Lorong Paseban, Anak Muda, dan Senja Ramadan
Oleh: Hijrah Saputra
Kemenag Bondowoso, Alumni UIN Sunan Ampel dan Universitas Jember
Bondowoso, JatimUPdate.id - Sore hari saya ngabuburit sekaligus piket di Alun-Alun Paseban Bondowoso. Festival Ramadan sedang berlangsung.
Para siswa madrasah mendapat kesempatan tampil di ruang terbuka. Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga memberikan jatah penampilan pada Kamis, Jumat, Minggu, dan Senin.
Kesempatan tampil seperti ini tentu menjadi pengalaman yang berharga bagi mereka.
Saya berdiri di sisi selatan Paseban, tepat di depan Gerbong Maut. Gerbong tua itu tetap berada di tempatnya seperti biasa.
Banyak orang telah menuliskan kisah sejarahnya. Sore itu ia hanya menjadi saksi dari keramaian anak-anak muda yang sedang menunggu giliran tampil.
Dalam lanskap senja Ramadan, Paseban terasa berbeda. Angin berhembus pelan. Orang-orang berlalu lalang. Deretan UMKM mulai ramai. Anak-anak kecil sesekali berlari kecil di antara orang dewasa yang sedang menunggu waktu berbuka.
Para guru dan santri menunggu waktu dengan sabar. Wajah mereka tampak lelah. Puasa tentu mengurangi tenaga. Namun keinginan menampilkan putra-putri terbaik tampaknya memberi kekuatan tersendiri. Latihan kecil tetap dilakukan sembari menunggu penampilan.
Dua MC, seorang pria dan seorang perempuan, membuka acara dari panggung Paseban. Panitia memang menyediakan panggung di sana. Panggungnya sederhana, dengan tiga pengeras suara kecil yang dipasang di sisi kanan dan kiri.
Namun pertunjukan sore itu tidak sepenuhnya terjadi di atas panggung. Ia justru hidup di ruas jalan—atau dalam istilah yang kerap disebut orang kampung: "lorong".
Di lorong itulah penonton mulai berkumpul. Ada yang berdiri santai. Ada yang duduk di tepi jalan. Beberapa pejalan kaki yang hendak menuju deretan UMKM berhenti sejenak.
Pertunjukan yang berlangsung di ruang terbuka seperti ini dalam istilah seni pertunjukan sering disebut street-performance, yaitu seni yang tampil langsung di ruang publik dan berinteraksi dengan orang-orang yang kebetulan hadir di sekitarnya.
Tak pelak, penampilan pertama langsung menarik perhatian. Lima penari membawakan tarian khas Bondowoso yang dipadu dengan gerakan pencak silat. Gerakan mereka mengikuti alunan musik yang lembut namun tegas.
Para penari mengenakan jilbab yang rapi, tetapi gerakannya tetap lincah. Dulu penari sering tampil dengan rambut terurai. Kini jilbab pun tampak indah berpadu dengan gerak tari dan pencak silat. Bahkan salah satu penari sempat bersalto di atas aspal lorong yang mulai terasa dingin.
Mendung perlahan menutup terik matahari. Tepuk tangan kecil beberapa kali terdengar dari penonton.
Di sisi lain, beberapa siswa madrasah sedang melukis kaligrafi. Salah satu pelukis menulis kaligrafi “man rabbuka.” Huruf Arabnya diinovasi menjadi aliran seperti tali air berwarna coklat. Kata *man* diakhiri huruf *nun* yang titiknya diganti simbol bunga waru berwarna merah muda.
Pelukis itu seolah sedang mengajukan pertanyaan kepada siapa pun yang melihat lukisan tersebut: Siapa Tuhanmu?
Dengan aliran garis yang menyerupai tali air itu, seolah ada pesan tentang kekuatan iman yang mengalir pelan namun pasti.
Penampilan berikutnya menghadirkan dua pemuda, seorang pria dan seorang perempuan, yang bernyanyi bersama. Suara dan lagu mereka disenadakan dengan cukup harmonis.
