​Tellesen Katopak: Ritualisasi Kemenangan Spiritual dan Penguatan Motivasi Religius

avatar Rio Rolis
  • URL berhasil dicopy
Warga sedang menikmati  momen tellesen katopak, individu tidak hanya merasakan kebahagiaan personal atas keberhasilan menjalankan puasa Syawal. (Foto PWI Pamekasan for JatimUPdate.id)
Warga sedang menikmati momen tellesen katopak, individu tidak hanya merasakan kebahagiaan personal atas keberhasilan menjalankan puasa Syawal. (Foto PWI Pamekasan for JatimUPdate.id)

 

Pamekasan, JatimUPdate.id  - Praktik keberagamaan tidak pernah berdiri dalam ruang hampa, melainkan senantiasa berkaitan dengan tradisi lokal yang memberi warna dan makna khas pada pengalaman religius umat. 

Salah satu tradisi yang mencerminkan integrasi tersebut adalah tellesen katopak dalam masyarakat Madura, yang dilaksanakan pada hari ketujuh bulan Syawal sebagai momentum simbolik “lebaran kedua” bagi mereka yang telah menunaikan puasa enam hari di bulan Syawal. 

Wakil Ketua KKMA Plus Keterampilan Tingkat Nasional, Dr Mohammad Holis, M.Si menegaskan bahwa tradisi ini tidak hanya merepresentasikan ekspresi kegembiraan spiritual, tetapi juga merupakan konstruksi sosial yang memperkuat kohesi komunitas dan memperdalam pengalaman keagamaan.

Dijelaskan, puasa enam hari di bulan Syawal memiliki landasan kuat dalam hadis Nabi yang menyatakan bahwa siapa yang berpuasa Ramadan kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seolah-olah berpuasa sepanjang tahun. 

“Dalam konteks ini, tellesen katopak dapat dipahami sebagai bentuk ritualisasi dari keberhasilan individu dalam melanjutkan disiplin spiritual pasca-Ramadan,” ujar Tim Penilai Buku Agama & Keagamaan Balitbang Kemenag RI itu.

Namun, tambah pria yang juga menjabat sebagai Tim Pengembang Kurikulum Madrasah Kemenag RI itu, yang menarik adalah bagaimana praktik ini tidak berhenti pada dimensi individual, melainkan berkembang menjadi fenomena kolektif yang sarat makna sosial.

Tellesen katopak, menurutnya, berfungsi sebagai mekanisme integrasi sosial. Praktik keagamaan kolektif memiliki fungsi memperkuat solidaritas sosial melalui pengalaman bersama yang bersifat sakral.

Tradisi ini menciptakan ruang perjumpaan antara individu-individu dalam komunitas, di mana mereka berbagi kebahagiaan, mempererat silaturahmi, dan memperbarui ikatan sosial. 

Dalam pandangan Kepala MAN 2 Pamekasan itu, alam masyarakat Madura yang dikenal memiliki struktur sosial yang kuat berbasis kekerabatan dan nilai-nilai religius, tellesen katopak menjadi medium yang efektif untuk menjaga kesinambungan hubungan sosial.

Tradisi ini juga mencerminkan apa yang oleh para sosiolog disebut sebagai collective effervescence, yaitu perasaan kebersamaan yang intens yang muncul dalam ritual kolektif.

Dalam momen tellesen katopak, individu tidak hanya merasakan kebahagiaan personal atas keberhasilan menjalankan puasa Syawal, tetapi juga mengalami ekstase sosial yang memperkuat identitas kolektif sebagai bagian dari komunitas Muslim Madura. 

Dengan demikian, tegasnya, tradisi ini berfungsi sebagai ruang produksi makna sosial yang memperteguh identitas keagamaan dan kultural sekaligus.

Tellesen katopak dapat dipahami sebagai bentuk emotional closure dari rangkaian ibadah Ramadhan dan Syawal. Setelah menjalani proses spiritual yang intens selama Ramadhan dan dilanjutkan dengan puasa Syawal, individu membutuhkan ruang untuk merayakan pencapaian tersebut secara emosional.

