DPRD Sorot Penurunan Target Retribusi, Dorong Layanan Premium RSUD dr. Soewandhie
Surabaya, JatimUPdate.id – Komisi D DPRD Kota Surabaya menggelar rapat koordinasi bersama RSUD dr. Soewandhie beserta sejumlah pihak terkait R-APBD Kota Surabaya Tahun Anggaran 2026, Rabu (22/10).
Anggota Komisi D, Zuhrotul Mar’ah, menekankan pembangunan fasilitas baru di rumah sakit tidak mengganggu pelayanan medis. Ia juga menyoroti turunnya target pendapatan retribusi pemanfaatan aset daerah.
Baca Juga: Apresiasi Purabaya-Kenpark Lewat Tol, Eri Irawan Dukung Kembali Pakai Bus
“Mohon agar pembangunan tidak mengganggu pelayanan kepada masyarakat, terutama di bidang medis. Kita harus mencari solusi agar pelayanan tetap berjalan tanpa kendala. Realisasi sampai September 2025 sudah Rp14,9 miliar, tapi target 2026 malah turun jadi Rp12,4 miliar. Ini perlu dijelaskan, apakah karena serapan belum maksimal atau memang ada kebijakan pengurangan." beber Zuhro
Zuhro juga menyinggung belum terdapat alokasi DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau) bagi RSUD dr. Soewandhie.
"Paadahal rumah sakit daerah lain sudah mendapatkannya." tambahnya.
Kendati begitu, Zuhro merespons positif inovasi rumah sakit yang mampu mengelola tambahan pendapatan dari bunga deposito hingga pemanfaatan limbah medis.
"Seperti kardus dan botol infus bekas." terangnya.
Anggota Komisi D lainnya, Johari Mustawan, menyoroti lonjakan pendapatan umum dari Rp10 miliar menjadi Rp23 miliar di tahun 2026.
Johari juga meminta kejelasan pemanfaatan DAU dan APBD, agar tak tumpang tindih dalam rencana pengembangan rumah sakit.
“Saya ingin tahu dari sektor mana peningkatan signifikan ini berasal, karena pada saat yang sama DJKN justru turun dari Rp280 miliar menjadi Rp271 miliar,” ujarnya.
Dari sisi pembinaan kelembagaan, Wakil Ketua Komisi D, Luthfiyah, menekankan pentingnya kemandirian finansial rumah sakit daerah.
Baca Juga: BPJS Nonaktif Tanpa Pemberitahuan, Warga Miskin Terancam Gagal Operasi
“Antara pendapatan dan belanja masih belum seimbang. Rumah sakit swasta bisa bertahan, membayar pegawai, membangun, dan tetap eksis dengan dana sendiri. Rumah sakit pemerintah juga harus punya semangat yang sama,” tegasnya.
Ia menambahkan, fasilitas parkir yang nyaman turut berpengaruh pada citra layanan.
“Fasilitas parkir yang luas dan tertata rapi akan membuat masyarakat lebih memilih rumah sakit tersebut,” tambahnya.
Menanggapi hal itu, Queen Azizah manajemen RSUD dr. Soewandhie memastikan pembangunan tidak akan mengganggu pelayanan pasien.
Queen juga memaparkan sebagian dana rumah sakit ditempatkan dalam deposito untuk membantu kebutuhan rutin menjelang akhir tahun
“Pelayanan tetap berjalan normal, terutama di IGD yang menjadi prioritas. Kami juga menyiapkan sistem satu pintu untuk memperlancar arus pasien,” katanya.
Baca Juga: DPRD Surabaya Soroti Dinamika Normalisasi Sungai Kalianak Tahap II
Direktur RSUD dr. Soewandhie, Billy D. Mesakh, menegaskanpihaknya terus menjaga keseimbangan antara pelayanan dan efisiensi keuangan.
Billy juga menjelaskan rencana perluasan area parkir sebagai bagian dari peningkatan kenyamanan pasien.
“Kami punya dashboard digital untuk memantau ketersediaan tempat tidur per shift agar efisiensi pelayanan dan pendapatan tetap terjaga. Kapasitas parkir kami baru 200 mobil, sementara pasien harian bisa mencapai 1.600–1.700 orang. Kami sudah menyiapkan rencana membangun parkir bertingkat di sisi Jl. Tambak Bening agar lalu lintas kendaraan lebih tertata dan tidak mengganggu akses ambulans,” urainya.
Billy menyebut pihaknya tengah mengembangkan layanan premium bernama GRHA Adyatma, khusus bagi pasien non-JKN.
“GRHA Adyatma menjadi salah satu sumber pendapatan baru rumah sakit. Layanan ini sudah berjalan, tapi memang perlu lebih dikenal masyarakat,” tuturnya. (*Roy)
Editor : Miftahul Rachman