Meski hanya tiga pengeras suara kecil dipasang di panggung Paseban, suara nyanyian mereka tetap terdengar merdu hingga ke lorong tempat penonton berkumpul.
Wajah keduanya tampak percaya diri. Lagu yang mereka nyanyikan mengalir tenang di tengah suasana senja Ramadan.
Entah mengapa saya sempat menahan air mata. Saya memang tidak kuat melihat anak muda tampil dengan sungguh-sungguh. Saya sadar, mereka bukan putra-putri saya. Namun memberi kesempatan kepada generasi muda untuk tampil sering kali menghadirkan rasa haru yang sulit dijelaskan.
Tepuk tangan kembali terdengar panjang. Di tengah suasana itu, satu kalimat heroik Bung Karno menyeruak dalam ingatan. Kata-kata itu sering kita dengar dalam berbagai kesempatan: "Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia."
Kalimat itu terasa hidup di lorong kecil Paseban sore itu. Anak-anak muda yang tampil mungkin tidak sedang mengguncang dunia. Namun keberanian untuk tampil di depan orang banyak sering kali menjadi langkah pertama menuju hal-hal yang lebih besar.
Mendung semakin menebal. Penonton tidak beranjak pergi.
Penampilan berikutnya datang dari madrasah yang dikenal memiliki grup drumband. Kali ini sepuluh siswi tampil membawakan tarian yang pernah diperkenalkan sebagai salah satu tarian indah dari Nusantara.
Saat musik mulai terdengar, mereka berjalan menuju "lorong"—jalan yang kerap disebut orang kampung. Syahdan, lorong kecil itu berubah menjadi panggung yang sesungguhnya.
Mereka mengenakan seragam coklat muda dibalut kain kuning cerah. Setelah berbaris rapi, mereka duduk di atas aspal. Gerakan dimulai perlahan.
Tangan dan kaki beberapa kali ditepukkan mengikuti irama. Kekompakan terlihat jelas. Wajah mereka tegang tetapi tetap menyimpan senyum tipis. Penonton ikut tegang melihatnya.
Latihan selama seminggu tampaknya berbuah hasil. Gerakan mereka tampak serasi tanpa kesalahan berarti.
Seorang teman di sebelah saya mendokumentasikan pertunjukan itu. Kedua tangannya memegang ponsel dalam mode video. Lututnya menahan di atas aspal agar gambar tetap stabil.
Tarian hampir mencapai puncaknya. Tiba-tiba rintik hujan besar turun. Orang-orang spontan bergerak menghindar. Namun sepuluh penari itu tidak beranjak sedikit pun.
Tarian tetap dilanjutkan. Tangan melambai. Kaki menghentak. Kepala menoleh kanan dan kiri mengikuti irama.
Hujan tidak menghentikan mereka. Lorong yang basah justru menjadi panggung keberanian.
Gemuruh tepuk tangan akhirnya pecah ketika tarian selesai. Hujan perlahan berhenti. Penonton tampak kagum.
Saya tidak lagi mampu menahan rasa haru. Kalimat Ki Hajar Dewantara (1922) terlintas: "Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah."
Sore itu lorong di sekitar Paseban terasa seperti ruang belajar yang sederhana. Anak-anak muda belajar percaya diri. Para guru belajar sabar mendampingi. Penonton belajar menghargai usaha.
Di depan saya, Gerbong Maut tetap berdiri seperti biasa, diam dan tenang seperti saksi perjalanan sejarah yang panjang.
Sore perlahan berganti. Dari kejauhan, suara merdu tahrim masjid mulai terdengar. Senja Ramadan sore itu meninggalkan kesan yang sulit dilupakan.
Lorong kecil di Paseban telah berubah menjadi panggung—
tempat anak-anak muda belajar keberanian,
dan tempat harapan tentang masa depan tumbuh pelan di tengah lanskap kota kecil yang teduh. (red)
Editor : Redaksi