IRT dan Upaya Membaca Krisis Global dari Perspektif Indonesia

Reporter : Redaksi
M. Shoim Haris

 

Oleh: M. Shoim Haris

Baca juga: Krisis Tanpa Pemberontakan

Peneliti di Pusat Studi Pembangunan dan Kebijakan Nasional (ADCENT)

 

Jakarta, JatimUPdate.id - 

Prolog: Ketika Dunia Berbicara dalam Bahasa yang Berbeda

Krisis global saat ini bukan hanya krisis ekonomi, ekologi, atau politik. Ia adalah krisis bahasa.

Para ilmuwan memperingatkan perubahan iklim dengan data dan grafik. Para pemimpin politik berbicara tentang pertumbuhan dan stabilitas. Aktivis mengangkat isu keadilan sosial dan hak asasi manusia. Filsuf dan pengamat teknologi merenungkan masa depan kesadaran di tengah dominasi kecerdasan buatan.

Setiap kelompok berbicara dengan bahasanya sendiri, mengukur dengan alatnya sendiri. Dan karena bahasanya berbeda, mereka kesulitan saling memahami—apalagi bekerja sama. Kita memiliki lebih banyak informasi daripada sebelumnya, tetapi justru kehilangan kemampuan untuk melihat gambaran besarnya.

Di tengah kebisingan itu, ada sebuah kerangka yang lahir dari Indonesia—bukan dari Harvard, Oxford, atau Stanford. Namanya Teori Realitas Terintegrasi (Integrated Reality Theory—IRT). Ia mencoba menjawab pertanyaan sederhana namun mendasar: apa yang sebenarnya menentukan sehat atau sakitnya sebuah sistem?

Artikel ini tidak mengklaim IRT sebagai "jawaban final" atas krisis global. Tapi ia berupaya menunjukkan bahwa pendekatan alternatif dari Global Selatan mungkin bisa memperkaya diskursus yang selama ini didominasi oleh kerangka berpikir Barat.


Lima Isu Global dan Upaya Membacanya dari Perspektif IRT

1. Informasi dan Kesadaran Kolektif

Yuval Noah Harari dalam Nexus mengingatkan bahwa informasi bukanlah entitas netral. Ia membentuk cara kita memahami dunia. Shoshana Zuboff dalam The Age of Surveillance Capitalism mengkritik bagaimana korporasi teknologi mengendalikan data dan perilaku kita.

IRT berupaya memformalkan hubungan antara Informasi (I) dan Kesadaran (C) sebagai hubungan yang dapat diukur. Dalam kerangka ini, informasi tidak dipandang sekadar sebagai data, tetapi sebagai kekuatan yang membentuk kesadaran—baik individu maupun kolektif. Ketika informasi dikendalikan oleh algoritma, kesadaran kolektif berisiko mengalami distorsi.

Apa yang ditambahkan IRT bukanlah narasi baru tentang bahaya distorsi informasi, melainkan upaya untuk mengukurnya. Dengan memposisikan kesadaran sebagai variabel sistemik, IRT menawarkan alat untuk menilai seberapa besar distorsi informasi mempengaruhi kemampuan kolektif untuk berpikir dan bertindak secara koheren.

2. Tata Kelola Kecerdasan Buatan

Kecerdasan buatan (AI) bukan lagi sekadar alat. Ia adalah mediator informasi. Ia menentukan apa yang kita lihat, apa yang kita pikirkan, dan pada akhirnya—secara bertahap—siapa kita.

IRT memperkenalkan konsep Algorithmic Mediation of Consciousness: empat mekanisme yang menghubungkan AI dengan pembentukan kesadaran manusia—melalui pengarahan perhatian, pembingkaian kognitif, amplifikasi emosi, dan umpan balik yang berkelanjutan. Konsep ini bukan klaim bahwa AI "mengendalikan" kesadaran manusia, melainkan bahwa ia membentuk lingkungan informasi yang secara struktural mempengaruhi cara kita memahami realitas.

Pertanyaannya bukan lagi "bagaimana AI bisa menjadi lebih pintar", tetapi "bagaimana kita bisa mengelola AI agar tidak merusak kemampuan manusia untuk berpikir secara otonom". IRT menawarkan kerangka untuk merancang tata kelola AI yang memperhatikan dampaknya terhadap kesadaran kolektif—sebuah dimensi yang sering terabaikan dalam diskursus tata kelola teknologi.

3. Dekolonisasi Pengetahuan

Selama berabad-abad, produksi pengetahuan global didominasi oleh institusi-institusi di negara maju. Harvard, Oxford, Stanford, dan sejumlah universitas Eropa lainnya menjadi pusat produksi teori dan paradigma. Dunia Selatan sering diposisikan sebagai konsumen—atau bahkan objek—pengetahuan, bukan sebagai produsen kerangka berpikir yang setara.

IRT lahir dari Indonesia. Ia dirumuskan bukan di pusat-pusat akademik global, tetapi dari refleksi terhadap realitas pembangunan di negara berkembang. Kerangka ini menggabungkan elemen-elemen dari filsafat proses (Whitehead), termodinamika sosial (Georgescu-Roegen), dan teori sistem (Bertalanffy)—tetapi dengan penekanan yang berbeda: menempatkan entropi, kesadaran, dan kecepatan evolusi sebagai variabel yang setara dengan energi dan informasi.

