Ekoteologi dan Mitigasi Bencana, PWM Jatim Tegaskan Tugas Kekhalifahan Jaga Alam

Reporter : -
Ekoteologi dan Mitigasi Bencana, PWM Jatim Tegaskan Tugas Kekhalifahan Jaga Alam
Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Prof. Sukadiono.

 

Jember, JatimUPdate.id – Kajian Ramadan 1447 H/2026 yang digelar Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Jember tak sekadar menjadi forum penguatan spiritualitas, tetapi juga ruang konsolidasi gagasan tentang tanggung jawab ekologis umat Islam.

Baca Juga: Emil: Ancaman Lingkungan dan Disrupsi AI Nyata, Muhammadiyah Diminta Cetak Generasi Tangguh

Rektor Universitas Muhammadiyah Jember dalam sambutannya menegaskan bahwa Ramadan harus dimaknai lebih dari sekadar peningkatan ibadah personal.

“Ramadan bukan hanya momentum ibadah individual, tetapi juga ruang refleksi intelektual dan spiritual atas relasi kita dengan semesta,” ujar Rektor Unmuh Jember.

Menurutnya, tema “Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan” sangat relevan dengan tantangan global berupa krisis lingkungan dan degradasi moral dalam memperlakukan alam.

Keimanan, tegasnya, tidak boleh berhenti pada kesalehan personal, tetapi harus menjelma menjadi kepedulian ekologis sebagai wujud tanggung jawab manusia atas bumi.

Penegasan yang lebih kontekstual kemudian disampaikan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Sukadiono.

Ekoteologi sebagai Respons atas Krisis Lingkungan

Sukadiono menjelaskan bahwa pendekatan ekoteologi merupakan ikhtiar teologis untuk mengintegrasikan ajaran Islam dengan kepedulian terhadap lingkungan hidup.

Ia menyinggung berbagai peristiwa bencana yang terjadi di sejumlah wilayah seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam beberapa bulan terakhir.

Baca Juga: Berkah Melimpah di Unmuh Jember, PWM Jatim Bagikan 11 Paket Umrah pada Kajian Ramadan 1447 H

Kerusakan hutan dan penggundulan lahan, menurutnya, menjadi salah satu faktor yang memperparah risiko ekologis.

“Kerusakan di darat dan laut adalah akibat perbuatan manusia. Bencana yang terjadi hendaknya menjadi peringatan agar kita memperbaiki relasi dengan alam,” ujarnya.

Menurutnya, manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi dengan mandat merawat, menjaga, dan memastikan keberlanjutan alam. Karena itu, menjaga keseimbangan lingkungan bukan sekadar isu teknis, melainkan bagian dari amanah keimanan.

Mitigasi Dimulai dari Hal Sederhana

Ia juga menekankan pentingnya membangun budaya mitigasi bencana dan kebiasaan merawat lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Membangun Tradisi Baru: Merefleksikan 25 Tahun Muhammadiyah Jawa Timur, Meneguhkan Arah Gerakan

Hal sederhana seperti menjaga kebersihan saat berbuka puasa dan tidak membuang sampah sembarangan, menurutnya, merupakan bagian dari ibadah ekologis.

“Jika kebiasaan kecil ini dilakukan secara konsisten, dampaknya akan besar bagi kelestarian lingkungan,” katanya.

Kajian Ramadan ini turut menghadirkan sejumlah tokoh nasional, di antaranya Ketua Umum Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir (daring), Prof. Din Syamsuddin, Prof. Abdul Mu'ti, serta Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni.

PWM Jawa Timur berharap forum ini menjadi inspirasi gerakan dakwah ekologis Muhammadiyah, sekaligus memperkuat kesadaran kolektif umat bahwa menjaga bumi adalah bagian dari tanggung jawab keagamaan dan sosial. (ries/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat