catatan tangan kanan _*wiedmust-020626*_
TV Lokal Berguguran, Saatnya Memikirkan Ekosistem Media Daerah
Oleh widodo, p.hd.,
pengamat keruwetan sosial
Surabaya, JatimUPdate.id -Kabar berhentinya siaran SBO TV di Surabaya pada usia yang hampir dua dekade menjadi pengingat bahwa mengelola sebuah stasiun televisi bukanlah pekerjaan yang mudah. SBO TV yang selama ini dikenal sebagai televisi lokal Jawa Timur dan bagian dari Jawa Timur Televisi (JTV) group media Jawapos, menambah daftar panjang media penyiaran yang harus berjuang menghadapi perubahan zaman.
Sebelumnya, masyarakat Indonesia juga menyaksikan sejumlah stasiun televisi yang menghilang dari layar kaca. Ada yang benar-benar tutup, ada yang berganti nama, ada pula yang bertransformasi menjadi platform digital.
Nama-nama seperti Spacetoon Indonesia, Bloomberg TV Indonesia, Gramedia TV, RIM TV, hingga berbagai televisi lokal di daerah menjadi bagian dari dinamika industri penyiaran nasional.
Fenomena ini menunjukkan bahwa televisi bukanlah industri yang sederhana. Penyiaran merupakan industri yang padat modal, padat karya, sekaligus padat ide dan kreativitas.
Untuk menghasilkan siaran setiap hari dibutuhkan investasi yang besar, mulai dari studio, pemancar, perangkat produksi, jaringan distribusi, listrik, perizinan, hingga sumber daya manusia yang bekerja hampir tanpa henti.
Di ruang redaksi dan produksi, kecepatan menjadi tuntutan utama. Berita televisi bergerak dalam hitungan detik. Setiap peristiwa harus diliput, diverifikasi, diedit, dan ditayangkan dalam waktu yang sangat singkat. Tekanan tersebut menuntut kemampuan teknis dan profesionalisme yang tinggi dari seluruh kru televisi.
Karena itu, ketika sebuah televisi lokal tutup, sesungguhnya yang hilang bukan hanya frekuensi siaran. Ada puluhan bahkan ratusan tenaga kerja yang terdampak. Wartawan, kamerawan, editor, presenter, produser, teknisi pemancar, desainer grafis, operator master control room, hingga tenaga pemasaran dan administrasi harus menghadapi ketidakpastian pekerjaan.
Padahal, SDM penyiaran Indonesia sebenarnya memiliki kemampuan yang sangat besar. Banyak pekerja televisi yang terbiasa bekerja di bawah tekanan, memahami produksi audio visual, menguasai teknik peliputan, editing video, manajemen produksi, hingga strategi komunikasi publik. Kemampuan tersebut merupakan aset yang sangat berharga di era digital.
Pertanyaannya, ke mana para pekerja televisi lokal yang terkena PHK akan pergi?
Jawabannya tidak selalu harus meninggalkan dunia media. Justru transformasi digital membuka peluang baru yang sebelumnya tidak tersedia.
Pertama, mereka dapat beralih menjadi konten kreator profesional. Pengalaman dalam produksi televisi membuat mereka memiliki keunggulan dibanding pembuat konten pemula. Mereka memahami alur produksi, teknik pengambilan gambar, penulisan naskah, hingga pengemasan cerita yang menarik.
Kedua, mereka dapat membangun media digital lokal berbasis internet. Dengan biaya yang jauh lebih rendah dibanding televisi konvensional, sebuah tim kecil kini dapat membuat kanal berita digital, televisi streaming, atau media video lokal yang menjangkau masyarakat melalui YouTube, media sosial, dan aplikasi digital.
Ketiga, mereka dapat menjadi penyedia jasa produksi konten bagi pemerintah daerah, lembaga pendidikan, perusahaan swasta, maupun UMKM yang saat ini membutuhkan konten video dalam jumlah besar untuk kebutuhan komunikasi publik.
Keempat, tenaga teknis penyiaran dapat mengembangkan layanan teknologi penyiaran digital, mulai dari streaming, podcast, televisi internet, hingga sistem distribusi konten berbasis jaringan yang saat ini semakin dibutuhkan.
Namun demikian, transformasi ini tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada pekerja media. Pemerintah daerah juga memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan ekosistem penyiaran lokal.
Televisi lokal selama ini merupakan mitra strategis pemerintah daerah dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Program pembangunan, pendidikan, kesehatan, kebencanaan, pariwisata, budaya daerah, hingga sosialisasi kebijakan publik membutuhkan media yang dekat dengan masyarakat setempat.
Karena itu pemerintah daerah dapat mengambil beberapa langkah konkret.
Pertama, menjadikan media lokal sebagai mitra utama dalam penyebarluasan informasi publik melalui kerja sama yang transparan dan profesional.
Kedua, menyediakan porsi anggaran komunikasi publik yang sehat dan proporsional bagi media lokal, bukan sekadar belanja iklan seremonial, tetapi juga untuk program edukasi masyarakat yang berkelanjutan.
Ketiga, mendorong kolaborasi antara televisi lokal, komunitas kreatif, perguruan tinggi, dan pelaku UMKM sehingga tercipta ekosistem ekonomi kreatif daerah yang saling mendukung.
Keempat, memberikan pelatihan transformasi digital bagi insan penyiaran agar mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan model bisnis media.
Pada akhirnya, tutupnya SBO TV dan berbagai televisi lokal lainnya seharusnya tidak hanya dipandang sebagai berakhirnya sebuah perusahaan media. Peristiwa ini harus menjadi momentum untuk memikirkan masa depan penyiaran daerah di Indonesia.
Sebab ketika satu per satu televisi lokal tutup, yang hilang bukan sekadar layar siaran. Yang ikut hilang adalah ruang informasi daerah, ruang kebudayaan lokal, ruang pendidikan masyarakat, dan ruang bagi talenta-talenta penyiaran Indonesia untuk berkembang.
Tantangan terbesar hari ini bukan sekadar mempertahankan televisi seperti dahulu, melainkan bagaimana mengubah kekuatan SDM penyiaran yang sudah terlatih menjadi motor penggerak media digital daerah yang lebih adaptif, lebih efisien, dan tetap mampu melayani kepentingan publik.
Editor : Redaksi