Catatan Mas AAS
Menungso Wagu!
Tahu dan sadar diri menjadi manusia yang otentik adalah tugas besar setiap insan. Urip di alam ngarcopodo ini!
Memaksa diri menjadi orang lain, tidak akan mungkin berhasil. Berhasil pun tidak lama, dilihat pun asing, kurang asyik, dan pasti wagu! Bernegara pun saya kira sama, tidak jauh berbeda.
Baca Juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut
Seperangkat alat hidup nan lengkap sudah Tuhan beri pada setiap manusia. Ada akal, ada pikir, dan utamanya ada nurani tempat sebuah rasa bersemayam, sumber kebenaran. Sampai ada quote "Bertanyalah pada nurani mu sendiri!" Jadi modal yang kita miliki sudah lengkap, untuk menjadi manusia sejati, sing ora wagu!
Seorang mahasiswa bertanya kepada saya. Saat saya sedang rehat di warkop tadi, usai kerja antar kan penumpang dua orderan. Basa basi sudah dilalui beberapa adegan, di acara guyon maton parikeno, bersama si mahasiswa itu. "Mas, bagaimana mengatasi kegamangan diri ya?"
"Soal apa mas, kok, mengalami kegamangan diri, " tanyaku spontan!
"Soal jurusan kuliah saya. Hari ini saya kuliah di fakultas teknik, tepatnya teknik elektro! Saya tidak betah dan kerasan di jurusan ini. Saya ingin kuliah di fakultas bahasa, ingin belajar Bahasa Indonesia! Kata si mahasiswa itu kepadaku!"
Baca Juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah
Mendengar curhatan si mahasiswa itu. Aku yang gantian diam, seribu bahasa. Hanya menyimaknya saja dengan antusias! Agar anak itu puas mengeluarkan uneg-uneg nya!
"Kemarin saya ambil jurusan ini, hanya ikutan teman-teman, mas! Kelihatan mentereng, dan jaminan dapat kerja mudah nantinya. Aslinya di dalam hati saya, bukan jurusan itu tujuan saya!"
Aku sebenarnya sangat senang. Melihat dan mendengar si mahasiswa itu mau curhat semuanya. Artinya ia sedang berusaha menjadi dirinya sendiri yang otentik. Meski ada resiko, bisa jadi ia dimarahi orang tuanya, dicibir teman-temannya, dan di salahkan oleh dirinya sendiri dengan alibi merasa bersalah! Karena apa yang ia alami sekarang memunculkan resiko: pertama tetap lanjut kuliah di jurusan sekarang, dan ia mencoba untuk menyukainya. Kedua, ia pindah kampus, fakultas, dan jurusan. Pusing sekali si anak mahasiswa itu. Aku tetap pada posisi yang sama, diam, menyimak, dengan antusias! Aku sedang menemani dan mengantarkan si mahasiswa itu mampu mengambil keputusan sendiri, nantinya. Mau lanjut atau pindah! Aku hanya mampu berdoa yang terbaik untuknya!
Baca Juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil
Sebenarnya yang dialami si mahasiswa itu. Pasti juga kita alami, dalam konten dan konteks yang berbeda, seturut beban persoalan kita masing-masing! Catatan dari ilmu titen yang penulis alami sendiri, berani mengambil keputusan atas suara nurani sendiri, adalah sebuah kemenangan agung yang mampu dialami manusia saat hidup di dunia nan fana ini!
Bagaimana dengan Anda? Sudahkah, sebagai manusia, sudah menjadi diri Anda sendiri yang genuine. Atau malah jadi orang lain, terbayang-bayang bayangan orang lain, mengekor dan mengembek terus! Janganlah begitu mas bro, gak enak tahu, hidup yang seperti itu!
Editor : Redaksi