Analisa Lirik Asa dan Air Mata Line of God, Perlawanan dari Ruang Gelap dan Hina
Surabaya,JatimUPdate.id – Lagu “Asa dan Air Mata” yang dirilis Line of God tahun 2021 menjadi potret perlawanan seorang manusia yang hidupnya terhimpit stigma dan kesulitan.
Liriknya bukan cuma keluhan, tapi juga pernyataan tekad untuk bangkit di tengah pandangan sebelah mata.
Baca Juga: Analisis Lirik “Tangguh” Kobe: Semangat Perlawanan dari Jiwa yang Tak Mau Tumbang
Bait pembuka “Duniaku yang kini hitam, hampa, dan jiwaku membeku tiada rasa” langsung menegaskan nuansa gelap dan keterasingan.
Diksi seperti “hitam”, “hampa”, “membeku” memunculkan imaji ruang dingin yang terpenjara, sebuah keadaan batin penuh luka.
Namun, lirik ini tidak berhenti pada penderitaan. Baris “’Kan kuobati semua luka yang pernah ada” hingga “Agar terhapuskan semua lara” menunjukkan perubahan nada dari pasif menjadi tekad aktif untuk sembuh dan membuktikan diri.
Baca Juga: Lucyana Li (Catatan yang Sempat Hilang) bagian III
Repetisi frasa “Terjerat dalam ruang gelap yang hampa” mempertegas suasana terpojok, tetapi diimbangi pertanyaan retoris “Sanggupkah kuwujudkan segala asa?” yang mengandung harapan.
Ini sekaligus menjadi semacam mantra perjuangan yang menjaga ritme lagu tetap intens.
Secara gaya bahasa, Line of God banyak menggunakan metafora: “ruang gelap” sebagai simbol tekanan hidup, “asa” sebagai lambang mimpi, hingga “air mata” yang merepresentasikan luka batin.
Baca Juga: Lucyana Li (Catatan yang Sempat Hilang) bagian II
Tipografi liriknya tersusun dengan bait-bait panjang dan pengulangan chorus yang memberi efek dramatis dan berlapis.
Tema besar lagu ini perlawanan terhadap stigma dan keterbatasan. Meski sering “dipandang hina” dan “tak pernah dianggap mampu”, tokoh lirik bertekad bergerak: “Tak ada waktu untuk ratapi luka, keadaan yang sulit buatku terpaksa lakukan semua yang aku bisa.”
Editor : Yuris. T. Hidayat