Jadi Simbol Identitas, Kota Malang Luncurkan Busana Khas

avatar Deki Umamun Rois
  • URL berhasil dicopy
Pemkot Malang meluncurkan Pakaian Khas Kota Malang. Salah satu inspirasi utama adalah sosok Raden Ario Adipati Soerioadiningrat, Bupati Malang periode 1898–1934.
Pemkot Malang meluncurkan Pakaian Khas Kota Malang. Salah satu inspirasi utama adalah sosok Raden Ario Adipati Soerioadiningrat, Bupati Malang periode 1898–1934.

 

Malang, JatimUPdate.id — Dalam momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang, pemerintah kota secara resmi memperkenalkan busana khas daerah yang diharapkan menjadi simbol kuat identitas budaya Malang.

Peluncuran busana ini dilakukan usai apel peringatan HUT di Balai Kota Malang, pada 1 April 2026.

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menyampaikan bahwa peluncuran pakaian khas ini merupakan tonggak sejarah penting.

Desain busana menggabungkan berbagai unsur sejarah lokal, mulai dari nuansa kerajaan hingga pengaruh era kolonial Belanda.

“Hari ini adalah momen bersejarah. Busana khas Malangan ini membawa filosofi dan nilai historis yang merefleksikan perjalanan Kota Malang, mulai dari wali kota pertama di zaman Belanda hingga sekarang,” ujar Wahyu.

Penetapan busana khas ini dituangkan dalam Keputusan Wali Kota Malang Nomor 100.3.3.3/81/35.73.112/2026, menandai langkah penting karena sebelumnya Kota Malang belum memiliki busana resmi yang merepresentasikan identitas daerah.

Wahyu menegaskan bahwa busana khas Kota Malang dirancang berbeda dengan daerah tetangganya, seperti Kabupaten Malang yang berakar pada budaya kerajaan, dan Kota Batu yang lebih muda usianya.

Salah satu inspirasi utama adalah sosok Raden Ario Adipati Soerioadiningrat, Bupati Malang periode 1898–1934.

“Perpaduan antara kolonial dan tradisional ini menjadi ciri khas yang membedakan Kota Malang,” katanya.

Pemerintah Kota Malang melibatkan tokoh budaya, sejarawan, pemerhati budaya, serta pelaku industri fesyen dalam proses rancangan busana.

Di antaranya Suwarjana, Juli Handayani, Dwi Cahyono, Dr. Agus Sunandar, Dimas Novib, dan Rendra Fatrisna Kurniawan.

Secara visual, busana ini didominasi warna hitam dengan bordir emas yang elegan. Motif batik “Tugu Pecah Kopi” menggabungkan bunga teratai, ikon Tugu Malang, dan motif kawung yang terinspirasi dari biji kopi pecah, menciptakan identitas visual yang kaya makna.

Busana khas Malang hadir dalam beberapa varian yang disesuaikan dengan jenjang jabatan, mulai dari wali kota, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), aparatur sipil negara (ASN), hingga masyarakat umum.

Ke depan, busana ini akan digunakan dalam berbagai kegiatan resmi di lingkungan pemerintahan dan institusi terkait.

“Dalam berbagai upacara, kami akan menggunakan busana khas Malang ini. Bahkan anggota DPRD mulai dari ketua hingga anggota juga akan mengenakan busana ini,” tambah Wahyu.

Peluncuran busana khas Kota Malang menjadi upaya strategis pemerintah dalam menguatkan identitas budaya sekaligus mendorong pelestarian warisan lokal di tengah dinamika zaman. Busana ini bukan hanya simbol kebanggaan, tapi juga sarana memperkenalkan kekayaan budaya Malang kepada masyarakat luas, termasuk generasi muda. (dek/yh)