Tradisi ini menyediakan ruang tersebut, di mana kebahagiaan, rasa syukur, dan kelegaan dapat diekspresikan secara kolektif.

Hal ini penting dalam menjaga keseimbangan psikologis, karena pengalaman religius yang mendalam sering kali memerlukan bentuk ekspresi yang konkret agar dapat terinternalisasi secara utuh.

Selain itu, tellesen katopak juga memiliki dimensi psikologi sosial yang berkaitan dengan penguatan motivasi religius.

Dengan adanya pengakuan sosial terhadap mereka yang menjalankan puasa Syawal, individu akan merasa dihargai dan termotivasi untuk mempertahankan praktik keagamaan tersebut di masa mendatang.

Dalam teori psikologi, hal ini dikenal sebagai social reinforcement, di mana perilaku diperkuat melalui respon positif dari lingkungan sosial.

Dalam konteks budaya Madura, tradisi ini juga mengandung simbolisme yang kaya. Istilah katopak sendiri merujuk pada makanan khas yang disajikan dalam perayaan tersebut, yang menjadi simbol berbagi dan kebersamaan.

Makanan dalam ritual keagamaan sering kali memiliki makna lebih dari sekadar pemenuhan kebutuhan fisik; ia menjadi medium komunikasi sosial yang mempererat hubungan antarindividu.

Melalui praktik berbagi makanan, nilai-nilai solidaritas, kepedulian, dan kebersamaan ditransmisikan secara implisit.

Tellesen katopak dapat dilihat sebagai bentuk lokalisasi ajaran Islam yang adaptif terhadap konteks budaya setempat. Islam dalam hal ini tidak hadir sebagai sistem yang kaku, tetapi sebagai tradisi hidup yang mampu berinteraksi dengan budaya lokal tanpa kehilangan esensi ajarannya.

Proses ini menghasilkan bentuk keberagamaan yang khas, di mana nilai-nilai universal Islam diwujudkan dalam praktik-praktik lokal yang kontekstual.

Tradisi ini juga menghadirkan dinamika yang menarik dalam konteks modernitas. Di tengah arus globalisasi dan perubahan sosial yang cepat, praktik-praktik lokal seperti tellesen katopak menghadapi tantangan dalam mempertahankan relevansinya.

Generasi muda yang terpapar pada budaya global mungkin mulai mempertanyakan atau bahkan meninggalkan tradisi ini. Oleh karena itu, penting untuk merekonstruksi makna tradisi ini secara reflektif, agar tetap dapat dipahami dan dihargai dalam konteks kekinian.

Tellesen katopak tidak hanya dipahami sebagai tradisi, tetapi sebagai ruang dialektika antara agama, budaya, dan modernitas, ia menjadi simbol bagaimana masyarakat Madura mengartikulasikan pengalaman religius mereka dalam bentuk yang khas, sekaligus menjaga kesinambungan identitas kultural di tengah perubahan zaman.

Tellesen katopak merupakan manifestasi dari keberagamaan yang hidup, di mana dimensi spiritual, sosial, dan psikologis saling berkelindan dalam satu kesatuan yang utuh.

Ia tidak hanya merayakan keberhasilan individu dalam menjalankan ibadah, tetapi juga memperkuat jalinan sosial yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat. 

“Dalam tradisi ini, agama tidak hanya hadir sebagai sistem kepercayaan, tetapi sebagai pengalaman kolektif yang membentuk makna hidup bersama,” urainya.

Dengan demikian, tellesen katopak dapat dipahami sebagai cermin dari dinamika Islam Nusantara yang kaya dan beragam, di mana nilai-nilai universal menemukan ekspresi lokal yang autentik. 

“Ia adalah bukti bahwa dalam kebersamaan, ibadah menemukan makna yang lebih dalam, dan dalam tradisi, spiritualitas menemukan bentuknya yang paling manusiawi,” tukasnya. (rilis/rio/yh)