IRT tidak mengklaim bahwa ia adalah "teori baru" yang sepenuhnya orisinal. Sebaliknya, ia berupaya mensintesiskan gagasan-gagasan yang sudah ada ke dalam satu kerangka yang terukur. Kontribusinya terletak pada upaya untuk menjembatani kesenjangan antara narasi kualitatif dan pengukuran kuantitatif—sebuah upaya yang sering kali absen dalam diskursus pembangunan dari Global Selatan.

4. Krisis Ekologi dan Model Ekonomi Baru

Baca juga: Presiden Prabowo : Pertumbuhan Ekonomi Bukan Satu-Satunya Masa Depan ASEAN, Tapi Juga Soal Ketahanan Energi Dan Pangan

Kate Raworth (Doughnut Economics) menggambarkan ekonomi ideal yang berada di antara batas planet dan kebutuhan sosial. Donella Meadows mengajarkan tentang titik intervensi dalam sistem. Keduanya memberikan visi dan kerangka berpikir yang penting.

IRT berupaya melengkapi pendekatan tersebut dengan menyediakan alat pengukuran untuk entropi ekologis dan kesadaran kolektif. Dalam kerangka IRT, pembangunan tidak hanya diukur dari "apa yang ditambahkan" (investasi, produksi), tetapi juga dari "apa yang bocor" (entropi—kebocoran energi dan sumber daya akibat korupsi, inefisiensi, dan fragmentasi). Variabel Evolusi (ν) dalam IRT digunakan untuk mengukur kecepatan transformasi—sebuah dimensi yang sering terabaikan dalam model ekologi statis.

Dengan kata lain, IRT berusaha melengkapi pendekatan yang sudah ada dengan alat untuk mengukur kebocoran sistemik—sebuah dimensi yang sering menjadi penyebab utama kegagalan pembangunan di negara-negara berkembang.

5. Pergeseran Kekuatan Global

Negara-negara berkembang ingin memiliki kedaulatan di era digital. Mereka tidak ingin lagi menjadi objek kebijakan global, tetapi subjek yang menentukan nasibnya sendiri. Mereka ingin berbicara, tidak hanya mendengar.

IRT adalah salah satu upaya untuk menunjukkan bahwa pemikiran dari Global Selatan dapat menghasilkan kerangka yang universal—atau setidaknya, yang dapat berdialog secara setara dengan teori-teori dari pusat-pusat akademik global. IRT tidak meminta izin untuk berbicara di panggung global. Ia berbicara dengan bahasa yang dapat dipahami oleh siapa pun yang terbiasa dengan pemikiran sistemik dan pengukuran kuantitatif.

Tentu saja, IRT masih dalam tahap pengembangan. Ia telah dipublikasikan dalam beberapa jurnal terindeks dan menjadi fondasi bagi sejumlah penelitian lanjutan, namun masih memerlukan pengujian empiris yang lebih luas. Yang ingin ditekankan di sini bukanlah klaim bahwa IRT telah "berhasil", melainkan bahwa ada upaya serius dari Global Selatan untuk menawarkan alternatif.


Mengapa IRT Relevan bagi Indonesia?

Masalah yang Sering Dihadapi dan Bagaimana IRT Membacanya.

Birokrasi berbelit dan korupsi Entropi tinggi. IRT membaca  --energi dan sumber daya bocor.

Kebijakan berulang tanpa evaluasi Kesadaran kolektif rendah. IRT membaca —sistem kehilangan kapasitas refleksi.

Pertumbuhan ekonomi tanpa peningkatan produktivitas. IRT melihat Kecepatan evolusi institusi lambat—belajar dari kegagalan tidak terjadi.

Baca juga: Keluar dari Gelembung Finansial Global

Sumber daya alam melimpah tetapi industrialisasi  lemah. IRT melihat  Informasi tidak terintegrasi—kebijakan tidak terkoordinasi, 

Kerangka ini tidak menawarkan solusi instan. Namun ia menawarkan satu panduan sederhana: prioritas pertama pembangunan adalah menurunkan entropi (S)—membersihkan kebocoran sistemik. Baru setelah itu, membangun kesadaran kolektif (C) dan mempercepat evolusi institusi (ν). Urutan ini sering terbalik dalam praktik: kita menambah investasi sebelum membersihkan kebocoran.


Penutup: Bukan Jawaban Final, Tapi Upaya untuk Berdialog

IRT bukanlah klaim bahwa Indonesia telah menemukan "jawaban" atas krisis global. IRT adalah upaya untuk berkontribusi dalam dialog global—untuk menunjukkan bahwa pemikiran dari Global Selatan dapat berbicara dengan bahasa yang setara.

Artikel ini bukan ajakan untuk menerima IRT begitu saja. Ia adalah undangan untuk mendiskusikan apakah kerangka seperti ini bisa membantu kita memahami dunia yang semakin kompleks dan terfragmentasi.

Di tengah dunia yang berbicara dalam bahasa yang berbeda, mungkin kita membutuhkan sebuah bahasa bersama. Bukan bahasa yang mengklaim kebenaran tunggal, tetapi bahasa yang memungkinkan percakapan yang lebih produktif antar berbagai sudut pandang.

IRT, dengan segala keterbatasannya, berupaya menjadi salah satu bahasa itu.

 

Tentang Penulis

M. Shoim Haris adalah peneliti di Pusat Studi Pembangunan dan Kebijakan Nasional (ADCENT), kandidat doktor ekonomi di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, dan penggagas Teori Realitas Terintegrasi (IRT). Beberapa publikasi terkait IRT telah terbit di jurnal terindeks Copernicus dan SINTA.

Publikasi IRT terindeks Scopus sedang dipersiapkan riset lintas negara. 

📩 Kontak: dgchoris@gmail.com

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru