“Jangan Buang Ibu” Angkat Kisah Perjuangan Single Mom, Siap Menguras Air Mata Penonton Mulai 25 Juni

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
para pemain film Jangan Buang Ibu saat menggelar konferensi pers di Surabaya
para pemain film Jangan Buang Ibu saat menggelar konferensi pers di Surabaya

Surabaya, JatimUPdate.id – Industri perfilman Indonesia kembali menghadirkan drama keluarga yang sarat emosi melalui film Jangan Buang Ibu. Film produksi LEO Pictures tersebut resmi diperkenalkan kepada publik dalam acara konferensi pers yang digelar di Higa kafe di kawasan Surabaya Barat, Kamis (18/6).

Disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu dan diproduseri Agung Saputra, film berdurasi 119 menit ini diadaptasi dari novel populer Jangan Buang Ibu, Nak karya Wahyu Derapriyangga yang terbit pada 2014. Deretan pemain ternama turut memperkuat film ini, di antaranya Nirina Zubir, Refal Hady, Amanda Manopo, Saputra Kori, Basmalah Gralind, hingga Dwi Sasono.

Film tersebut dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 25 Juni 2026.

Mengusung tema keluarga yang dekat dengan kehidupan masyarakat, Jangan Buang Ibu mengisahkan perjuangan seorang ibu tunggal bernama Ristyana yang mengabdikan hidupnya untuk membesarkan ketiga anaknya seorang diri. Namun ketika anak-anaknya telah tumbuh dewasa dan meraih kesuksesan, sang ibu justru menghadapi kenyataan pahit ketika harus menjalani masa tua dalam kesendirian hingga dititipkan ke panti jompo.

Cerita berkembang melalui berbagai konflik batin dan dinamika hubungan keluarga yang memperlihatkan bagaimana situasi kehidupan dapat memengaruhi keputusan-keputusan sulit dalam sebuah keluarga.

Pemeran utama Nirina Zubir mengungkapkan bahwa film ini merupakan representasi dari perjuangan banyak ibu tunggal di Indonesia yang rela mengorbankan segalanya demi masa depan anak-anak mereka.

“Film ini mewakili ibu-ibu single mom di luar sana yang berjuang memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tidak ada tokoh yang benar-benar jahat dalam cerita ini. Semua terjadi karena situasi yang memaksa setiap karakter mengambil keputusan yang sebenarnya tidak mereka inginkan,” ujarnya.

Menurut Nirina, kekuatan utama film ini terletak pada pesan tentang pentingnya menjaga dan memperjuangkan hubungan keluarga sebelum terlambat.

“Selama kita masih diberi waktu dan kesempatan, masih banyak hal yang bisa diperjuangkan. Salah satunya hubungan dalam keluarga. Hubungan itu tidak terjadi begitu saja, tetapi harus terus dirawat dan diperjuangkan,” katanya.

Sementara itu, Produser LEO Pictures Agung Saputra menjelaskan alasan pihaknya kembali mengangkat tema keluarga dalam proyek terbarunya. Menurutnya, cerita tentang keluarga selalu memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat Indonesia.

“Keluarga adalah tema yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kami ingin menghadirkan cerita yang relevan sehingga penonton merasa terhubung dengan apa yang mereka lihat di layar. Harapannya, film ini bisa dinikmati bersama keluarga,” ujar Agung.

Tak hanya mendapat dukungan dari industri perfilman, film ini juga menggandeng sponsor dari sektor swasta. Perwakilan dari PT Sun Paper Source produsen Tissue Montiss, William Yaury, mengaku tertarik mendukung film tersebut karena pesan moral yang diangkat dinilai sangat kuat dan relevan dengan kondisi sosial saat ini.

“Ini pengalaman pertama kami mendukung film nasional. Kami melihat perjuangan seorang ibu adalah sesuatu yang patut dihargai dan film ini mampu menggambarkan hal tersebut dengan sangat menyentuh,” katanya.

Ia menambahkan, selain mendukung karya anak bangsa, kolaborasi ini juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap merek yang mereka usung.

“Harapannya tentu brand kami semakin dikenal. Apalagi film ini penuh adegan emosional yang mungkin membuat penonton meneteskan air mata,” ujarnya sambil berkelakar.

Dengan mengangkat isu yang dekat dengan realitas kehidupan, Jangan Buang Ibu diharapkan tidak hanya menjadi tontonan hiburan, tetapi juga pengingat akan pentingnya menghargai pengorbanan orang tua serta menjaga ikatan kasih sayang dalam keluarga. Film ini berpotensi menjadi salah satu drama keluarga yang menyentuh hati penonton Indonesia pada pertengahan tahun 2026.(DPR)