catatan ramadhan wiedmust-21ramadhan

Mercon Dan Takbiran

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi Mercon dan Takbiran
Ilustrasi Mercon dan Takbiran

Oleh : widodo, p.hd

pengamat keruwetan sosial

 

Surabaya, JatimUPdate.id -Ramadan di Indonesia punya satu ciri khas yang sulit ditiru negara lain: suara takbir yang bersahut-sahutan… bercampur suara DUARRR! dari petasan. Seolah-olah kemenangan setelah sebulan berpuasa perlu dirayakan dengan dua hal sekaligus: memuji Tuhan dan mengejutkan tetangga.

Memasuki pertengahan Ramadan, pasar-pasar mulai penuh. Ada pedagang takjil, pedagang baju muslim, pedagang sarung, pedagang mukena. Tapi di antara aroma kolak dan gorengan itu, ada satu aroma yang khas: bau mesiu dari lapak petasan dan kembang api.

Anak-anak kampung langsung tahu itu tanda bulan suci sudah “resmi” dimulai.

Yang menarik, kalau ditelusuri sejarahnya, petasan dan kembang api sama sekali bukan tradisi Arab.

Benda ini justru lahir jauh di Tiongkok sekitar abad ke-9 ketika orang China menemukan bubuk mesiu. Awalnya dipakai untuk mengusir roh jahat dan merayakan Tahun Baru Imlek. Pedagang kemudian menyebarkannya ke berbagai belahan dunia, termasuk Nusantara.

Artinya, ketika anak-anak kampung menyalakan mercon saat ngabuburit, sesungguhnya mereka sedang melanjutkan tradisi lintas peradaban: agama dari Timur Tengah, teknologi dari China, dimainkan di gang sempit Nusantara.

Begitulah cara budaya bekerja: diam-diam bercampur seperti es campur di bulan puasa.

Di Hindia Belanda awal abad ke-20, petasan mulai masuk secara massal dari Tiongkok. Lama-lama benda ini tidak hanya muncul saat Imlek, tetapi juga dalam berbagai pesta rakyat: hajatan, tahun baru, pesta desa, sampai akhirnya ikut meramaikan malam takbiran.

Sejak saat itu, Ramadan di Indonesia punya soundtrack tambahan: ledakan mercon.

Padahal para orang tua sejak dulu sudah memberi nasihat klasik: jangan main petasan, berbahaya. Tapi nasihat itu biasanya kalah oleh satu logika sederhana anak-anak: kalau tidak ada suara petasan, Lebaran terasa kurang meriah.

Pepatah lama mungkin perlu direvisi sedikit: “Sambil menyelam minum air, sambil takbiran nyalakan mercon.”

Pemerintah setiap tahun sebenarnya sudah mencoba menertibkan.

Polisi merazia petasan, spanduk larangan dipasang di mana-mana, bahkan ada kampanye bahaya mercon. Namun seperti tradisi lain di negeri ini, petasan punya kemampuan ajaib: semakin dilarang, semakin kreatif bentuknya.

Dari petasan korek kecil sampai mercon sebesar botol minuman, semuanya muncul seperti festival inovasi bahan peledak rakyat.

Akibatnya, setiap Ramadan selalu ada dua statistik yang naik bersamaan: jumlah orang yang beribadah… dan jumlah orang yang luka karena petasan.

Tapi begitulah wajah Ramadan di Indonesia. Di satu sisi ada suasana khusyuk, tarawih, tadarus, sedekah. Di sisi lain ada kegembiraan rakyat yang kadang meledak terlalu keras.

Agama memberi makna pada perayaan, sementara budaya memberi cara mengekspresikan kegembiraan.

Maka jangan heran jika di negeri ini, takbir bisa berjalan berdampingan dengan mercon.

Karena dalam budaya Nusantara, ada pepatah tak tertulis yang tampaknya selalu berlaku:

“Kalau bisa dirayakan dengan tenang, kenapa harus tanpa ledakan?” 💥