Analisis Lirik "Jangan Ada Angkara": Seruan Menahan Ego Saat Cinta di Ujung Jurang
Surabaya,JatimUPDATE id - Lagu “Jangan Ada Angkara” yang dipopulerkan Nicky Astria pada 1999 ini terdengar seperti jeritan seseorang yang mencoba menyelamatkan hubungan dari kehancuran.
Sejak bait pertama, liriknya langsung membawa pendengar pada suasana batin yang muram, “Saat hati tak lagi bernyanyi / Mentari seakan kian sembunyi.”
Baca Juga: Lucyana Li (Catatan yang Sempat Hilang) bagian III
Kalimat sederhana namun tajam itu menandai hilangnya ruang bahagia dalam cinta. Imaji alam yang dipakai bukan hanya hiasan, tapi simbol dari badai emosional yang sedang mengamuk di dalam dada.
Ketegangan makin terasa ketika muncul frasa “Kala badai gelombang mengguncang / Kandaskan hatiku yang kian bimbang.”
Pilihan kata seperti badai, gelombang, kandas, bimbang, angkara, prasangka, dan jiwa yang luka membuat seluruh konflik terasa nyata dan berat.
Inilah kekuatan diksi dari kata-kata diksi yang dipilih tidak manis, tapi keras dan tajam, menggambarkan hubungan yang sedang di ujung jurang.
Gaya bahasa metafora dan personifikasi terasa dominan. Hati yang tidak lagi bernyanyi, mentari yang sembunyi, dan damai yang menyapa rasa luka memperkuat suasana pertempuran batin.
Repetisi “Jangan lagi ada angkara” terdengar seperti teriakan putus asa sekaligus peringatan keras, seolah berkata sedikit saja ego dibiarkan, hubungan ini akan runtuh selamanya.
Baca Juga: Lucyana Li (Catatan yang Sempat Hilang) bagian II
Repetisi itu bukan hanya teknik musikal, tapi bentuk tekanan psikologis permintaan terakhir sebelum menyerah.
Struktur lirik yang repetitif pada bagian reff membuat pesan utama menancap, damai hanya mungkin hadir jika prasangka dihentikan.
Rima sederhana badai–bimbang dan angkara–prasangka ikut menjaga irama emosional tetap terjaga—tidak mengalir pelan, tetapi menekan dengan intensitas yang konsisten.
Musik rock balada yang mengiringi lagu ini memperkuat nuansa dramatis, pelan di awal, meledak di tengah, dan berakhir dengan harapan rapuh namun tegas.
Baca Juga: Api di Bahu Kiri (Reuni di Tengah Bayangan Luka)
Tema sentral lagu ini jelas, pertarungan mempertahankan cinta dari kehancuran akibat ego dan curiga.
Liriknya mengajak pendengar menundukkan kepala, menata napas, dan melihat bahwa pertengkaran tidak lebih penting daripada orang yang kita cintai.
Pada penutup, Nicky melempar jendela ke arah harapan lewat kalimat “Biarkan damai menyapa jiwa yang luka.” Sebuah ajakan untuk berhenti melukai dan mulai menyembuhkan.
“Jangan Ada Angkara” bukan cuma lagu romantika, tapi pengingat tidak ada cinta yang bertahan jika masing-masing sibuk ingin menang. Sebab ego selalu kalah ketika cinta yang dipertaruhkan. (RoY)
Editor : Yuris. T. Hidayat