Tak Penuhi Standar, Puluhan Dapur MBG di Bondowoso Disuspend BGN
Bondowoso, JatimUPdate.id – Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional puluhan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.
Kebijakan ini diambil karena sejumlah dapur dinilai belum memenuhi standar operasional dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kebijakan penghentian sementara tersebut disampaikan melalui surat Badan Gizi Nasional tertanggal 10 Maret 2026 yang ditujukan kepada pengelola dapur SPPG di Bondowoso.
Koordinator SPPG Kabupaten Bondowoso, Mila Afriana Agustina, mengatakan pada data awal terdapat puluhan dapur yang mendapat status suspend atau surat peringatan (SP) 1.
Namun setelah dilakukan evaluasi serta perbaikan oleh pengelola dapur, jumlah yang masih berstatus suspend kini tersisa sekitar 10 dapur.
“Data awal memang ada puluhan dapur yang disuspend. Sekarang tersisa sekitar 10 dapur yang masih dalam status suspend,” ujar Mila, Kamis (12/3/2026).
Belum Penuhi Standar Operasional
Menurut Mila, status suspend diberikan karena dapur SPPG tersebut belum memenuhi sejumlah standar yang dipersyaratkan oleh BGN.
Beberapa di antaranya meliputi kepemilikan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), ketersediaan instalasi pengolahan air limbah (IPAL), serta fasilitas mess bagi kepala SPPG dan staf yang bertugas.
“IPAL, mess untuk beberapa kepala dan stafnya, serta beberapa standar lain yang harus dipenuhi,” jelasnya.
Dengan status suspend tersebut, dapur SPPG tidak diperkenankan beroperasi maupun menyalurkan program MBG kepada para siswa hingga seluruh persyaratan dipenuhi.
Setelah standar tersebut dilengkapi, pengelola dapur dapat mengajukan permohonan pencabutan suspend kepada BGN agar operasional kembali diizinkan.
“Kalau sudah terpenuhi, mereka bisa mengajukan pencabutan suspend. Sampai mereka selesai,” katanya.
Didorong Selesai Sebelum Sekolah Masuk
Meski demikian, dapur yang sebelumnya telah melakukan pemesanan bahan pangan masih diperbolehkan menyalurkan MBG hingga pekan ini.
Sementara terkait relawan, Mila menyebut terdapat mekanisme tersendiri karena sebagian relawan berasal dari yayasan yang mengelola dapur SPPG.
Ia menambahkan, saat ini kegiatan sekolah masih dalam masa libur Lebaran. Karena itu, pengelola dapur didorong segera melakukan penyesuaian standar selama masa jeda tersebut.
Dengan demikian, saat kegiatan belajar mengajar kembali berjalan setelah libur Lebaran, para siswa penerima manfaat dapat kembali memperoleh layanan MBG.
Menurut Mila, sebagian dapur sebenarnya telah memiliki instalasi pengolahan limbah, namun kapasitasnya belum memenuhi standar yang dipersyaratkan sehingga berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.
“Biasanya IPAL sudah ada, tapi belum memadai. Kalau limbahnya tidak dikelola dengan baik bisa berpotensi mencemari lingkungan,” ujarnya.
Ia berharap proses perbaikan dapat segera diselesaikan agar program pemenuhan gizi bagi siswa di Bondowoso dapat kembali berjalan normal setelah libur Lebaran.
“Semoga SPPG-nya berjalan baik perbaikannya, sehingga masuk awal pasca Lebaran nanti siswa tetap mendapatkan MBG,” pungkasnya. (ries/mmt)
Editor : Miftahul Rachman