Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 20/03/2026

Beda Lebaran Bukan Perpecahan

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh : Abdul Rohman Sukardi 

Pengamat Sosial, Politik dan Hukum

 

Jakarta, JatimUPdate.id - Setiap tahun, perbedaan waktu Idulfitri kembali memunculkan tudingan lama. Tudingan itu: umat Islam dinilai tidak kompak, bahkan disebut terpecah hanya karena tidak berlebaran di hari yang sama. 

Narasi ini terdengar masuk akal di permukaan. Tetapi sesungguhnya keliru karena menyederhanakan persoalan yang jauh lebih mendasar: kemerdekaan Ijtihad dalam Islam.

Penentuan awal dan akhir Ramadan berangkat dari dalil yang sama. Hadis Nabi yang memerintahkan berpuasa dan berbuka “karena melihat hilal”. 

Persoalannya tidak berhenti pada rumusan teks dalil itu. Justru di dalam kata kunci “melihat” itulah ruang ijtihad terbuka.

Sebagian ulama memahami “melihat” secara literal: hilal harus benar-benar terlihat secara fisik. Jika tidak tampak, maka bulan disempurnakan menjadi 30 hari. 

Pendekatan ini berangkat dari kehati-hatian dalam menjaga bentuk asli ajaran. Taat hukum dasar sesuai bunyi teks. 

Di sisi lain, ada yang memaknainya secara lebih luas: “melihat” berarti mengetahui dengan pasti bahwa hilal sudah ada. Dengan kemajuan astronomi, posisi bulan bisa dihitung secara akurat jauh hari sebelumnya. 

Bagi pendekatan ini, kepastian ilmiah sudah cukup untuk menetapkan masuknya bulan. Tidak memerlukan keharusan lagi untuk “melihat secara fisik”.

Perbedaan ini bukan soal mana lebih modern atau lebih tradisional. Apalagi dikontatasikan benar dan salah secara hitam-putih. 

Ini adalah perbedaan metodologi dalam memahami teks agama. Apakah suatu perintah harus dipahami secara literal, atau dapat ditangkap maknanya secara lebih luas.

Karena itu, kritik seperti “kalender saja bisa dihitung ratusan tahun, kenapa Lebaran tidak dibuat pasti saja?” sebenarnya keliru arah. Kritik tersebut menganggap persoalan ini murni teknis. Padahal ia juga normatif. 

Ada klausul “melihat” dalam hadis yang tidak bisa diabaikan begitu saja oleh semua pendekatan. Tafsir melihat itu harus diselesaikan terlebih dahulu definisinya. 

Lebaran bukan sekadar tanggal astronomi, melainkan juga penetapan syar’i. Selama makna “melihat” masih ditafsirkan berbeda oleh para ulama, maka hasil yang berbeda adalah konsekuensi yang wajar. 

Memaksakan satu pendekatan justru berpotensi mengingkari dasar pemikiran pihak lain. Mengingkari prinsip ijtihad dalam Islam. 

“Jika seorang hakim berijtihad lalu benar, baginya dua pahala. Jika ia berijtihad lalu salah, baginya satu pahala." Begitu bunyi hadits itu. Sebagaimana diketemukan dalam Sahih al-Bukhari no 7352 (dalam penomoran Fath al-Bari). Sahih Muslim nomer 1716.  

Yang lebih penting untuk ditegaskan: perbedaan ini tidak sama dengan perpecahan. Perpecahan terjadi ketika perbedaan melahirkan permusuhan, saling menegasikan, dan merusak persaudaraan. 

Sementara perbedaan dalam penentuan Lebaran lahir dari upaya serius memahami dalil. Keseriusan ijtihad. Bukan dari keinginan untuk berseberangan. Ini cerminan Islam menghargai kemerdekaan berfikir. Menghargai Ilmu pengetahuan. 

Dalam tradisi Islam, perbedaan ijtihad adalah keniscayaan. Ia bukan tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa ajaran dipahami dengan kedalaman dan tanggung jawab intelektual. 

Dari sinilah lahir kekayaan perspektif yang justru memperkuat. Bukan melemahkan.

Karena itu, melihat beda Lebaran sebagai perpecahan adalah cara pandang tergesa-gesa. Yang berbeda hanyalah cara memahami “melihat”, bukan arah ibadahnya.

Persatuan tidak selalu berarti seragam. Dalam banyak hal, justru ia tampak dalam kemampuan menerima perbedaan tanpa kehilangan rasa hormat.


Jakarta, ARS ([email protected]). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.