Jubah Tanpa Benang Sang Kaisar

avatar Yuris. T. Hidayat
  • URL berhasil dicopy
Hadi Prasetyo, Pengamat Sosial Politik
Hadi Prasetyo, Pengamat Sosial Politik

Oleh: Hadipras 

JatimUPdate.id - Dahulu, dalam dongeng klasik Hans Christian Andersen, seorang kaisar berjalan pongah di depan rakyatnya tanpa sehelai benang pun. Ia tertipu oleh penjahit culas yang menjanjikan kain ajaib: 'kain yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang cerdas dan kompeten'.

Karena takut dianggap bodoh, seluruh pejabat dan rakyat memuji keindahan jubah gaib itu, hingga seorang bocah kecil berteriak jujur, "Tapi kaisar tidak memakai baju!"

Hari ini, di panggung politik kita, dongeng itu mengalami mutasi yang ganjil. Sang tokoh tidak lagi tertipu oleh penjahit; ia justru menciptakan "penjahit-penjahit" digital bernama buzzer untuk merajut narasi jubah yang tidak pernah ada. 

Bedanya lagi, jika kaisar dalam dongeng merasa malu saat kebenarannya terungkap, kaisar modern kita justru tetap melangkah tenang. Ia telanjang, namun merasa tetap berpakaian lengkap.

Fenomena "telanjang tanpa rasa malu" ini adalah puncak dari sebuah patologi kekuasaan. Ketika bukti-bukti otentik—mulai dari lembar ijazah yang buram hingga rekam jejak akademik yang tak terlacak—dibeberkan ke ruang publik, yang muncul bukanlah klarifikasi yang jujur, melainkan pengabaian yang terencana. Kekuasaan telah menjadi anestesi (obat bius) paling mutakhir terhadap saraf rasa malu.

Secara sosiologis, kita sedang menyaksikan normalisasi kebohongan terang-terangan. Legalitas hukum sering kali dipaksa menjadi "tukang jahit" darurat untuk menutupi lubang-lubang etika. Jika pejabat yang salah memberikan legalisasi, atau institusi pendidikan mendadak gagap mencari arsip, itu adalah cara sistem kekuasaan memaksakan sepotong kain perca untuk menutupi ketelanjangan sang penguasa.

Namun, secara psikologis, ada yang lebih mengkhawatirkan: 'sang tokoh benar-benar percaya bahwa ia mengenakan jubah'. Ia hidup dalam gelembung realitas buatan dimana kritik dianggap kebisingan, dan bukti dianggap fitnah. 

Baginya, ijazah hanyalah artefak administratif, sementara "kebenaran" adalah apa pun yang berhasil disepakati oleh lingkar kekuasaannya.
Kita pun lalu sampai pada titik yang getir. Saat publik dipaksa menonton parade ketelanjangan ini setiap hari, rasa terkejut kita pelan-pelan mati rasa. Kita tahu mereka telanjang, mereka tahu kita tahu, namun mereka tetap berakting seolah-olah sedang mengenakan sutra terbaik.

Pada akhirnya, sejarah mungkin bisa disuap untuk menuliskan narasi yang indah, tetapi nurani publik memiliki ingatan yang keras kepala. Karena sekuat apa pun teriakan buzzer mencoba merajut "jubah" citra, mereka tidak akan pernah bisa menutupi pori-pori kebohongan yang sudah telanjang bulat di depan mata sejarah.

Di dunia politik kita, kejujuran adalah aksesoris yang terlalu mahal bagi mereka yang sudah nyaman berbusana dusta. Mereka tidak butuh ijazah untuk membuktikan kecerdasan, cukup kesetiaan buta untuk menutupi ketelanjangan.

Janganlah kita sebagai masyarakat hanya sibuk menertawakan ketelanjangan sang kaisar, sementara kita sendiri merelakan akal sehat digadaikan demi sepotong tempe.
Memilih pasrah dalam kedunguan hanya agar bisa sekedar bertahan hidup adalah cara paling tragis untuk membunuh masa depan. 

Sebab, musuh terbesar bangsa ini bukanlah mereka yang berbohong, melainkan kita yang lebih suka dibodohi berkali-kali hanya karena takut kehilangan rasa nyaman yang fana. (*)