catatan tangan kanan wiedmust-280326

Lebaran Ketupat

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh : widodo, p.hd.

pengamat keruwetan sosial

 

 

Surabaya, JatimUPdate.id - Lebaran Ketupat ini unik. Tidak ada di kalender, tidak ada tanggal merah, tapi dirayakan serius. Bahkan kadang lebih siap daripada rencana masa depan sendiri.

Katanya ini penanda selesai puasa Syawal. Puasa enam yang pahalanya setahun penuh. Masalahnya, yang benar-benar puasa enam itu tidak seramai yang benar-benar habis ketupat.

Kita ini kadang aneh. Ibadah suka ditawar, tapi makan tidak pernah ditunda. Puasa enam hari terasa berat, tapi makan enam kali tambah terasa ringan. Bahkan ada yang belum selesai puasanya, tapi sudah sibuk cari undangan lebaran ketupat.

Ketupat, lontong, lepet, sayur, lauk lengkap. Semua hadir. Yang sering tidak hadir cuma konsistensi niat. Tapi tidak apa-apa, yang penting foto dulu.

Upload, kasih caption “melestarikan tradisi,” padahal yang dilestarikan benar-benar cuma selera makan.

Di Jawa Timur, terutama wilayah Madura, tradisi Tellasan Topak (Lebaran Ketupat) ini hidup dan meriah.

Bangkalan, Sampang, Sumenep, Pamekasan rutin menggelar festival ketupat. Suasana penuh warna, penuh kebersamaan, penuh piring juga.

Dan jangan lupa, Gresik dengan Festival Bandeng Kawak. Bandeng yang dipelihara lebih lama dari biasanya, bobotnya bisa puluhan kilo, lalu dilombakan dan dilelang. Bandengnya sabar dibesarkan bertahun-tahun, kita menahan diri enam hari saja sering goyah di hari kedua.

Tellasan Topak juga meriah di Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, sampai Jember jadi bukti tradisi ini kuat. Tapi di balik itu, ada yang pelan-pelan berubah. Tradisi masih dirayakan, tapi makna mulai ditinggalkan. Yang penting ramai, yang penting hadir, yang penting tidak ketinggalan.

Padahal esensinya sederhana. Menyempurnakan ibadah, menjaga silaturahmi, dan belajar menahan diri. Tapi setelah Ramadan, yang ditahan sering cuma pengeluaran. Itupun kadang kalah juga.

Akhirnya, Lebaran Ketupat ini bukan sekadar tentang makanan. Ini cermin kecil tentang kita. Antara niat dan kenyataan. Antara ibadah dan kebiasaan. Antara makna dan seremoni.

Tetap lestarikan budaya, iya. Tapi jangan sampai kita sibuk menjaga bentuknya, lalu lupa mengisi isinya.

Kalau tidak, yang tersisa nanti cuma ketupatnya…
dan seperti sebagian niat kita, dalamnya kosong.

catatan tangan kanan
wiedmust-280326

Opini

Kupatan

Kupatan adalah salah satu tradisi islam yang berkembang di Jawa khususnya di pesisir utara Jateng dan sebagian besar Jatim, di lokasi walisongo berdakwah.