaman Ayu Chen. Namun karena perempuan yang paling dipercayainya justru memilih mempercayai prasangka.

Sudah berkali-kali mereka berbeda pendapat. Namun malam itu terasa berbeda. Untuk pertama kalinya Bahar Khan merasa penjelasan yang ia berikan seolah tidak lagi memiliki arti.

Ia terus melaju melewati jalan-jalan kota yang mulai lengang. Pertokoan satu per satu menutup usahanya. Hanya beberapa warung kopi yang masih tampak ramai oleh para pelanggan yang menghabiskan malam.

Bahar Khan akhirnya menghentikan motornya di tepi jalan. Ia melepas helm, lalu mengusap wajahnya perlahan. Beberapa saat telepon genggam di dalam saku jaketnya dikeluarkan. Layar ponsel menyala.

Sepuluh panggilan tak terjawab, semuanya dari Ayu Chen. Di bawahnya, beberapa pesan singkat juga telah masuk. Isinya hampir sama. Ayu Chen menanyakan di mana Bahar Khan berada dan memintanya segera pulang.

Bahar Khan membaca seluruh pesan itu tanpa terburu-buru. Jemarinya sempat bergerak hendak membalas, namun kembali diurungkan.

Bagi Bahar Khan, keadaan belum cukup tenang untuk memulai pembicaraan lagi. Ia khawatir persoalan yang baru saja terjadi justru kembali membesar apabila mereka berbicara dalam suasana hati yang sama.

Ia mematikan layar telepon genggam, lalu memasukkannya kembali ke dalam saku. Pikirannya kemudian tertuju kepada seseorang yang sudah cukup lama tidak ditemuinya. Shoe Lee Khan.

Sahabat seperjuangannya itu kini dikenal sebagai pengusaha kuliner bebek goreng. Usahanya berkembang cukup pesat. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, ia berhasil membuka beberapa stan di berbagai sudut kota.

Bahar Khan segera menghubunginya. "Kalau tidak sibuk, ngopi sebentar." kata Bahar Khan.

"Di mana?" jawab temannya itu

"Warkop pinggiran kota." balas Bahar Khan

"Tunggu aku setengah jam lagi sampai."

Sambungan telepon pun berakhir. Bahar Khan kembali menyalakan mesin motornya. Kali ini tujuannya warung kopi sederhana yang berdiri di pinggir jalan, jauh dari keramaian pusat kota.

Warkop itu tidak terlalu besar. Bangunannya sederhana, hanya beratap seng dengan dinding setengah terbuka. Aroma kopi hitam bercampur asap rokok memenuhi udara malam. Di sudut warung, beberapa pelanggan tampak asyik bermain kartu, sementara yang lain larut dalam obrolan mereka masing-masing.

Bahar Khan memilih duduk di meja paling ujung. Tak lama kemudian Shoe Lee Khan datang. Ia mengenakan jaket tipis dan topi hitam senyumnya langsung mengembang begitu melihat Bahar Khan.

"Lama juga kita tidak ngopi begini." Bahar Khan ikut tersenyum.

"Kamu makin sibuk sekarang." ucap Bahar Khan, sambil menepuk bahu temannya tersebut.

"Namanya juga cari makan." Mereka tertawa kecil, sementara Shoe Lee Khan mengeluarkan rokok filternya dari dalam sakunya.

Seorang pelayan datang membawa dua cangkir kopi hitam dan sepiring pisang goreng yang baru diangkat dari penggorengan.

Obrolan mereka dimulai dengan hal-hal ringan. Keluarga, pekerjaan, hingga teman-teman lama yang kini sudah menempuh jalan hidup masing-masing.

Baru setelah suasana terasa lebih santai, pembicaraan beralih ke dunia usaha.

Bahar Khan mengaku kagum melihat perkembangan usaha Shoe Lee Khan. Di tengah banyaknya pengusaha yang terpaksa gulung tikar akibat pandemi, sahabatnya itu justru mampu bertahan, bahkan membuka beberapa stan baru.

"Aku ingin belajar darimu," kata Bahar Khan.

Shoe Lee Khan tersenyum kecil sambil mengaduk kopinya. Ia menganggap apa yang dikatakan Bahar Khan cuma candaan belaka

Pasalnya saat mereka bertemu, adakalanya kerap diselingi candaan yang bikin mereka tertawa bersama.

"Tidak ada yang istimewa." tukas Shoe Lee Khan.

"Jangan merendah. Aku tahu usahamu berkembang cepat." sergah Bahar Khan.

Shoe Lee Khan menggeleng pelan, sambil menatap temannya.

"Kalau dibilang berkembang, iya. Tapi sedikit yang tahu kalau aku hampir menyerah." Jawaban Shoe Lee Khan bikin Bahar Khan mulai tertarik.

"Hampir bangkrut tepatnya hampir menutup semua usaha." papar Bahar Khan.

Jawaban itu membuat Bahar Khan terdiam. Selama ini ia mengira keberhasilan Shoe Lee Khan murni hasil kerja kerasnya. Ternyata di balik semua itu, pernah ada masa ketika sahabatnya berada di titik paling sulit.

"Lalu bagaimana bisa bangkit lagi?" tanya Bahar Khan. Shoe Lee Khan menyeruput kopinya lebih dulu.

"Ceritanya agak aneh. Aku bertemu seseorang yang sama sekali tidak kukenal, orang itu datang ketika aku benar-benar kehabisan jalan." tuturnya.

"Maksudmu investor?"

"Bukan."

"Lalu?"

"Ia memberiku modal. Cuma-cuma, tidak ada jaminan. Tidak ada bunga. Bahkan tidak ada perjanjian tertulis." Bahar Khan semakin penasaran.

"Siapa orang itu?" Shoe Lee Khan meletakkan cangkir kopinya di atas meja.

"Namanya Raya..." terang Shoe Lee Khan.

Mendengar nama itu, Bahar Khan tidak lagi menyentuh cangkir kopinya. Tatapannya berubah. Nama tersebut bukan nama yang asing di telinganya, jus tru nama itulah yang selama ini berusaha ia jauhkan dari kehidupan Ayu Chen.