Frasa 'Kejuangan' Dihapus dari Raperda, AH Thony: Ada Kelompok yang Tak Ingin Surabaya Bangkit
Surabaya,JatimUPdate.id – Rencana penghapusan istilah Kejuangan dalam Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pemajuan Kebudayaan dan Pembinaan Nilai-nilai Kepahlawanan kembali menuai sorotan tajam dari Tokoh Penggerak Kebudayaan Surabaya, AH Thony.
Ia menilai ada upaya sistematis dari kelompok yang merasa terancam jika semangat kejuangan masyarakat kembali bangkit. Bagi Thony, penghilangan frasa tersebut bukan hanya teknis redaksional, melainkan bagian dari strategi untuk membungkam semangat kritis publik.
Baca Juga: Istilah Kejuangan jadi Polemik dalam Pembahasan Pansus DPRD Surabaya
“Makanya kelompok ini berusaha mati-matian untuk menghilangkan frasa Kejuangan, karena bagi mereka, bangkitnya kejuangan adalah ancaman kepentingannya,” kata Thony melalui saluran WhatsApp Jatimupdate, Rabu (6/8).
Thony bahkan curiga adanya keterlibatan unsur pemerintah kota dan oknum di Panitia Khusus (Pansus) DPRD yang disinyalir terafiliasi dengan kelompok berkepentingan.
Menurutnya indikasi itu terlihat dari penghilangan istilah Kejuangan secara berulang.
“Dilihat dari ambisi penghilangan kata Kejuangan yang berulang-ulang, saya curiga bahwa Pemkot dan oknum Pansus dikendalikan oleh kelompok kepentingan yang tidak menginginkan kejuangan masyarakat Surabaya bangkit,” tudingnya.
Ia pun mengajak publik dan legislator buka-bukaan siapa sebenarnya yang berdiri di balik penolakan atas kata yang selama ini melekat kuat dalam sejarah dan karakter Kota Pahlawan.
Baca Juga: Polemik Penghapusan Istilah "Kejuangan", Pansus: Itu Masuk dalam Nilai Kepahlawanan
“Lalu siapakah yang berada di balik penolakan kata Kejuangan ini?” tukasnya.
Thony meyakini, motif di balik penghapusan tersebut bukan untuk efisiensi regulasi.
Namun, tutur Thony agar masyarakat tetap terkungkung dalam sikap apatis dan pasif.
Baca Juga: AH Thony Tolak Mobile Legends Jadi Ekstrakurikuler: Mending Buat Game Perang Surabaya
“Kepentingannya saya juga sudah bisa menduga, yaitu supaya sikap kejuangan masyarakat Surabaya tetap terpasung, tidak bangkit, tetap berkutat dalam teori yang ada dalam pikiran saja,” ungkapnya.
Thony menuding kelompok tersebut ingin masyarakat terus dininabobokan agar ruang untuk melakukan perlawanan sipil atau kontrol sosial tertutup rapat.
“Mereka ingin masyarakat dininabobokkan terus menerus, karena dengan masyarakat tidak berdaya, kelompok mereka ini bisa meraup untung terus sampai ke depan,” demikian AH Thony. (Roy)
Editor : Yuris. T. Hidayat