Serial Urip Iku Urup, Malang, (26/01/026)
Epistemologi Pulang dan Akar yang Menghidupi
Oleh Dr. Agus Andi Subroto, STP., M.M.
Alumni FTP UB' 95, Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan
Malang, JatimUPdate.id - Malang tidak pernah sekadar menjadi koordinat geografis bagi mereka yang pernah mencecap dingin udaranya dan hangat diskursus akademiknya. Kota ini adalah rahim memori, sebuah situs tempat identitas intelektual ditempa.
Ketika kaki kembali memijak tanah ini, yang hadir bukan hanya raga, melainkan sebuah penyerahan diri pada romantisme sejarah yang membentuk siapa kita hari ini.
Momentum Dies Natalis Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya ke-28 dan pelantikan pengurus komisariat alumni malam ini di hadiri Dekan FTP UB yaitu Prof. Yusuf Hendrawan, STP., M.App., Life., Sc., P.hD. dan juga seluruh tamu undangan "Temu Alumni Akbar FTP UB" menjadi lebih dari sekadar seremoni.
Di tengah riuh rendah sambutan dan jabat tangan, terselip sebuah kontemplasi sunyi tentang esensi "pulang".
Kehadiran tokoh-tokoh sentral alumni, seperti Ketua Umum IKA UB Ir. M. Zainal Fatah dan Ketua Komisariat FTP UB Dr. Edi Purwanto, menegaskan bahwa institusi pendidikan bukanlah pabrik yang memproduksi lulusan lalu memutus rantai produksi. Ia adalah sebuah ekosistem abadi.
Dalam khazanah kearifan lokal, kita mengenal adagium Jawa yang berbunyi: "Kacang ora ninggal lanjaran". Secara harfiah, tanaman kacang panjang tidak akan tumbuh menjauh dari tiang penyangganya (lanjaran).
Namun, dalam lanskap sosiologis dan kepemimpinan, metafora ini mengandung makna ontologis yang mendalam. Lanjaran bukan sekadar masa lalu atau almamater, melainkan nilai, etika, dan fondasi karakter yang menjadi penopang vertikal bagi pertumbuhan seorang manusia.
Sejauh apa pun alumni melanglang buana, setinggi apa pun jabatan yang diraih di berbagai penjuru Nusantara, orientasi nilai mereka akan selalu merujuk pada lanjaran-nya.
Kepulangan ke kampus, dengan demikian, adalah upaya merawat lanjaran itu agar tetap kokoh. Sebab, kacang yang lupa pada lanjarannya akan roboh, kehilangan arah tumbuh, dan akhirnya membusuk di tanah.
Namun, "pulang" tidak boleh berhenti pada romantisme masa lalu. Ia harus bertransformasi menjadi energi kinetik untuk masa depan. Pertemuan para alumni lintas profesi adalah manifestasi dari modal sosial (social capital) yang luar biasa dahsyat.
Di sinilah letak strategisnya. Jejaring tidak dibangun di atas tumpukan proposal kaku yang transaksional, melainkan disemai melalui kehadiran fisik, kesantunan budi, dan ketulusan interaksi.
Sebagai akademisi yang kini menahkodai Fakultas Hukum dan Bisnis di ITB Yadika Pasuruan, saya memandang momen "mudik akademik" ini sebagai laboratorium kolaborasi yang cair.
Sapaan sederhana di sela acara sering kali menjadi embrio bagi sinergi institusional yang masif. Ada pertukaran perspektif yang melintasi batas disiplin ilmu—dari teknologi pertanian menuju hukum dan bisnis—membuktikan bahwa sekat-sekat keilmuan luluh lantak di hadapan semangat gotong royong.
Kita hidup di era di mana kolaborasi adalah mata uang baru. Tidak ada institusi yang mampu berdiri sebagai menara gading. FTP UB dengan sejarah panjangnya, dan FHB ITB Yadika Pasuruan dengan semangat enterpreneur nya, dapat bertemu dalam satu titik temu yang bernama kemaslahatan umat.
Pada akhirnya, pulang adalah tentang mengisi ulang perbekalan batin. Manusia boleh melangkah jauh menaklukkan dunia, tetapi ingatan—sebagai kompas moral—akan selalu tahu ke mana ia harus kembali. *Semangat urip iku urup* (hidup itu menyala/memberi manfaat) menjadi muara dari segala pencapaian.
Bahwa kepulangan kita bukan untuk membanggakan diri, melainkan untuk memastikan bahwa nyala api pengabdian itu tidak pernah padam, melainkan justru semakin berkobar, menerangi jalan bagi generasi berikutnya. (red)
Editor : Redaksi