Surabaya,JatimUpdate.id - Kepala Dinas Pendidikan Surabaya Yusuf Masruh mengatakan, jumlah anak di kota Pahlawan yang tidak sekolah sudah berkurang menjadi 3000 an.
Sebelumnya anak di Surabaya yang tidak sekolah mencapai 4.628, karena terpental sistem zonasi
Baca juga: Reses di Kampung Nelayan, Abdul Ghoni Dorong Kawasan Maritim Bulak Berkelanjutan
Yusuf menjelaskan, anak yang sebelumnya tidak dapat mengenyam pendidikan di sekolah negeri itu, sekarang banyak yang sudah masuk sekolah di luar kota.
Mereka sebut Yusuf, ada yang ikut orang tua tugas atau melanjutkan pendidikan nya di pondok pesantren.
"Sudah ada yang masuk sekolah, ada yang mondok dan ikut orang tua (tugas di luar daerah), jadi sekolah diluar kota," kata Yusuf di Gedung DPRD Surabaya, kepada JatimUpdate.id, Rabu (20/9).
"Sekarang sisa 3.100, jadi belum di bawah 3 ribu," tambah dia.
Baca juga: Di Balik Camat Wonokromo yang Dicintai Warga, Kepala Daerah Mestinya Bercermin
Yusuf memaparkan, anak lulusan SD yang akan melanjutkan ke SMP itu, tidak bisa lepas dari orang tua, sehingga sifatnya kondisional.
Beda hal nya dengan lulusan SMP ke jenjang SMP, menurutnya sudah mandiri.
"SD ke SMP masih anak SD, lain SMP ke SMA, itu kan bisa dikatakan mandiri, tahun depan akan disosialisasikan ke warga, kalau memang orang tuanya pindah itu perlu deteksi lebih awal." terang Yusuf.
Baca juga: Terkait Dugaan Keracunan MBG di Surabaya, Pigai Sebut SPPG Tidak Layak tapi Tetap Operasi
Karena itu, dia mengimbau, masyarakat RT/RW maupun lurah melakukan pendataan terkait pendidikan di Kota Pahlawan.
Dengan demikian, jika ada warga Surabaya usianya melebihi batas usia sekolah, bisa melanjutkan ke Paket A sampai Paket C.
"Masyarakat sampai lurah silahkan untuk mendata, kalau di atas (usia) sekolah bisa paket A, B dan C." demikian Yusuf Masruh. (roy)
Editor : Ibrahim