Desa Bukan Sekadar Alamat
Dr. Afif Zamroni Tekankan Desa sebagai Poros Masa Depan Bangsa
Surabaya, JatimUPdate.id, - Pembangunan Indonesia tak akan sukses jika desa terus terpinggirkan. Pesan itu disampaikan Staf Khusus Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Dr. H. M. Afif Zamroni, Lc., M.E.I., saat mengisi kuliah umum di Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair), Sabtu (10/5/2025).
Baca Juga: JKSN - Pergunu Perkuat Persatuan Pendidikan, Menteri Desa Soroti Lonjakan Desa Ekspor hingga Rp0,5 T
Mengangkat tema *Kepemimpinan Strategis untuk Pembangunan Desa Berkelanjutan*, Dr. Afif mengajak seluruh elemen bangsa untuk memutar arah: membangun dari pinggiran, mulai dari desa.
“Indonesia tidak akan bercahaya karena obor besar di Jakarta, tetapi karena lilin-lilin kecil di desa,” kutipnya dari Bung Hatta, seraya menegaskan bahwa desa adalah tulang punggung ketahanan bangsa.
Kepemimpinan Desa Tak Bisa Biasa-Biasa Saja
Dalam forum yang berlangsung di Gedung Pascasarjana Unair, Kampus B, Surabaya itu, Afif menyebut pemimpin desa harus melampaui sekadar pelaksana regulasi.
“Tak cukup hanya ikuti juknis dari pusat. Pemimpin desa wajib memahami medan lokal, membangun komunikasi demokratis, dan mengambil keputusan lewat musyawarah,” tandasnya.
Ia menilai, kepemimpinan yang strategis dan partisipatif adalah kunci agar desa tidak terus terjebak dalam stagnasi pembangunan.
Data Mengejutkan: Desa Luas, Tapi Rentan
Berdasarkan data BPS, Indonesia memiliki 84.048 desa atau lebih dari 91% wilayah nasional. Namun ironisnya, masih banyak desa terjebak dalam lingkaran kemiskinan, keterbelakangan, dan ketimpangan akses.
“Tingkat kemiskinan desa masih 16,56%, jauh di atas kota yang hanya 9,87%. Ini realitas pahit yang tak boleh diabaikan,” ujar Afif, merujuk data Litbang tahun 2020.
Ia pun mengingatkan ancaman urbanisasi ekstrem yang bisa mengubah desa jadi kota mati, seperti yang terjadi di Jepang.
Baca Juga: Kementerian Desa Tegaskan Kewajiban Publikasi Penggunaan Dana Desa Secara Terbuka
Pembangunan Harus Berangkat dari Desa
Afif mendukung penuh visi Presiden Prabowo Subianto dalam Asta Cita yang mendorong pembangunan dimulai dari desa. Menurutnya, pendekatan lama yang menarik sumber daya dari desa ke kota harus segera dikoreksi.
“Ini bukan soal romantisme desa. Ini soal keberlanjutan bangsa. Pembangunan berkelanjutan harus menyatu antara ekonomi, sosial, dan lingkungan,” tegasnya.
Potensi Desa: Bukan Hanya Sawah dan Ladang
Afif juga menyoroti potensi wisata dan budaya desa. Ia menyebut sejumlah desa seperti Penglipuran (Bali), Kembangbelor (Mojokerto), dan Wae Rebo (Flores) sebagai bukti bahwa desa bisa jadi destinasi kelas dunia.
Namun, ia mengingatkan bahwa ledakan pariwisata bisa menjadi bumerang jika tak diatur dengan prinsip ekowisata dan keterlibatan warga lokal.
Baca Juga: Wamen Viva Yoga: Kementrans Melakukan Pemulihan di Wilayah Kawasan Transmigrasi
“Kalau salah kelola, wisata bisa jadi bencana. Gentrifikasi, polusi, dan kehilangan jati diri desa bisa terjadi,” ujarnya.
Pemimpin Desa adalah Kunci
Di akhir paparan, Afif menegaskan, semua upaya pembangunan akan sia-sia tanpa pemimpin desa yang tangguh, cerdas, dan berpihak pada rakyat.
“Kepala desa adalah navigator utama. Harus paham nilai lokal, bisa menjembatani kebijakan nasional, dan berkolaborasi lintas sektor,” ucap pria yang juga Direktur Pascasarjana Universitas KH. Abdul Chalim Mojokerto ini.
Ia menutup dengan ajakan nasional: bangun dari desa, bangun untuk masa depan.
“Desa yang kuat, negara yang tangguh. Itulah jalan menuju Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghofur,” tutupnya. (ries/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat